{"id":190639,"date":"2022-09-25T14:46:25","date_gmt":"2022-09-25T07:46:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190639"},"modified":"2022-09-25T14:46:25","modified_gmt":"2022-09-25T07:46:25","slug":"6-istilah-lampung-yang-wajib-diketahui-wisatawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-istilah-lampung-yang-wajib-diketahui-wisatawan\/","title":{"rendered":"6 Istilah Lampung yang Wajib Diketahui Wisatawan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai daerah yang memiliki bahasa dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-yang-salah-dengan-logat-aksen-dan-dialek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dialek<\/a> sendiri, orang-orang Lampung punya istilah dan bahasa tersendiri dalam berkomunikasi. Sebagai orang Lampung, saya mau memperkenalkan beberapa istilah yang ada di tanah kelahiran saya ini. Siapa tau bisa jadi pedoman untuk kalian kalau ada niatan main ke Lampung atau sekadar informasi aja. Namun, menurut saya, wisatawan wajib sih tahu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa berlama-lama, inilah istilah yang harus kalian ketahui agar mudah saat berkomunikasi di Lampung.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Yai<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yai adalah potongan kata dari kyai atau sapaan untuk kakak atau saudara laki-laki bagi masyarakat Lampung. Selain digunakan kepada keluarga atau saudara, sapaan ini juga bisa digunakan juga kepada teman sebaya seperti halnya \u201cbro\u201d dalam tongkrongan. Kalau kalian main ke Lampung, jangan pakai sapaan ini ke orang yang lebih tua ya, bisa-bisa kalian dikira nggak sopan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Geh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian sering berkunjung ke Lampung atau pernah menetap dengan waktu yang lama, kata ini pasti sudah tidak asing di telinga. Kata ini adalah kata yang paling sering diucapkan oleh masyarakat Lampung kalau sedang mengobrol. \u201cGeh\u201d sendiri merupakan imbuhan yang biasanya terdapat di akhir kalimat. Biasanya kalimat ini berupa ajakan kepada teman-teman sejawat. Contohnya \u201cnongkrong geh&#8221; yang berarti ajakan untuk nongkrong bareng, atau \u201cmampir ke rumah gue geh\u201d yang berarti ajakan untuk berkunjung ke rumah<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Tah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tah sendiri merupakan imbuhan yang biasanya ada pada setiap akhir kalimat yang berupa pertanyaan. Sebenarnya, kalimat ini lazim dikenal dengan \u201ckah\u201d di bahasa sehari-hari, tapi masyarakat Lampung lebih biasa dengan \u201ctah\u201d dibanding \u201ckah\u201d. Contohnya \u201ciya tah?\u201d,\u201cnggak bayar tah?\u201d, \u201chari ini libur tah?\u201d. Jadi kalau kalian berkunjung ke Lampung dan ada yang bertanya dengan imbuhan \u201ctah\u201d, jangan dijawab \u201chah?\u201d ya, soalnya nanti nggak selesai-selesai hehee.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Kita orang, kamu orang, dia orang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan kaget atau tertawa kalo kalian mendengar kata kita orang, kamu orang, dan dia orang di Lampung. Tiga kalimat ini adalah kalimat yang digunakan sebagai kata ganti untuk menunjuk orang-orang. Kita orang berarti kita atau kami, kamu orang berarti kalian, dan dia orang berarti mereka. Kalimat ini juga bisa digunakan untuk menunjuk suatu rombongan karena bersifat jamak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa tongkrongan anak muda, biasanya juga terdengar \u201clo orang\u201d yang punya makna sama dengan \u201ckamu orang\u201d. Ini karena anak muda di Lampung bahasa sehari-harinya pakai sapaan gua-lo, tapi ada juga beberapa anak muda yang lebih senang pakai \u201ckamu orang\u201d dibandingkan dengan \u201clo orang\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Basing<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Basing sendiri adalah kata lain dari terserah dalam bahasa sehari-hari atau manut dalam bahasa Jawa. kalimat ini biasanya diucapkan kalau sedang bingung diajak makan, bingung diajak jalan-jalan, atau lagi bingung aja. Selain di Lampung, kata ini juga sering terdengar kalau kalian berkunjung ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-paling-saya-banggakan-dari-palembang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Palembang<\/a> atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Banten\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banten.<\/a><\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Mengkol<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian naik kendaraan dan bingung dengan arah dan tujuan di Lampung, jangan heran kalau masyarakat sekitar sering menyebut istilah mengkol ketika di jalan. Mengkol sendiri merupakan kata lain dari belok dan biasa digunakan ketika menunjukan suatu tempat atau menunjukan suatu arah di jalanan. Mungkin kata ini terinspirasi dari serial <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lama-lama-sinetron-tukang-ojek-pengkolan-membosankan-juga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Ojek Pengkolan<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi masyarakat Lampung lebih nyaman dengan istilah mengkol biar ada kesan unik-uniknya gitu. Mungkin loh ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah istilah-istilah yang harus kalian pahami saat berkunjung. Yaaa biar enak aja sih ketika di sana. Gas ke Lampung? Gas lah ya!<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"http:\/\/Photo by &lt;a href=&quot;https:\/\/unsplash.com\/@setyaki?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText&quot;&gt;Setyaki Irham&lt;\/a&gt; on &lt;a href=&quot;https:\/\/unsplash.com\/@setyaki?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText&quot;&gt;Unsplash&lt;\/a&gt;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Irham Setyaki via Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Arief Widodo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berkenalan-dengan-slang-word-nya-orang-lampung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Berkenalan dengan Slang Word-nya Orang Lampung<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung FTW!<\/p>\n","protected":false},"author":1923,"featured_media":190713,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13142,6303],"class_list":["post-190639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-istilah","tag-lampung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1923"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190639"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190639\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190713"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}