{"id":18905,"date":"2019-10-29T11:44:55","date_gmt":"2019-10-29T04:44:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=18905"},"modified":"2019-10-29T11:44:55","modified_gmt":"2019-10-29T04:44:55","slug":"punya-cv-menjulang-tapi-jadi-pembicara-kok-biasa-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/punya-cv-menjulang-tapi-jadi-pembicara-kok-biasa-aja\/","title":{"rendered":"Punya CV Menjulang, tapi Jadi Pembicara Kok Biasa Aja?"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">Tulisan ini bermula dari kejengkelan saya soal kenapa para akademisi yang jadi pembicara dalam seminar-seminar, tampil tak memuaskan sebagai sosok yang memperkenalkan dirinya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lucu-sekali-ketika-tak-dapat-kerja-gara-gara-tak-cakap-membuat-cv\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">CV yang begitu menjulang<\/a>. Jengkel nggak sih, ada orang yang punya gelar akademik sana-sini. Dengan penelitian-penelitian yang dengar satu judulnya saja cukup bikin pusing. Eh, begitu jadi pembicara, kok kayak gini. Sama sekali tidak memuaskan ekspektasi. Walau tidak semua akademisi seperti itu, sih.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Standar memuaskan sebenarnya sederhana:<\/p>\n<ol>\n<li dir=\"ltr\">Minimnya penggunaan jeda dengan, &#8220;em&#8230; em&#8230;&#8221; atau &#8220;ya&#8230;. ya&#8230;&#8221; yang mencerminkan tak ada penguasaan atas materi.<\/li>\n<li dir=\"ltr\">Berargumen runtut ala akedimisi. Bukannya menyampaikan materi dengan marah-marah nggak jelas dan sepi dari argumen.<\/li>\n<li dir=\"ltr\">Luasnya wawasan yang disampaikan dan tak <em>sepaneng<\/em> dengan materi.<\/li>\n<li dir=\"ltr\">Bisa menyampaikanya dengan bahasa yang komunikatif, tidak <em>saklek<\/em> pada materi, dan yang paling penting terbebas dari curhat yang tak menarik.<\/li>\n<\/ol>\n<p dir=\"ltr\">Mungkin hal ini bisa dialibikan. Kan nggak semua orang pintar bisa ngomong. Lha ini masalahnya akademisi, <em>je.<\/em> Kalau nggak bisa ngomong, terus saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-mahasiswa-yang-kuliah-di-iain-tapi-rasa-stain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kuliah S-1<\/a> sampai Profesor ngapain aja? Bukanya yang bisa diambil manfaat dari akademisi adalah lewat tulisan dan bicaranya?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lantas, mengapa fenomena seperti itu bisa terjadi? Saya rasa penjelasan Gus Ulil Abshar Abdalla pada salah satu tulisanya &#8220;Catatan Jumat: Imam al-Munawi tentang Dua Jenis Sarjana&#8221; di <a href=\"https:\/\/alif.id\/read\/ulil-abshar-abdalla\/catatan-jumat-imam-al-munawi-tentang-dua-jenis-sarjana-b217272p\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>Alif<\/em><\/a> soal <em>flashdisk<\/em> ilmu, bisa memuaskan saya dan membuat tidur saya nyenyak.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jadi, sarjana itu ada yang dinamakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/emang-kenapa-sih-kalau-sarjana-jadi-ibu-rumah-tangga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sarjana<\/a> kutipan. Yakni yang memenuhi buku dan ceramahnya dengan kutipan dari para otoritas sebelumnya tanpa disertai kemampuan \u201cmengunyah\u201d, idrak (dalam KBBI berarti merasakan) atas apa yang ia kutip.<\/p>\n<div align=\"center\">\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\">&#8220;Yang seperti ini bukan ahli ilmu. Akan tetapi tak lebih dari, \u201ckotak penyimpanan ilmu saja\u201d, wi\u2019a\u2019un lil a-\u2018ilm (\u0648\u0639\u0627\u0621 \u0644\u0644\u0639\u0644\u0645 \u0648\u0644\u064a\u0633 \u0639\u0627\u0644\u0645\u0627). Dia berfungsi tak lebih dari\u2013memakai bahasa perkomputeran sekarang\u2013<em>flashdisk<\/em> belaka,&#8221; kata Gus Ulil.<\/p>\n<\/div>\n<div align=\"center\">\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\">Jadi jangan-jangan para akademisi yang tak memuaskan ini, yang mana punya gelar akademik tinggi dan CV menjulang tapi tak tercermin saat ia jadi pembicara, mereka hanya menjadi <em>flashdisk<\/em> ilmu. Ilmu tak menyatu dengan mereka. Mereka hanya hafal teori-teori keilmuan, tapi tak mampu mengunyahnya menjadi kekuatan dari dirinya sendiri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\">Hal ini bisa kita temui dengan sederhana pada diri kita masing-masing. Misalnya, ketika presentasi di depan kelas, bukannya menjelaskan materi dari PPT, tapi malah membacakannya saja. Karena apa? Karena kita nggak mempelajari dengan lebih serius sebelumnya. Belajar itu nggak sekadar baca. Baca itu bisa paham bisa tidak. Kalau belajar, bermula dari baca dan dengar lalu diolah menjadi pemahaman yang kadang menggunakan instrumen lain selain dari bacaan tersebut.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\">Jadi sebenarnya tulisan ini pengin mengajak saya sendiri dan kamu-kamu semua untuk aktif dalam kelompok untuk bikin presentasi. Sebab, bukan yang rajin saja yang akan jadi akademisi, tapi kamu juga. Hehehe, <em>peace!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terberkatilah-para-tukang-presentasi-tugas-kuliah-snob\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terberkatilah Para Tukang Presentasi Tugas Kuliah Snob<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fais-n-nuzula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">FN Nuzula<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan-jangan para akademisi yang punya CV menjulang, tapi tak tercermin saat ia jadi pembicara, mereka hanya menjadi flashdisk ilmu.<\/p>\n","protected":false},"author":290,"featured_media":18940,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4277,2232,4276,259],"class_list":["post-18905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-akademisi","tag-cv","tag-pembicara","tag-presentasi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/290"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18905\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}