{"id":191453,"date":"2022-10-05T12:42:21","date_gmt":"2022-10-05T05:42:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=191453"},"modified":"2022-10-05T12:42:21","modified_gmt":"2022-10-05T05:42:21","slug":"menyatukan-air-mata-untuk-tragedi-kanjuruhan-memeluk-rival-menyudahi-pertikaian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyatukan-air-mata-untuk-tragedi-kanjuruhan-memeluk-rival-menyudahi-pertikaian\/","title":{"rendered":"Menyatukan Air Mata untuk Tragedi Kanjuruhan, Memeluk Rival Menyudahi Pertikaian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selasa (4\/10) sekitar pukul 17.00, saya sampai di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mataram-is-love-menyambut-sejuk-persaudaraan-fans-psim-pss-dan-persis-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stadion Mandala Krida<\/a>. Beberapa suporter terlihat meriung di beberapa titik. Mereka sama-sama menunggu momen bersejarah itu. Ketika air mata anak kandung Bumi Mataram disatukan untuk menyeka Tragedi Kanjuruhan. Ketika nuansa damai di antara suporter mulai terbentuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya langsung menuju tempat parkir di selatan Wisma PSIM. Di sana, saudara saya sudah menggelar lapak parkir untuk suporter yang akan mengikuti salat ghaib di Stadion Mandala Krida. Pertemuan dengan saudara sepupu ini membangkitkan kenangan lama, ketika saya masih bocah dan ikut menjadi tukang parkir di laga-laga kandang PSIM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira 10 menit kemudian, suasana yang sebelumnya lengang, langsung berubah 180 derajat. Beberapa suporter dari Sleman fans mulai datang. Mereka ikut memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang dipakai oleh suporter PSIM. Saat itu, rombongan besar dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pembagian-tribun-di-stadion-maguwoharjo-markas-pss-sleman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sleman<\/a> belum sampai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBapakmu ora melu?\u201d Tanya saudara saya sambil mengarahkan suporter menuju tempat parkir yang masih lega.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOra, jare bapakku, sing enom sing kudu ning ngarep. Sing tuwo kirim doa,\u201d jawab saya sambil membakar satu batang rokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami berdua sama-sama sadar bahwa sore itu, memang didominasi suporter muda. Bapak-bapak dan om-om suporter lama, asyik menonton dari tepi jalan. Mungkin mereka sedang asyik bernostalgia. Suporter muda, yang bersepakat untuk meriung bersama mendoakan korban Tragedi Kanjuruhan yang akan mencetak sejarah baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami tidak lama mengobrol karena dia semakin sibuk mengarahkan kendaraan untuk parkir. Sementara itu, saya sudah ditunggu kawan lama, teman SMA, yang akrab disapa Ayah Nawang oleh suporter lain. Kami janjian ketemu di bawah gapura pintu masuk Stadion Mandala Krida.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru sebentar berjalan, ternyata kami berpapasan di dekat pintu masuk. Mas Nawang siap menemani saya selama acara doa untuk Tragedi Kanjuruhan berlangsung. Padahal, dia menjadi panitia konsumsi untuk suporter yang datang. Malam itu, Brajamusti dan The Maident menyediakan konsumsi gratis sebagai jamuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar pukul 17.45, dari arah utara, terdengar rombongan besar sepeda motor mendekat. Sedetik kemudian, chant indah dari suporter terdengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi sini Sleman, di sana Jogja, di mana-mana kita saudara!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sigap saya merogoh hape dari saku dan mengabadikan momen bersejarah ini. Ketika suporter PSS Sleman dan PSIM Jogja sahut-menyahut chant. Bukan dengan lirik yang berbahaya dan mengancam, tapi lantunan lagu persaudaraan yang sudah lama sekali menghilang dari telinga anak-anak kandung Bumi Mataram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sembari merekam momen indah itu, dada saya tiba-tiba menjadi dingin. Penuh sesak suporter yang seharusnya terasa pengap dan panas, berubah menjadi sejuk tak terperi. Rasa haru langsung membuncah. Malam itu, di depan gerbang Stadion Mandala Krida, air mata saya menetes. Mimpi yang lama terpendam, akhirnya terwujud juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sahut-menyahut chat dari suporter itu berlangsung cukup lama. Sampai saya dan Mas Nawang sudah masuk ke stadion dan jam menunjukkan pukul 18.15. Di dalam, sudah banyak suporter yang datang. Di pojok timur, sayup-sayup mulai terdengar nyanyian khas suporter kreatif dalam wadah bernama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perihal-8-tuntutan-bcs-apa-perlu-rekrut-kojiro-hyuga-dulu-baru-diperhatikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Brigata Curva Sud<\/a> (BCS).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBianco verde ale. Bianco verde ale. Bianco, Bianco, Bianco, Bianco Verde ale!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Chat itu ditimpa oleh tepuk tangan membahana dari suporter yang baru masuk ke halaman parkir barat Stadion Mandala Krida.<\/span><\/p>\n<p>Menyusul kemudian chant &#8220;Di sini Solo, di sana Jogja. Di mana-mana kita saudara.&#8221; Lagu merdu yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Merinding.