{"id":188997,"date":"2022-09-07T10:06:17","date_gmt":"2022-09-07T03:06:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=188997"},"modified":"2022-09-07T10:06:17","modified_gmt":"2022-09-07T03:06:17","slug":"3-lagu-lawas-indonesia-yang-liriknya-bikin-bingung-bagian-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lagu-lawas-indonesia-yang-liriknya-bikin-bingung-bagian-2\/","title":{"rendered":"3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung (Bagian 2)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membahas 3 lagu lawas Indonesia yang liriknya bikin bingung pada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lagu-lawas-indonesia-yang-liriknya-bikin-bingung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">artikel sebelumnya<\/a>, kini saatnya kita beranjak ke lagu-lagu lain yang tak kalah bikin pening dari masa yang berdekatan. Perasaan saya gampang bingung ya sama khazanah lagu yang gitu-gitu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, biarin lah ya kalau khazanah musik saya gitu-gitu saja. Tapi, semasa SD, salah 1 hobi saya adalah mendengarkan radio. Sehingga, mau tak mau, lagu lawas Indonesia yang gitu banget bisa keluar dan masuk telinga begitu saja. Mau suka atau nggak ya pokoknya masuk aja dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, ketimbang makin absurd, mari kita mulai mendata lagu lawas Indonesia yang sama-sama absurd.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Once Mekel, Kucinta Kau Apa Adanya (2007)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau boleh acuhkan diriku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan anggap ku tak ada<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi takkan merubah perasaanku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepadamu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi penggunaan kata \u201cacuh\u201d yang sama sekali nggak tepat. Persis kayak lagu \u201cCinta Ini Membunuhku\u201d dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-lagu-luar-negeri-yang-punya-vibes-mirip-lagu-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">d&#8217;Masiv<\/a>. Mau dimaklumi, kok, kejauhan. Seratus delapan puluh derajat, lho, bedanya. Kayaknya lagu masa pra-KBBI daring memang acap mengalami ini, ya.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/fCia74HWHZQ\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukan hanya itu saja yang membuat \u201cKucinta Kau Apa Adanya\u201d masuk ke daftar lagu lawas Indonesia ini. Yang bikin saya gatel adalah pemilihan kata \u201cmerubah\u201d alih-alih \u201cmengubah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho, katanya nggak menyoal yang beda tipis gini karena dianggap selingkung?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar. Masalahnya, kata \u201cmerubah\u201d ini bisa memberi makna lain lho, kalau kita ngikutin EYD. Kata itu bisa diartikan \u2018menjadi rubah\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rubah sendiri, selain bermakna hewan, biasanya juga digunakan sebagai metafora dari sosok yang licik, penuh tipu daya, atau sebagai hewan yang memiliki kekuatan sihir. Hmm, gimana ya, perasaan Once kalau disamain sama rubah?<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Ungu, Para PencariMu (2007)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari abaikan dulu tentang ejaan di judul yang nggak sesuai EYD. Toh, kalau didengarkan terasa nggak ada bedanya juga. Kecuali jika ditulis dengan huruf kapital, jadi &#8220;Para PencariMU&#8221; gitu misalnya. Kan jadi jelas, itu lagu lawas Indonesia yang ditulis fans\u2026 <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/biar-nggak-bingung-mana-madura-united-fc-mana-madura-fc-saya-berikan-3-perbedaannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Madura United<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/IsYB_SuUwZI\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun begitu, tetap ada yang mengganjal dari lirik lagu ini. Yaitu, ada di bagian refrain-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAkulah para pencari-Mu, Ya Allah\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah biasa kita gunakan sehari-hari, \u201cpara\u201d adalah kata penyerta yang menyatakan pengacuan ke kelompok. Sehingga, kata ini digunakan untuk merujuk ke orang banyak. Sementara, \u201caku\u201d hanyalah terdiri dari 1 orang. Membingungkan. Maunya gimana, sih, ini Ungu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tepat jika semisal liriknya berbunyi: &#8220;Kamilah para pencari-Mu&#8221; atau; &#8220;Akulah yang mencari-Mu&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, boleh jadi, saat sedang menyanyikan lagu ini, sebenarnya Pasha nyambi melancarkan kagebunshin no jutsu. Kita saja yang nggak bisa liat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Vierra, Rasa Ini (2007)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara general, bagi saya, lagu lawas Indonesia keluaran Vierratale,utamanya saat masih membawa nama Vierra, memang sering absurd secara diksi. Lagu \u201cRasa Ini\u201d adalah salah satunya.