{"id":190514,"date":"2022-09-23T10:08:01","date_gmt":"2022-09-23T03:08:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190514"},"modified":"2022-09-23T10:08:01","modified_gmt":"2022-09-23T03:08:01","slug":"mempertanyakan-alasan-presiden-selalu-berasal-dari-suku-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mempertanyakan-alasan-presiden-selalu-berasal-dari-suku-jawa\/","title":{"rendered":"Mempertanyakan Alasan Presiden Selalu Berasal dari Suku Jawa"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa presiden Indonesia (hampir) selalu berasal dari suku Jawa?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">2024 memang masih dua tahun lagi. Namun, hawa panas persaingan tentu sudah terasa sejak hari-hari ini. Ada yang mulai roadshow, ada juga yang blusukan, hingga ada yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/ganjar-pranowo-setia-pdip-atau-segera-hengkang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bingung nyari partai<\/a>. Pemilu adalah hajatan besar bagi negara ini. Apalagi pandemi boleh dibilang sudah tak segenting dahulu. Panggung-panggung akan semarak, pawai dengan knalpot bobokan dijamin menyemarakkan hari minggumu yang permai, hingga bantuan-bantuan dari para caleg yang akan memeriahkan ekosistem kampung-kampung hingga pelosok negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemilihan presiden akan menjadi puncak hajatan yang paling dinanti. Posisi nomor wahid yang sudah pasti paling strategis dalam dunia politik kita. Karena itu, persaingan yang tak bisa dibilang anyep telah dimulai dengan trengginas. Mulai banyak orang yang tampak caper dan selalu tampil di depan. Tapi, sebagai warga negara yang sudah pernah nyoblos saat pemilu, ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan sekaligus kekhawatiran. Apakah jabatan presiden di era selanjutnya masih akan diisi oleh orang Jawa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang hobi overthinking, sekaligus gampang penasaran. Tapi, pertanyaan itu selalu menyeruak dari dalam sukma dan kalbu saya. Bayangkan, sejak era Orde Lama hingga kini, presiden kita selalu orang Jawa. Bahkan, calon presidennya pun orang Jawa semua. Saya bukannya rasis, apalagi membenci suku Jawa, ha wong saya sendiri Jawa tulen. Hanya saja, semua orang dari suku dan ras mana pun boleh magang atau menjadi seorang presiden. Bahkan, hal itu dijamin di undang-undang. Hanya saja, apa nggak aneh, dari sekian banyak suku bangsa yang ada di Indonesia, presidennya orang Jawa melulu. Dan saya kira tak mungkin hanya saya yang overthinking perihal hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita adalah negara yang hobi mengumandangkan kalimat yang dicengkeram oleh kaki Sang Garuda. Kita berbeda, (namun katanya) satu. Toleransi dan tenggang rasa otomatis ikut serta di dalamnya. Apakah dominasi orang Jawa di puncak panggung politik ini cerminan dari lunturnya kalimat <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bhinneka_Tunggal_Ika\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bhinneka Tunggal Ika<\/a>? Atau ini hanya kebetulan semata?<\/span><\/p>\n<p>Iya, saya tahu Pak Habibie bukan orang Jawa tulen. Namun, dia masih punya darah Jawa dari ibunya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang suku Jawa adalah mayoritas, dan itu tak bisa dimungkiri adalah kebenaran mutlak. Belum lagi Pulau Jawa yang memang sejak dahulu kala dijadikan pusat pemerintahan. Itu semua adalah fakta yang tak bisa dibantah lagi. Yang agak menjengkelkan adalah jika ada yang berpendapat bahwa presiden harus orang Jawa. Itu baru namanya menyebalkan dan intoleran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang boleh dan bisa jadi presiden, terlepas apa agama, ras, dan sukunya. Apalagi pemilu kita begini-begini saja, jika tak boleh dibilang kurang seru. Bayangkan, jika saja ada calon presiden orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-stereotipe-papua-yang-benar-benar-keliru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Papua,<\/a> NTT, atau bahkan Aceh. Saya jamin kontes 2024 akan lebih seru. Kapan lagi kita bisa menyaksikan pertarungan macam itu. Apalagi kalau ada calon dari agama selain agama mayoritas. Walau saya juga sadar itu adalah hal yang sulit diterapkan di negara ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalkan semua itu bisa terlaksana, siapa tahu Pak LBP bisa jadi presiden. Walau sebenarnya jabatan dan kerjaannya yang sekarang rasa-rasanya lebih asoy dibanding jadi presiden. Lebih berdamage begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, soal suku dan agama mana yang jadi presiden, saya sebetulnya nggak begitu pilih-pilih. Karena mau dari suku mana pun, yang paling utama adalah kinerjanya. Mau orang Jawa, Batak, Bugis, apa pun boleh. Yang paling utama jangan kebanyakan menipu rakyat, mengingkari janji, dan pencitraan melulu untuk menutupi kesalahan. Jika berbuat salah, minta maaf. Jika melakukan kesalahan berat di masa lalu, ya, tak perlu mencalonkan diri. Tentu kita semua ingin pemimpin yang benar-benar merakyat, bukan sok merakyat. Apalagi yang jadi presiden hanya untuk dijadikan alat oligarki atau bagi-bagi kuasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga di masa depan saat ada pemilihan presiden, kita punya calon-calon yang benar-benar niat mengabdi. Agar pemilu tak hanya menjadi ajang ribut dan tawur antar politikus, dan jabatan tak hanya menjadi jembatan untuk kepentingan pribadi. Sehingga nggak bikin susah rakyat, lagi, lagi, dan lagi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bayu Kharisma Putra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/teori-konspirasi-soal-suku-presiden-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Teori Konspirasi soal Suku Presiden Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa ya?<\/p>\n","protected":false},"author":1151,"featured_media":190533,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[19,1353,7929],"class_list":["post-190514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-pemilu","tag-presiden","tag-suku-jawa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1151"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190514"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190514\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}