{"id":190123,"date":"2022-09-18T18:56:52","date_gmt":"2022-09-18T11:56:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=190123"},"modified":"2022-09-19T11:32:00","modified_gmt":"2022-09-19T04:32:00","slug":"wacana-harga-rokok-naik-5-kali-lipat-akrobat-logika-yang-menyedihkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wacana-harga-rokok-naik-5-kali-lipat-akrobat-logika-yang-menyedihkan\/","title":{"rendered":"Wacana Harga Rokok Naik 5 Kali Lipat: Akrobat Logika yang Menyedihkan"},"content":{"rendered":"<p><em>Harga rokok lima kali lipat dianggap bisa mencegah anak jalanan merokok. Lompatan logika macam apa ini?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang kayak gitu yang disebut keblinger, Kin. Bener tapi nggak pener. Logis, tapi nggak peka situasi. Rasional tapi tidak tepat!\u201d ujar Cak Narto sambil berlalu ke dalam warung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin yang sejak pagi njogrog di warung Yu Marmi menyetop Cak Narto yang baru datang, berusaha memantik diskusi, memperlihatkan sebuah berita dengan tajuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Harga Rokok Naik 5 Kali Lipat, Anak Jalanan Bakal Stop Merokok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di layar gawainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenurut Sampean gimana, Cak?\u201d todong Solikin, ketika Cak Narto baru saja keluar dari dalam warung, membawa segelas jahe susu dan sukun goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa itu tadi, Kin. Keblinger, nggak pener, dan\u2026.\u201d diseruputnya jahe susu itu, \u201c\u2026menyedihkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPener itu apa, Cak? Hehehe\u2026.\u201d Tanya Solikin malu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin. Misalnya kamu bilang bahwa sukun goreng ini tidak menyehatkan karena hasil studi menunjukkan bahwa ada kandungan berbahaya bagi tubuh manusia, itu bener, Kin. Itu logis dan obyektif. Tapi, ketika kamu katakan kepada Yu Marmi agar berhenti menjualnya demi kesehatan konsumennya, itu nggak pener. Itu namanya kamu nggak peka situasi.\u201d Solikin tampak belum menangkap analogi yang digunakan Cak Narto kepadanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDalam filsafat Jawa, Kin, kata pener diletakkan di atas kata bener (benar). Sebab logis atau obyektif saja tidak cukup. Dalam penyampaiannya juga harus peka situasi, agar \u2018kebenaran\u2019 yang ingin disampaikan menjadi presisi dan tepat guna. Bahkan, ada situasi di mana kebenaran seharusnya tidak perlu disampaikan, jika hanya akan menjadi sumber perselisihan. Sebab seharusnya \u2018kebenaran\u2019 menjadi jawaban atas perselisihan, bukan sebaliknya.\u201d Jelas Cak Narto pepak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo\u2026 lha terus hubungannya sama berita kenaikan harga rokok lima kali lipat itu apa, Cak?\u201d kejar Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa itu tadi, kalau dikatakan bahwa \u2018anak jalanan akan berpikir secara rasional untuk berhenti merokok apabila harga rokok naik 5 kali lipat\u2019 itu jelas benar, wong itu hasil penelitian. Tapi apakah itu pener? Menurutku kok tidak. Karena begini, Kin\u2026\u201d Cak Narto mengambil ancang-ancang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang kantoran, akademisi, atau bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/dha\/esai\/rokok-susi-pudjiastuti-dan-cerutu-winston-churcill\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bu Susi<\/a>, yang mantan menteri sekaligus perokok itu, kalau dihadapkan pada pertanyaan semacam itu juga akan menjawab dengan hal yang sama. Siapa yang akan berpikir rasional jika dihadapkan dengan kenaikan harga barang? Apalagi untuk produk rekreasional seperti rokok begini\u2026\u201d Cak Narto menjeda penjelasan, membakar sebatang kretek milik Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagi pula, Kin, tanpa ada studi itu pun, tiap tahun pemerintah juga sudah menaikkan tarif cukai rokok. Karena cukai hasil tembakau memang sejak lama menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/sesat-pikir-hitungan-cukai-rokok-vs-biaya-kesehatan-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sumber penerimaan negara<\/a>. Maka, argumen menaikkan harga rokok menjadi lima kali lipat, \u2018hanya\u2019 dalam rangka mengatasi keterjangkauan anak jalan itu terdengar semakin nggak pener, serampangan, dan naif. Sebab studi itu tidak melihat implikasi lainnya, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cImplikasi apa, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, banyak, di antaranya implikasi ekonomi, ketenagakerjaan dan industri. Karena begitu harga rokok dinaikkan secara ekstrem, itu akan mempengaruhi daya beli masyarakat yang tentu akan berpengaruh ke penerimaan negara dari sektor industri tembakau. Dan secara bertahap juga akan berdampak ke perusahaan rokok yang jumlah karyawannya ribuan itu. Dan mengapa kusebut serampangan, karena\u2026\u201d Cak Narto menjeda, menyesap susu jahe di hadapannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c&#8230;menaikkan harga suatu produk itu memicu munculnya ilegalisme. Pasar gelap, Kin. Permintaan atas produk yang lebih murah tentu akan jadi lebih banyak, dan itu memicu terjadinya penghindaran pajak (cukai) karena mengejar harga yang murah. Wong tarif cukai naik secara gradual saja <a href=\"https:\/\/bolehmerokok.com\/2022\/01\/rokok-ilegal-sangat-tidak-layak-untuk-dihisap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rokok ilegal<\/a> tanpa pita cukai banyak beredar, apalagi jika langsung dinaikkan ekstrim lima kali lipat begitu.