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar pukul 18.40, suporter sudah bergabung di depan panggung untuk melaksanakan salat Isya. Ustaz Salim a Filah yang menjadi imam. Ada yang membawa sajadah dari rumah, ada yang memakai alas seadanya. Salat Isya berjemaah malam itu berjalan khusyuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum menggelar <a href=\"https:\/\/asumsi.co\/post\/71223\/ribuan-suporter-sepak-bola-se-pulau-jawa-sepakat-damai-di-yogyakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">salat Ghaib<\/a> untuk korban Tragedi Kanjuruhan, beberapa tokoh suporter bergantian berbicara kepada suporter. Salah satunya Ustaz Salim a Fillah yang memberikan sebuah pandangan, yang menurut saya sangat tepat sasaran di momen doa untuk Tragedi Kanjuruhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, Ustaz Salim berpesan bahwa setelah momen damai ini terjadi, suporter tidak boleh lupa untuk meningkatkan kualitas diri. Bagi saya pribadi, ini sebuah pengingat yang istimewa. Niat luhur untuk bersatu itu luar biasa. Selanjutnya adalah usaha keras untuk menjaga perdamaian untuk tetap lestari. Jika kualitas diri suporter, pada akhirnya, klub dan budaya sepak bola yang akan menikmatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wejangan dari Ustaz Salim a Fillah itu menjadi sangat mengena karena mereka yang hadir di Stadion Mandala Krida bukan terbatas suporter Jogja, Solo, dan Sleman. Hadir pula perwakilan suporter dari Bantul, Semarang, Magelang, Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung, Makassar, sampai Medan. Gaung perdamaian adalah ciri khas manusia berkualitas dan malam-malam haru di tengah doa untuk Tragedi Kanjuruhan jadi semakin terasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Syauqi Soeratno, Ketua Umum Asprov PSSI DIY menegaskan bahwa kesepakatan damai suporter ini pasti akan membuka lembaran baru bagi sepak bola Indonesia. Khususnya demi arah yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSemoga malam ini menjadi titik tolak untuk bangkit menjadi lebih baik ke depan. Semoga piala dunia tidak dipindahkan dari Indonesia, semoga timnas kita terus berjaya sehingga masuk Piala Dunia, dan semoga sepak bola Indonesia kelak menjadi referensi sepak bola dunia,\u201d kata Syauqi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kumandang \u201cAmin\u201d terdengar dari segala penjuru Stadion Mandala Krida.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acara bersejarah itu ditutup dengan penyalaan lilin. Beberapa orang yang tidak membawa lilin kompak menyalakan cahaya dari gawai masing-masing. Lautan cahaya mengiringi doa-doa terbaik untuk korban Tragedi Kanjuruhan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_191458\" aria-describedby=\"caption-attachment-191458\" style=\"width: 2560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-191458 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-scaled.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1919\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-scaled.jpeg 2560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-300x225.jpeg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-1024x767.jpeg 1024w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-768x576.jpeg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-1536x1151.jpeg 1536w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-2048x1535.jpeg 2048w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-750x562.jpeg 750w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/DJI_0102-1140x854.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-191458\" class=\"wp-caption-text\">Lautan cahaya mengiringi doa untuk korban Tragedi Kanjuruhan (Foto milik: @Dicki66)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lautan cahaya itu juga mengiringi lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan bersama-sama. Koor dari suporter Jogja, Sleman, Solo, Bantul, Malang, Surabaya, Semarang, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sirup-dht-sirup-legendaris-yang-jadi-bestie-nya-kuliner-makassar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Makassar<\/a>, Magelang, dan Makassar membuat malam itu menjadi sangat magis. Rasa lega, haru, sedih, bahagia, cemas, marah campur aduk menjadi satu. Antara kemarahan dan kesedihan tidak terperi setelah Tragedi Kanjuruhan, bercampur dengan rasa bahagia dan sukacita melihat perdamaian anak-anak kandung Bumi Mataram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak terasa, sekali lagi, air mata membasahi pipi melihat lautan cahaya dan koor para suporter. Saya tidak ingin malam itu berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksi damai dari suporter Jogja, Solo, dan Sleman ini akan selamanya membekas dalam sejarah. Menjadi titik balik dari segala permusuhan yang sudah diwariskan selama beberapa dekade. Kini, saatnya berbagi kebahagiaan ini ke segala penjuru daerah di tlatah Mataram. Supaya mereka yang belum terpapar dengan ikrar damai atau ragu, menjadi lega dan percaya bahwa bergandengan tangan itu jauh lebih indah ketimbang adu pukul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum pulang, melihat para suporter saling berbalas chant, saya teringat kata-kata bapak saya. Kini, saatnya yang muda yang mengambil panggung. Mengawali perdamaian dan membuat sepak bola Indonesia menjadi lebih ceria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terima kasih kawan-kawan suporter. Semoga perdamaian ini lestari sampai akhir zaman. Kini, saatnya menyatukan kreativitas dan segala daya untuk mendukung gerakan #UsutTuntasTragediKanjuruhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesaksian-suporter-malam-mencekam-di-kanjuruhan-dan-saya-yang-gagal-menjadi-manusia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kesaksian Suporter: Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saatnya menyatukan kreativitas dan segala daya untuk mendukung gerakan #UsutTuntasTragediKanjuruhan.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":191457,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,17169,17165,8736,8737,15819,7235,2284,17156],"class_list":["post-191453","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-mandala-krida","tag-mataram-islah","tag-persis-solo","tag-psim","tag-pss","tag-sleman","tag-solo","tag-tragedi-kanjuruhan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191453","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=191453"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191453\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/191457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=191453"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=191453"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=191453"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}