{"id":189571,"date":"2022-09-14T14:51:55","date_gmt":"2022-09-14T07:51:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=189571"},"modified":"2022-09-14T14:51:55","modified_gmt":"2022-09-14T07:51:55","slug":"3-salah-paham-terkait-toraja-yang-perlu-diluruskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-salah-paham-terkait-toraja-yang-perlu-diluruskan\/","title":{"rendered":"3 Salah Paham terkait Toraja yang Perlu Diluruskan"},"content":{"rendered":"<p>Toraja sebagai salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, termasuk dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-destinasi-wisata-toraja-yang-tak-boleh-dilewatkan-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">destinasi wisata<\/a> yang sudah terkenal sampai ke luar negeri. Selain alamnya yang indah, daerah ini memang punya keunikan adat dan budaya yang menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan.<\/p>\n<p>Toraja berjarak sekitar 300 kilometer dari Kota Makassar. Dari Makassar, Toraja bisa dicapai dengan menggunakan bus dan pesawat. Jika menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-ciri-khas-rute-bus-makassar-toraja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bus dari Makassar<\/a>, butuh waktu sekitar 8 jam untuk bisa sampai di Toraja. Sementara jika naik pesawat hanya butuh waktu sekitar 45 menit.<\/p>\n<p>Meski namanya sudah terkenal, faktanya masih ada beberapa salah paham terkait Toraja yang beredar di masyarakat. Sebagai orang yang berkampung halaman di Toraja, saya merasa terpanggil untuk mencoba meluruskan semuanya.<\/p>\n<h4><strong>#1 Rambu solo\u2019 menghabiskan biaya miliaran rupiah<\/strong><\/h4>\n<p>Banyak teman saya yang salah paham dan mengira bahwa <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rambu_Solo%27\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rambu solo&#8217;<\/a> selalu menghabiskan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Padahal ya nggak juga. Meski memang benar banyak orang yang menggelar rambu solo&#8217; dengan biaya fantastis, namun bukan berarti semua rambu solo&#8217; akan berjalan seperti itu.<\/p>\n<p>Pada dasarnya, rambu solo\u2019 adalah istilah yang umum disematkan pada upacara kematian orang Toraja. Di dalamnya terdapat berbagai jenis tingkatan dengan aturan yang berbeda. Ada rambu solo\u2019 yang berlangsung selama 7 hari, ada juga yang berlangsung dalam 1 malam. Dalam hal jumlah hewan yang dipotong, ada yang memotong puluhan bahkan sampai ratusan kerbau\u2014dengan berbagai jenis\u2014,ada pula yang hanya memotong satu kerbau.<\/p>\n<p>Rambu solo\u2019 yang berlangsung selama 7 hari dengan memotong puluhan bahkan ratusan kerbau, tentu akan berbeda kebutuhan biayanya dibanding dengan rambu solo\u2019 yang berlangsung 1 malam. Jadi, jangan heran jika datang ke sini lantas mendapati rambu solo\u2019 yang berbeda dengan apa yang biasa ada di televisi, ya.<\/p>\n<p>Dulu sih ada yang namanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/kasta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sistem kasta<\/a> dalam pelaksanaan rambu solo\u2019. Dalam artian, hanya kaum bangsawan yang bisa melaksanakan rambu solo\u2019 dengan rentetan prosesi adat dan budaya yang biasa disaksikan di televisi atau media lainnya. Namun belakangan ini, kasta apa pun asal punya uang, bisa saja membuat rambo solo\u2019 yang berlangsung layaknya rambu solo\u2019 untuk kaum bangsawan.<\/p>\n<h4><strong>#2 Menyebut semua tempat dengan Tana Toraja<\/strong><\/h4>\n<p>Meski sudah dimekarkan, faktanya sampai saat ini masih ada yang mengira Toraja itu cuma Tana Toraja. Akhirnya, tempat apa pun yang dikunjungi di Toraja selalu disebut Tana Toraja.<\/p>\n<p>Padahal dalam hal wilayah, sejak tahun 2008, Toraja terbagi atas dua kabupaten, Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Jadi, penyebutan semua tempat sebagai Tana Toraja kurang tepat. Kecuali kalau nyebutnya tanah Toraja, nah, itu masih nyambung.<\/p>\n<h4><strong>#3 Ma\u2019nene adalah ritual mayat berjalan<\/strong><\/h4>\n<p>Saya nggak tahu gimana awal ceritanya sampai mayat berjalan disamakan atau disebut dengan ma&#8217;nene. Padahal keduanya adalah hal berbeda. Ma\u2019nene bukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/tradisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tradisi<\/a> mayat berjalan, melainkan tradisi yang umum dikenal dengan ritual adat membersihkan mayat dan mengganti pakaian mayat yang sudah lama dikubur. Tradisi ini bisa dijumpai di Toraja Utara, salah satunya di Kecamatan Baruppu.<\/p>\n<p>Secara utuh, tradisi yang biasanya dilakukan 3 tahun sekali ini adalah wujud dari betapa orang Toraja sangat menghargai dan menjaga hubungan antaranggota keluarga, termasuk dengan anggota keluarga yang sudah lebih dulu berpulang.<\/p>\n<p>Tradisi ini dilakukan setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/panen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">masa panen<\/a> atau sekitar bulan Agustus. Konon katanya, tradisi ini bermula dari kisah Pong Rumasek yang menemukan mayat dengan kondisi memprihatinkan. Oleh Pong Rumasek, mayat tersebut kemudian diganti pakaiannya, lalu \u201cdikubur\u201d dengan layak. Sejak kejadian itu, Pong Rumasek terus mendapat keberuntungan, hasil panennya melimpah. Hal tersebut membuat Pong Rumasek percaya bahwa mayat pun tetap harus diperlakukan dengan baik. Berangkat dari cerita itulah tradisi ma\u2019nene dilestarikan.<\/p>\n<p>Itulah 3 salah paham terkait Toraja yang beredar di masyarakat dan perlu diluruskan. Semoga setelah membaca artikel ini, nggak ada yang salah paham lagi, ya. Ngomong-ngomong, kapan mau ke sini?<\/p>\n<p>Penulis: Utamy Ningsih<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-destinasi-wisata-toraja-yang-tak-boleh-dilewatkan-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 Destinasi Wisata Toraja yang Tak Boleh Dilewatkan Wisatawan<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perlu diluruskan, nih.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":189603,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16926,16925,15849,575,574],"class_list":["post-189571","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-manene","tag-rambu-solo","tag-salah-paham","tag-sulawesi-selatan","tag-toraja"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=189571"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189571\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189603"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=189571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=189571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=189571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}