\u201d Ujar Cak Narto sinis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi \u2018kan itu bukan tugas akademisi, Cak. Penelitian ini kan berbasis fakta dengan tujuan mulia: mengatasi problem anak jalanan terhadap ketergantungan rokok yang harganya dirasa terlalu murah. Menurutku itu rasional, Cak\u201d sergah Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho gimana, sih, dari awal aku bilang ini rasional, Kin. Obyektif dan logis. Bener, cuma nggak pener. Dan menyedihkan!\u201d nada Cak Narto sedikit landai kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMengapa menyedihkan, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena nggak tertib nalar, Kin. Menjadi semakin menyedihkan karena itu datangnya dari akademisi, yang seharusnya terbiasa tertib bernalar, berpikir komprehensif, dan holistik. Kalau dari awal subyeknya adalah anak jalanan, menurutku penelitian itu gagal menentukan fokusnya. Sebab\u2026,\u201d Cak Narto menggerus rokoknya ke asbak, \u201c\u2026ketimbang menghitung rasionalitas anak jalanan terhadap harga rokok, apa nggak mending memikirkan untuk menyejahterakan atau merumahkan mereka. Biar mereka nggak di jalanan lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho menaikkan harga rokok \u2018kan dalam jangka panjang bisa saja \u2018menyejahterakan\u2019 anak-anak jalanan itu, Cak. Bagian mana mereka nggak tertib dalam bernalar?\u201d kejar Solikin seperti tidak terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho ya itu tadi, to. Kalau subyeknya adalah anak jalanan berarti fokusnya yang kurang tepat. Sebab, penelitian itu seolah-olah meletakkan rokok sebagai satu-satunya variabel dan abai terhadap variabel lainnya, variabel sosial dan budaya, misalnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau memang objeknya adalah harga rokok, justru itu sungguh naif, sebab implikasi kenaikan harga rokok itu banyak dan berkelindan. Paham nggak sampai sini?\u201d Cak Narto tersenyum, lantas membakar sebatang lagi rokok milik Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi meskipun begitu, Cak, menurutku penelitian seperti ini tetap penting, sebab paling tidak masih ada perhatian terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak jalanan itu!\u201d Sarjana yang kini menjadi pengangguran itu seperti masih tidak terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKin, mengangkat narasi kesehatan kepada perokok itu adalah salah satu bentuk kesia-siaan yang paripurna. Hehehe. \u201c Cak Narto tertawa kecut sembari bersufi-sufi ria.\u201cBagi perokok seperti kita, termasuk anak-anak jalanan itu, kesehatan adalah faktor yang pertama kali diabaikan ketika memutuskan merokok. Sebab merokok itu bukan semata kegiatan fisikal, Kin, ia lebih tepat dilihat sebagai kegiatan rekreasional-spiritual.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDari aktivitas merokok, Kin, telah lahir puisi-puisi hebat. Lahir tulisan-tulisan yang menggugah. Lahir musik-musik yang membersamai peradaban. Asap rokok pernah menguar di meja-meja diplomasi internasional. Juga menghangatkan para serdadu di hutan-hutan gerilya. Entah kapan dan siapa yang memulainya, tapi saat ini rokok dilihat sebagai produk terkutuk yang pantas dienyahkan dari muka bumi.\u201d Tiba-tiba saja nada Cak Narto terdengar lunglai dan melankolis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah lah, Kin, perdebatan begini tuh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tembakau-perokok-dan-repetisi-debat-yang-bikin-muak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">selalu muncul tiap tahun<\/a>. Repetitif, Kin, dan cenderung memuakkan. Sebab, selalu terjadi menjelang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/merayakan-hari-kretek-nasional-dengan-pertandingan-melinting-di-pasar-malam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hari Kretek Nasional<\/a>. Entah apa agenda di baliknya.\u201d Asap dari mulut Cak Narto yang membumbung dengan cepat terbawa angin lalu lalang kendaraan di seberang warung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya sih, Cak. Bagian repetitif ini aku setuju, tapi dari tadi Sampean ngemut rokokku, sementara punya Sampean masih utuh di dalam saku itu rasanya juga nggak pener, Cak. Ini bisa memicu perdebatan lebih jauh nantinya.\u201d Solikin mendesis sinis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho aku juga penjelasan rasional atas ini, Kin. Hehehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langit di barat desa menguning. Di bawah mega-mega sekelompok burung bercengkerama tentang fenomena-fenomena. Salah satu di antara mereka curiga terhadap agenda-agenda. Sementara yang lain terlihat tak peduli dengan narasi-narasi sumir lainnya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Suwatno<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/harga-rokok-naik-ketika-rakyat-dianggap-beban-oleh-negara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Harga Rokok Naik: Ketika Rakyat Dianggap Beban oleh Negara<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akrobat logika.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":190165,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[2748,16989,3404,16988],"class_list":["post-190123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-anak-jalanan","tag-antirokok","tag-cukai-rokok","tag-harga-rokok-naik"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190123"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190123\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}