{"id":190889,"date":"2022-09-28T10:56:48","date_gmt":"2022-09-28T03:56:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190889"},"modified":"2022-09-28T10:56:48","modified_gmt":"2022-09-28T03:56:48","slug":"bupati-sumenep-maju-jadi-wagub-jatim-2024-benahi-dulu-sumenep-baru-mikir-yang-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bupati-sumenep-maju-jadi-wagub-jatim-2024-benahi-dulu-sumenep-baru-mikir-yang-lain\/","title":{"rendered":"Bupati Sumenep Maju Jadi Wagub Jatim 2024: Benahi Dulu Sumenep, Baru Mikir yang Lain!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, kini sedang kencang-kencangnya diisukan maju jadi Wakil Gubernur Jawa Timur di Pilkada 2024 mendatang. Tapi, isu tersebut tak kunjung diklarifikasi oleh Pak Fauzi. Jika benar, sebaiknya Pak Fauzi cepat bersuara, bahwa dirinya memang betul mau mencalonkan diri untuk jadi Wagub Jatim. Tapi, alangkah lebih tepatnya jika Bapak tidak melulu mikir untuk jadi Wagub Jatim dulu. Pikir dan bereskan dulu permasalahan yang ada di Sumenep.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bapak selaku bupati dan wakilnya yang punya slogan &#8220;Bismillah Melayani&#8221;, seharusnya betul-betul melayani. Minimal ya, melayani problematika yang terjadi di Sumenep. Paling tidak dari (yang mungkin Bapak anggap ini) masalah kecil. Bansos, misalkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Tentang bansos<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di salah satu desa yang ada di Kecamatan Pasongsongan pada Maret yang lalu, masyarakat menerima bantuan BLT\u2013KPM terpaksa dengan ikhlas (kalau ikhlas). Sebab, bantuan yang semestinya diberikan dalam bentuk uang, masih ada sembako: telur dan beras. Harusnya penerima BLT-KPM mendapat uang 600 ribu. Tapi, hanya dikasih uang 300 ribu. Katanya, 300-nya dibagi dalam bentuk barang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tanya ke teman desa sebelah yang sama-sama tinggal di Kecamatan Pasongsongan, jawabannya sama. Saya kok pikirannya jadi ke mana-mana. Salah satunya, saya berasumsi ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-pun-alasannya-penilapan-duit-bansos-itu-nggak-bisa-dibenarkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kongkalikong<\/a> di Pasongsongan. Sebab, di salah satu desa yang ada di Kecamatan Rubaru, tidak demikian. Semua penerima Bansos BLT-KPM, menerima dalam bentuk uang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan ini (September) pun begitu, sama. Penerima KPM masih ada telur dan berasnya. Berarti, uang yang 600 ribu tidak dibagi dalam bentuk uang yang utuh. Ya jadilah KPM alias Keluarga Kecil Penerima Mudarat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Bupati Sumenep turun ke lapangan saja. Evaluasi ini dulu. Kalau tidak mau turun lapangan, yaaa setidaknya beri instruksi ke bawahannya lah. Memang nggak harus turun ke lapangan sih, Pak, micromanaging itu namanya. Tapi ya kudu gerak juga ngasih komando.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke. Itu yang mungkin menurut Bapak masalah gampang diatasi. Mari beralih ke masalah yang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Tambak udang di Sumenep<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada masalah serius terkait pantai Sumenep. Ini ironis, mengingat harusnya laut jadi sahabat terbaik Sumenep. Ini semua karena tambak udang di mana-mana, yang bikin bau busuk menyeruak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum, Madura tidak punya banyak hutan. Artinya, hutan jelas tidak banyak menyumbang hasil sumber daya alam. Satu-satunya yang bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan oleh petani di pesisir, ya laut. Hanya saja, benang merahnya adalah seperti kondisi maritim secara umum. Laut Madura, Sumenep bagian Pantai Utara mulai tidak baik-baik saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tambak udang adalah sumber penghidupan beberapa orang, itu benar. Tapi permasalahnnya, efek negatif sepertinya tak dipikirkan secara matang. Efek dominonya terasa, masyarakat yang hidup di pinggir laut terganggu. Falsafah orang Madura &#8220;tangkap ikannya