{"id":190712,"date":"2022-09-25T15:30:09","date_gmt":"2022-09-25T08:30:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190712"},"modified":"2022-09-25T15:30:09","modified_gmt":"2022-09-25T08:30:09","slug":"sisi-gelap-kota-bandung-yang-sudah-jadi-rahasia-umum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-kota-bandung-yang-sudah-jadi-rahasia-umum\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Kota Bandung yang Sudah Jadi Rahasia Umum"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, izinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun buat Kota Bandung yang ke-212. Semoga di usia yang semakin matang ini, Kota Bandung jadi kota yang maju, ramah lingkungan, juga ramah terhadap warganya. Di usia yang lebih dari dua abad ini, sudah banyak pencapaian dan prestasi yang diraih. Ini tentunya perlu diapresiasi dan saya sebagai warga ikut bangga dengan pencapaian itu. Apalagi saat ini Kota Bandung sudah menjadi ikon pariwisata di Indonesia dengan kekayaan alam, kuliner, fesyen, seni, dan industri kreatif lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, nggak bisa dimungkiri bahwa di balik pencapaian yang prestatif itu, kota ini masih punya sisi gelap. Sisi gelap yang mungkin sudah jadi rahasia umum bagi warganya sendiri, tapi belum diketahui oleh para pendatang atau warga luar Kota Bandung. Kira-kira apa saja sih sisi gelapnya? Kurang lebih seperti inilah kondisinya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Macet<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Kota Bandung memiliki jumlah penduduk lebih dari 2,4 juta jiwa dengan kepadatan penduduk sekitar 14 ribu jiwa per kilometer persegi. Dengan jumlah penduduk sepadat ini, bisa dipastikan ruas jalan di Kota Bandung selalu macet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemacetan yang membagongkan ini nggak cuma terjadi saat akhir pekan saja, tetapi juga saat hari biasa. Bahkan, kemacetan terjadi di hampir semua ruas jalan, khususnya ketika jam-jam masuk kerja dan pulang kerja. Kalau kondisi terus seperti ini, bisa jadi indeks kebahagiaan Kota Bandung turun drastis karena stres dengan kemacetan di jalan raya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Banjir<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisi gelap yang lainnya adalah banjir. Memang sih, banjir itu terjadi ketika sudah masuk musim penghujan. Akan tetapi, saat ini titik-titik banjir sudah semakin meluas. Kalau dulu, banjir biasanya terjadi di wilayah pinggiran dan perbatasan Kota Bandung seperti Jl. Cibaduyut atau Jl. Kopo. Sekarang, banjir sudah merambah ke perkotaan seperti di Jl. AH. Nasution dan sekitaran Antapani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa bisa seperti itu? Ya bisa jadi karena banyak pembangunan pemukiman baru atau pembangunan jalan layang di mana-mana. Bisa juga karena kurangnya kesadaran warga Kota Bandung\u2014termasuk saya\u2014untuk membuang sampah pada tempatnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Anak jalanan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu lagi jalan di sekitaran Kota Bandung, coba deh perhatikan apa yang kamu lihat di setiap perempatan jalan, tepatnya di lampu merah. Selain banyak musisi jalanan yang kreatif, ada juga\u2014ini yang sangat disayangkan\u2014anak jalanan yang mengemis dan meminta-minta ke pengendara jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya permasalahan anak jalanan ini sempat diselesaikan oleh walikota sebelumnya. Mereka ditampung oleh pemerintah dan diberdayakan sebagai petugas kebersihan atau pekerja bidang lainnya. Tapi, akhir-akhir ini anak-anak jalanan mulai muncul lagi di setiap perempatan jalan. Kehadiran mereka tentunya bisa memberikan stigma negatif kepada pemerintah Kota Bandung itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Sampah visual<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisi gelap yang satu ini sebetulnya nggak berdampak langsung sih, tapi ya cukup mengganggu pemandangan kota. Kota Bandung yang katanya indah, asri, dan sedap dipandang mata itu nyatanya terkesan semrawut akibat banyaknya sampah visual. Ada banyak baliho, spanduk, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Papan_merek_digital\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">videotron<\/a> bertebaran di mana-mana. Coba deh kamu jalan-jalan di sepanjang Jl. Soekarno\u2013Hatta, Jl. Achmad Yani, Jl. AH. Nasution, Jl. Gatot Subroto, atau Jl. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-dago-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dago<\/a> sekalipun. Kamu akan menyaksikan berbagai konten, mulai dari iklan produk sampai kampanye para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-alasan-kenapa-baliho-pemerintah-selalu-pakai-foto-pejabat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">politisi<\/a> yang narsisnya naudzubillah.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Penerangan jalan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, ini adalah sisi gelap Kota Bandung yang benar-benar gelap. Maksudnya, jalanan Kota Bandung yang gelap saat malam hari tiba. Lampu penerangannya ada, tapi cahayanya itu yang kurang mendukung keamanan di jalan raya. Entah lampunya yang memang harus diganti atau cahaya lampunya terhalang oleh rimbunnya pepohonan di pinggir jalan. Pokoknya kalau kamu lagi jalan di sekitaran Jl. AH. Nasution misalnya, harus ekstra hati-hati karena jalanan di situ cenderung gelap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa sisi gelap Kota Bandung yang sudah jadi rahasia umum bagi warganya. Sekarang, coba bayangkan kalau kamu sedang berhenti di perempatan jalan saat jam pulang kerja, lagi macet-macetnya, hujan deras, lengkap dengan pemandangan anak jalanan di bawah lampu merah dan sajian sampah visual yang bertebaran di sekitaran perempatan itu. Apa nggak stres jadinya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadeh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kebohongan-tentang-kota-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Kebohongan tentang Kota Bandung<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandung oh Bandung.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":158317,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1095,14109,10905,4489,15700],"class_list":["post-190712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banjir","tag-dago","tag-kota-bandung","tag-macet","tag-sisi-gelap"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190712"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190712\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/158317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}