{"id":189935,"date":"2022-09-16T12:13:35","date_gmt":"2022-09-16T05:13:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=189935"},"modified":"2022-09-16T12:13:35","modified_gmt":"2022-09-16T05:13:35","slug":"bem-itu-problematik-dan-saya-menyesal-telah-bergabung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bem-itu-problematik-dan-saya-menyesal-telah-bergabung\/","title":{"rendered":"BEM Itu Problematik dan Saya Menyesal Telah Bergabung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya semakin menyadari bahwa banyak hal yang bisa diperdebatkan di negara +62 ini. Makanya, nggak heran kalau kayaknya masyarakatnya selalu dikelilingi oleh hal-hal yang problematik. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, yang problematik bukan hanya Mbak Erfinov si paling anak pertama dan berzodiak scorpio di Twitter, bukan juga tentang cara pemerintah menangani hacker Bjorka sampai perlu bentuk tim khusus segala. Menurut saya, hal problematik yang paling dekat itu, ya keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sewaktu masih menjadi mahasiswa baru, saya pikir bergabung ke BEM itu akan memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Atau setidak-tidaknya dapet korsa buat nambah-nambah outfit kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, setelah saya pikir-pikir kembali di tahun kedua saya berkutat di BEM fakultas, terlebih lagi tahun ini saya menjadi salah satu kepala divisi, ungkapan kalau Badan Eksekutif Mahasiswa itu problematik adalah benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal problematik pertama yang saya jumpai ialah perihal jabatan. Saya masih terus mempertanyakan esensi penggunaan istilah &#8220;presiden&#8221; sebagai jabatan tertinggi di BEM yang notabenenya dipegang mahasiswa itu bagaimana, sih? Katanya sama rata, kok pakai embel-embel presiden segala? Bukannya presiden itu memerintah rakyat, ya? Hayooo~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun ini, saya menjabat sebagai kepala divisi kajian strategis. Sebagian orang pasti berpikiran bahwa jabatan ini cukup edgy setelah jabatan ketua. Saya bergabung karena menulis buat saya, sih sudah seperti makanan sehari-hari, maka akan selalu jadi urusan kecil kalau tiap bulannya cuma bikin kajian isu. Pemikiran dangkal saya pada waktu itu berbicara demikian. Namun, setelah menjabat sebagai kepalanya, nyatanya divisi ini yang paling problematik di antara lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berani bilang divisi ini paling problematik karena rasa-rasanya mau sebanyak apapun divisi yang dibentuk, kalau divisi kajian strategisnya berantakan, ya artinya satu kabinet BEM itu remuk parah. Kok bisa, sih tolok ukur pemikiran semacam ini langgeng di sebuah kepengurusan BEM? Saya jadi bertanya-tanya, ini ketuanya nggak ada kerjaan lain selain ngurusin kinerja divisi kajian strategis apa bagaimana, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu gerundelan saya pribadi. Nah, ini gerundelan saya menyangkut BEM juga, tapi dalam ranah yang lebih general.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, begini. Hakikatnya, BEM itu adalah pihak penyalur uang dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/44-istilah-dunia-perkuliahan-yang-wajib-diketahui-mahasiswa-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dekanat\/rektorat<\/a> ke mahasiswa. Maksudnya gini. Uang-uang yang kalian bayarkan itu, wajib kembali ke kalian dalam bentuk kegiatan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tipe-tipe-orang-saat-ikut-seminar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">seminar,<\/a> workshop, dan event yang berguna untuk mahasiswa. Di beberapa kampus, setidaknya begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau BEM-nya malah asyik sendiri, seperti contoh \u201cpresiden\u201d saya yang cuman fokus ngurusin satu divisi, ini jadi masalah. Sebab, mereka punya tanggung jawab untuk mengolah uang mahasiswa untuk jadi kegiatan yang tepat guna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya masuk BEM itu (harusnya) susah, dan memang kerjanya susah. Ya gimana, amanahnya berat. Salah sasaran, bisa bikin ribuan mahasiswa kecewa. Dan yang dipikirkan pertama dan paling utama ya bagaimana caranya mereka <a href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/memaknai-samudera-falsafah-jawa-migunaning-tumraping-liyan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">migunani tumraping liyan<\/a>. Kegunaan dan kerja mereka harus terasa untuk mahasiswa lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kalian denger ada kampus yang mahasiswanya dianggap apatis, atau malah sekarang mahasiswa rata-rata pada apatis, bisa sih mempertanyakan BEM-nya ngapain aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak salah juga saya, sebagai anggota BEM, justru mempertanyakan esensi badan ini apa dan malah menganggap badan ini problematik. Ya gimana, saya tahu sendiri salahnya kek mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi bagi kalian anggota BEM, pertanyakan ke diri kalian, sudah migunani tumraping liyan belum. Kalau kalian dikritik terus-terusan meski sudah (mengaku) bekerja, ingat lagi, kerjanya udah bener, atau emang yang kalian peduliin hanya diri sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin banyak BEM di luar sana yang emang udah sesuai tugasnya, dan saran saya, pertahankan. Bagi yang belum, ditingkatkan juga. Ingat, amanah kalian nggak bisa dianggap enteng.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Cindy Gunawan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/di-balik-bem-si-dari-perpecahan-isu-cawe-cawe-pemerintah-hingga-potensi-ditunggangi-politisi-di-2024\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di Balik BEM SI: Dari Perpecahan, Isu Cawe-cawe Pemerintah, hingga Potensi Ditunggangi Politisi di 2024<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Problematik, hash.<\/p>\n","protected":false},"author":1294,"featured_media":189939,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[6301,12751,34,15706],"class_list":["post-189935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-aktivisme","tag-bem","tag-mahasiswa","tag-problematik"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1294"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=189935"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189935\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=189935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=189935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=189935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}