{"id":190786,"date":"2022-09-26T15:04:04","date_gmt":"2022-09-26T08:04:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190786"},"modified":"2022-09-26T15:04:04","modified_gmt":"2022-09-26T08:04:04","slug":"menghitung-40-100-dan-1000-hari-meninggalnya-ratu-elizabeth-ii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-40-100-dan-1000-hari-meninggalnya-ratu-elizabeth-ii\/","title":{"rendered":"Menghitung 40, 100, dan 1000 Hari Meninggalnya Ratu Elizabeth II"},"content":{"rendered":"<p><em>Saya telah menghitung kapan peringatan 40, 100, dan 1000 hari meninggalnya Ratu Elizabeth II. Ini bisa juga kalian jadikan patokan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pangeran Williams sedang sibuk scroll-scroll akun sewa tenda dan gebyok. Di sampingnya, Mbak Kate juga sibuk memilih foto almarhumah Ratu Elizabeth II untuk sampul buku yasin. Mereka berdua tengah sibuk mempersiapkan peringatan 40 hari kematian sang nenek. Di ruang lain, Raja Charles III sibuk menelepon mbah kaum setempat, \u201cJadi 40 harinya Ibuk itu hari apa nggih, Mbah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenario di atas jelas fiksi. Namun, menarik juga untuk membayangkan bagaimana para <span style=\"text-decoration: line-through;\">penjajah separuh dunia <\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">monarki Inggris ini mempersiapkan peringatan almarhumah Ratu Elizabeth II. Namun, sebelum membayangkan Raja Charles III memberi sambutan dengan bahasa Jawa, mari kita pahami asal mula peringatan jenazah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kultur Jawa, kematian punya tempat yang istimewa. Tidak hanya mengenang kehidupan sang layon (orang yang meninggal), namun juga memeringati bersatunya layon dengan bumi. Dari 3 hari sampai 1000 hari, ada proses dekomposisi yang dianggap mulia oleh orang Jawa. Proses yang dipadukan dengan kosmologi Jawa ini akan coba saya jelaskan sedikit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga hari dimaknai sebagai nafsu yang telah sempurna mati pada diri manusia. Tujuh hari menyempurnakan terurainya kulit dan rambut jenazah. Lalu, 40 hari akan menyempurnakan \u201ctitipan\u201d dari orang tua jenazah berupa darah, daging, sumsum, tulang, dan otot. 100 hari akan menyempurnakan badan atau jasad.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah jenazah terurai, satu tahun pasca kematian diperingati sebagai medhak\/mendhak sepisan. Ini memperingati sempurnanya kulit, daging, dan isi perut terurai. Medhak pindho diperingati setelah dua tahun, ketika seluruh tubuh terurai sempurna kecuali tulang. Medhak ini juga memeringati tanah makam yang \u201cturun\u201d alias memadat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir adalah peringatan 1000 hari. Peringatan ini dimaknai sebagai sempurnanya seluruh tubuh terurai. Termasuk aroma dan \u201crasa\u201d jenazah. Pada hari ke-1000, jenazah dianggap telah kembali menjadi tanah. Di atas makam akan dipasang batu nisan untuk menandai makam, karena pada hari tersebut, tanah makam telah kokoh untuk didirikan nisan. Biasanya, yang berhak (dan wajib) mendirikan batu nisan adalah anak pertama yang telah mantu alias menikahkan anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, King Charles sedang sibuk membuka OLX dan mencari \u201cnisan marmer murah garansi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akulturasi agama yang datang ke Indonesia tetap membawa budaya peringatan ini. Saya sendiri baru saja memeringati 100 hari meninggalnya eyang. Dan yang susah dari peringatan ini (selain pasang tenda dan menyiapkan makanan) adalah menghitung kapan hari peringatan ini jatuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penanggalan Jawa dan Hijriyah menggunakan sistem penanggalan bulan. Tentu ini berbeda dengan model penanggalan Masehi yang berdasarkan matahari. Jumlah hari dalam satu tahun kalender Jawa lebih sedikit daripada kalender Masehi. Ini mengakibatkan ada pergeseran tanggal. Anda tidak bisa semudah menghitung 40 hari meninggal hanya menggunakan sistem tambah tanggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghitung 40 sampai 1000 hari meninggalnya Ratu Elizabeth, saya dibantu Mbah Jendra. Sebenarnya Mbah Jendra ini lebih muda dari saya. Tapi kebijaksanaan tentang kosmologi Jawa membuat saya menghormati blio sebagai \u201cmbah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ratu Elizabeth meninggal pada 8 September 2022. Perkara jam meninggalnya pun harus diperhitungkan. Karena pergantian hari dalam kalender Jawa adalah waktu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bedhug mahgrib <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">alias senja menuju malam. Kira-kira pukul 6 sore. Apabila Ratu Elizabeth II meninggal pada pukul 8 malam, maka tanggal meninggalnya adalah 9 September 2022.