jangan keruhkan airnya&#8221;, kini hanya ilusi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada komentar menarik dari Wakil Ketua PCNU Sumenep, sekaligus orang ternama di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep, Kiai A. Dardiri Zubairi:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Inilah kabupaten yang nyaris pesisirnya habis selama lebih kurang 6 tahun. Dengan bangga campur ngeri\u00a0 harus saya katakan, bener kabupaten kami memiliki 138 pulau, tapi keluarga nelayan kecil sudah tak leluasa memanfaatkan sumber kehidupan pesisir. Pesisir sudah nyaris sempurna dialihfungsikan,&#8221; ujar penulis buku <em>Wajah Islam Madura<\/em> itu. <\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: none; overflow: hidden;\" src=\"https:\/\/www.facebook.com\/plugins\/post.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fdardirizubairi%2Fposts%2Fpfbid0YjkxUv47evVp6PViY6VCdShQN3X21kzdrWaNRes9xSJmhNu5qPr8xnyKJRGVT7Ljl&amp;show_text=true&amp;width=500\" width=\"500\" height=\"640\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Fauzi, gimana ini?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Penambangan bukit kapur ilegal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumenep dan Madura sedang dihajar tambang bukit kapur, dan ini jelas bukan masalah sepele. Sebab, kerusakan alam yang ada memengaruhi kehidupan para orang yang hidup di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika terus dikeruk, air akan menghilang. Jika air tidak ada, apa yang bisa kita harapkan untuk hidup? Bagaimana para petani bisa bertahan hidup? Padahal rakyat Madura itu kebanyakan petani. Bagaimana mau bertani kalau airnya aja nggak ada?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana ini, Pak Fauzi?\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Penggundulan hutan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal hutan dibabat di Sumenep dan Madura, ini sudah jadi rahasia umum. Dan masalah ini, sepertinya luput dari pengawasan Pak Bupati Sumenep, untuk tidak mengatakan tidak peduli. Saya nggak mau mengatakan apa <a href=\"https:\/\/pusatkrisis.kemkes.go.id\/dampak-buruk-akibat-kerusakan-hutan-bagi-kehidupan#:~:text=Dampak%20Akibat%20Kerusakan%20hutan&amp;text=Akibatnya%20adalah%20kualitas%20oksigen%20akan%20menurun.&amp;text=Semakin%20maraknya%20penebangan%20liar%20akan,akan%20mampu%20menyerap%20air%20hujan.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">efek buruk penggundulan hutan<\/a>. Hal kayak gini, anak SD saja tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, bagaimana bisa, Pak Bupati Sumenep kepikiran maju jadi Wagub, kalau daerahnya sendiri saja masalah seakan tak selesai? Masalah-masalah yang saya jabarkan, menurut saya, itu adalah masalah yang wajib diselesaikan. Realitasnya sih, berkata sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Pengasuh Ponpes Annuqayah Sumenep, Madura, Kiai M. Faizi, jika manusia ingin dikenang dan diingat masyarakat setelah mati, pilihannya ada tiga. Pertama, berbuat baik dan menopang manusia secara langsung, atau menjadi air. Kedua, merusak ibu kehidupan, yaitu air. Ketiga, berbuatlah sesukamu, jika memang tak ingin dikenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Pak Bupati Sumenep mau dikenang seperti apa?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Zubairi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-cinta-untuk-walikota-pak-malang-macet-jangan-urus-michat-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surat Cinta untuk Wali Kota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Skala prioritasnya dibenahi, Pak!<\/p>\n","protected":false},"author":1367,"featured_media":190920,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12401,2501,5324,16880],"class_list":["post-190889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bupati","tag-jawa-timur","tag-pilkada","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1367"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190889"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190889\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}