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/RpC8NVgIfnc\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ku tak percaya kau ada disini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menemaniku\u2026 di saat dia pergi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh bahagia kau ada disini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghapus semua\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sakit yang kurasa<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkinkah kau merasakan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua yang kupasrahkan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenanglah kasih\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">**<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kusuka dirinya mungkin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku sayang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun apakah mungkin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau menjadi milikku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau pernah menjadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi miliknya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun salahkah aku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila kupendam rasa ini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong, liriknya saya dapatkan dari video musik resmi yang ada di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Musica_Studio%27s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Musica Studio<\/a>. Saya tulis utuh plek-ketiplek beserta tanda bacanya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan saja pronomina yang digunakan. Kata ganti &#8220;kau&#8221; dan &#8220;dia&#8221; yang digunakan di lagu ini menimbulkan pertanyaan: \u201cIni nulisnya inkonsisten padahal merujuk ke satu orang atau memang mengacu 2 orang yang berbeda, sih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, rasanya aneh banget kalau merujuk 2 orang yang berbeda. Masa gini: Anda suka sama orang yang kemudian meninggalkan Anda. Di saat seperti itu, Anda dihibur oleh seseorang yang adalah mantannya orang yang Anda sukai tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda memang bilang senang ditemani dia, tapi nggak pernah menyatakan suka dengannya. Alih-alih, Anda malah bilang bahwa masih suka dan bahkan mungkin sayang dengan orang yang telah meninggalkan Anda. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tuh Anda bertanya-tanya, &#8220;Bisa nggak, ya dia jadi milikku? Soalnya dia tu mantannya orang yang lagi aku suka eh, ya masio dee ninggal aku~~~.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, tanpa perlu menyoal gender ketiga tokoh yang disebut di lagu tadi, karena mungkin memang nggak untuk dipersoalkan, tetapi begini saja dah cukup pusing. Katanya suka C, kok malah nanyanya &#8220;Bisa nggak ya pacaran sama si B&#8221;. Hadyeh. Mbuh, lah.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Memaklumi selingkung penulis lagu<\/strong><\/h4>\n<p>Benar, bahasa di lagu lawas Indonesia ini nggak kaku dan yang penting dapat tersampaikan. Hanya, jika memang arti sebaliknya yang dimaksud, ini agak fatal. Bagaimana mau dipahami dan pesannya dapat sampai, jika kode yang dikirim bertolak belakang. Jadi gagal emosional saat menikmati lagunya.<\/p>\n<p>Mungkin, problematika seperti ini kini bisa diminimalisasi karena KBBI sudah bisa diakses daring. Namun, saran saya untuk penulis lagu, nulisnya pas malam saja. Kalau siang, KBBI daring sering ngadat.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu tadi 3 lagu lawas Indonesia, yang liriknya bikin bingung. Mungkin akan nambah lagi kalau saya ingat, mungkin juga nggak. Saran saya, untuk nggak lupa menadaburi EYD dan KBBI daring, ya, kakak-kakak penulis lagu. Bhy!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Annisa Rakhmadini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-kangen-band-suka-pakai-kata-bintang-pada-lirik-lagunya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kenapa sih Kangen Band Suka Pakai Kata Bintang pada Lirik Lagunya?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n<div class=\"diperbarui\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perasaan saya gampang bingung ya sama khazanah lagu yang gitu-gitu aja.<\/p>\n","protected":false},"author":1833,"featured_media":189053,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[12870,15760,16845,16847,4066,16846],"class_list":["post-188997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-lagu-indonesia","tag-lagu-lawas","tag-lagu-lawas-indonesia","tag-once-mekel","tag-ungu","tag-vierra"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1833"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=188997"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188997\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=188997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=188997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=188997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}