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun bingung dengan simpang siur informasi. Kabar meninggalnya Ratu Elizabeth II disampaikan secara resmi pada 18.30 waktu Inggris. Namun sesuai protokol, pernyataan resmi ini disampaikan beberapa jam setelah sang monarki ini meninggal.. \u201cJika ikut pemberitahuan, maka meninggalnya dihitung Jum\u2019at Pon. Tapi kalau ternyata meninggal sebelum jam itu, berarti masih di hari yang sama Kamis Pahing,\u201d ujar Mbah Jendra. Sialnya, jam kematian Ratu Elizabeth II tidak diumumkan secara resmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung Wikipedia memberi informasi detail tentang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kematian_dan_pemakaman_kenegaraan_Elizabeth_II\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kematian<\/a> Ratu Elizabeth II. Sang ratu dinyatakan meninggal oleh dokter kerajaan pada pukul 16.30. \u201cBerarti ini tetap dihitung meninggal pada tanggal yang sama,\u201d ujar Mbah Jendra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghitung jatuhnya hari peringatan, Anda butuh kalender Jawa. Sekarang kalender ini mudah ditemui di internet. Kedua, Anda perlu mengingat urutan hari Jawa. Dalam satu minggu, ada 5 hari yang biasa disebut pasaran: <\/span><b>Pahing-Pon-Wage-Kliwon-Legi\/Umanis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Urutan ini jangan sampai salah, karena menentukan perhitungan hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu ada rumus menghitung hari peringatan ini. Setiap peringatan akan memiliki rumus berbeda. Njelimet sih, tapi bisa Anda coba untuk membiasakan diri. Rumus menghitung hari kematian adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">7 hari: hari masehi ke-7 dan pasaran kedua dari hari kematian<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">40 hari: hari masehi ke-5 dan pasaran ke-5 dari hari kematian.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">100 hari: hari masehi kedua dan pasaran ke-5 dari hari kematian<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Medhak 1: hari masehi ke-4 dan pasaran ke-4, setahun setelah hari kematian<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Medhak 2: hari masehi pertama dan pasaran ke-3, 2 tahun setelah hari kematian<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">1000 hari: hari masehi ke-6 dan pasaran ke-5, 3 tahun setelah hari kematian<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Njlimet kan? Mari kita praktikkan perhitungan ini berdasar kematian Ratu Elizabeth II.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ratu Elizabeth II meninggal pada Kamis Pahing. Maka untuk mengetahui kapan 40 harinya jatuh pada hari masehi ke-5 dan pasaran ke 5. Maka tinggal dibuat deret Kamis-Jum\u2019at-Sabtu-Minggu-<\/span><b>Senin<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Lalu untuk pasarannya adalah Pahing-Pon-Wage-Kliwon-<\/span><b>Legi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Maka hari peringatan 40 hari ini jatuh pada hari Senin Legi setelah hari kematian. Tepatnya tanggal 17 Oktober 2022.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk peringatan 100 hari Ratu Elizabeth II, maka pakai rumus hari masehi kedua dan pasaran ke-5 dari hari kematian. Kembali pakai deret masehi Kamis-<\/span><b>Jum\u2019at<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dan Pahing-Pon-Wage-Kliwon-<\/span><b>Legi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Peringatan akan jatuh pada Jum\u2019at Legi 16 Desember 2022.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan metode di atas, kita bisa mengetahui kapan jatuhnya peringatan meninggalnya Ratu Elizabeth II. Setahun alias Medhak kapisan akan jatuh pada 27 Agustus 2023. Medhak kapindo akan jatuh pada 15 Agustus 2024. Dan 1000 hari meninggalnya Ratu Elizabeth II jatuh pada 4 Juni 2025.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena pergantian hari Jawa terjadi pada saat maghrib, biasanya peringatan maupun tahlilan dilakukan pada malam sebelum tanggal tersebut. Jadi peringatan 40 hari meninggalnya Ratu Elizabeth bisa dilakukan pada 17 Oktober 2022 malam. Paginya, keluarga bisa melakukan tabur bunga serta bakti ke makam sang monarki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Mbak Kate bisa pesan katering untuk tahlilan seminggu sebelum acara, atau tanggal 10 Oktober 2022. Raja Charles III bisa memesan kijing di awal tahun 2025. Dan Mas Harry bisa cari tiket Amerika-Inggris jauh-jauh hari biar dapat diskon.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berpesta-dan-berduka-di-kematian-ratu-elizabeth-ii\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Berpesta dan Berduka di Kematian Ratu Elizabeth II<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah dapat kabar dari Mbah Kaum?<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":190787,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[17078,17079,17077,3808,17076,9861],"class_list":["post-190786","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-100-hari","tag-1000-hari","tag-40-hari","tag-kematian","tag-menghitung-hari","tag-ratu-elizabeth"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190786"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190786\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190787"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}