{"id":188060,"date":"2022-08-30T15:00:58","date_gmt":"2022-08-30T08:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=188060"},"modified":"2025-11-25T13:03:03","modified_gmt":"2025-11-25T06:03:03","slug":"bika-ambon-si-manis-legit-yang-ternyata-berasal-dari-medan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bika-ambon-si-manis-legit-yang-ternyata-berasal-dari-medan\/","title":{"rendered":"Bika Ambon, si Manis Legit yang Ternyata Berasal dari Medan"},"content":{"rendered":"<p><em>Bika ambon: namanya Ambon, asalnya dari Medan. Dah lah.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian tahu hal menarik apa yang ada pada makanan? Yaitu fakta bahwa kehadirannya tak sekadar pengusir rasa lapar, tapi juga menjadi perpanjangan dari sejarah. Nggak usah jauh-jauh mengaitkan cikal bakal suatu makanan dengan peristiwa yang terjadi di zaman nenek moyang. Di dekat kita saja, pasti banyak hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan sejarah. Contohnya, kawanmu yang tiba-tiba membatu setiap kali melintas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/jogja-di-sepotong-sayap-olive-fried-chicken\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Olive Chicken<\/a>. Setelah diusut, ternyata Olive Chicken pernah jadi saksi bisu dua hati yang pernah bersama. Begitulah. Selalu ada cerita menarik di balik makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, berbicara soal sejarah atau cerita di balik makanan, saya jadi ingat pernah kegocek dengan salah satu kue, yang saya yakin namanya sudah tidak asing di telinga kita semua. Kue itu bernama bika ambon. Si manis legit bertekstur lembut ini, ternyata menghianati namanya sendiri. Jelas-jelas namanya \u201cbika ambon\u201d, elah jebul bukan berasal dari Ambon sebagaimana yang saya yakini, malah berasal dari Medan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penamaan makanan yang diikuti nama daerah asal memang jamak terjadi di dunia kuliner. Contohnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ragam-sate-kambing-tegal-batibul-balibul-semuanya-enaaak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate kambing Tegal<\/a>, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-gudeg-emperan-murah-dan-enak-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gudeg Jogja<\/a>, empek-empek Palembang, coto Makassar, dll. Penamaan ini, umumnya dimaksudkan supaya orang awam bisa langsung ngeh dari daerah manakah kuliner tersebut berasal. Namun, pada kasus bika ambon, identitas daerah yang menyertai bukan lagi sebagai penanda dari daerah mana makanan tersebut berasal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana sebenarnya kisah di balik bika Ambon yang jebul berasal dari Medan ini bermula?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal itu, ada banyak versi yang berkembang di masyarakat. Pertama, ada yang menyebut bahwa nama bika Ambon berasal dari dua kata, yakni \u201cbika\u201d atau \u201cbingka\u201d dan \u201cambon\u201d. Bika atau bingka, adalah kue khas Melayu yang menginspirasi terciptanya bika ambon. Bedanya dengan bika khas Melayu, bika ambon telah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mengalami modifikasi sedemikian rupa. Yakni, dengan menambahkan bahan pengembang berupa nira\/tuak enau, sehingga menghasilkan kue bika yang berongga. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kata \u201cambon\u201d, berasal dari nama tempat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pertama kali bika dijual dan populer, yaitu di simpang jalan Ambon-Sei Kera, Medan.<\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: 0;\" src=\"https:\/\/www.google.com\/maps\/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3981.973993776628!2d98.6879735!3d3.5934373999999996!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x303131bbd0bca681%3A0x8c5d474ec33a590c!2sJl.%20Ambon%2C%20Pandau%20Hilir%2C%20Kec.%20Medan%20Perjuangan%2C%20Kota%20Medan%2C%20Sumatera%20Utara%2020232!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1661846082825!5m2!1sen!2sid\" width=\"600\" height=\"450\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Versi kedua, nama bika Ambon mencuat kali pertama di masa kedatangan Belanda. Kala itu, ada seorang Tionghoa sedang membuat kue yang akan dijual kepada orang-orang Belanda di Medan. Kemudian, oleh orang Tionghoa tadi, kue tersebut ditawarkan kepada pendatang (Ada pula yang menyebut bahwa orang yang dimaksud adalah pembantu orang Tionghoa), yaitu seorang lelaki yang berasal dari Ambon. Sejak saat itulah muncul nama bika ambon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Versi ketiga, yaitu yang menyebut bahwa ada peran perantau dari Ambon di balik penamaannya. Dikisahkan, ada seorang warga Ambon hendak merantau ke Malaysia. Namun sebelumnya, si perantau ini singgah terlebih dahulu ke Medan. Selama di Medan, ia membuat dan memasarkan kue bika. Ndilalah, kue bika buatannya mencuri perhatian masyarakat hingga membuatnya populer dengan sebutan bika ambon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Versi keempat, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menyebut bahwa nama ini berkaitan dengan penggunaan bahasa Medan. Jadi, istilah \u201cambon\u201d dalam bahasa Medan memiliki arti lembut. Sesuai kan dengan tekstur kuenya yang lembut dan empuk? Meskipun, yah, ada referensi yang menyebut bahwa kata \u201cambon\u201d untuk menggambarkan sesuatu yang lembut sudah lama tidak dipergunakan lagi dalam bahasa Medan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, yaitu versi kelima adalah versi yang menyebut bahwa kata \u201cambon\u201d sebenarnya bukan merujuk pada Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, melainkan akronim dari Amplas Kebon. Jadi ceritanya, dulu ada sebuah daerah yang bernama Amplas. Amplas ini, terbagi jadi dua wilayah, yaitu barat dan timur. Oleh masyarakat, Amplas sebelah barat sering disebut dengan \u201cpabrik\u201d karena terdapat pabrik pengolahan latex. Sedangkan Amplas sebelah timur<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dijuluki\u201dkebon\u201d karena terdapat perumahan buruh atau barak dan kebun tembakau serta cacao.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diceritakan, bika ambon pertama kali diperkenalkan oleh seorang buruh transmigran asal Jawa yang menetap di Amplas kebon. Sehari-harinya, buruh tersebut membuat kue bika dan memasarkannya ke Medan. Cita rasa yang enak di lidah, membuat banyak orang jatuh hati. Alhasil, banyak yang tertarik untuk ikut membantu memasarkan kue tersebut. Dengan kata lain, jadi reseller, gitu. Maka, makin terkenal, deh, kue ini. Selanjutnya, orang-orang pun mulai menyebut kue ini dengan sebutan bika ambon, sesuai dengan akronim daerah tempat buruh transmigran ini tinggal, yaitu Amplas Kebon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, banyak juga, ya, versi asal muasal bika ambon yang berkembang di masyarakat. Di antara kelimanya, entah versi mana yang benar. Tapi, kebayang nggak, sih, kalau ternyata yang benar adalah versi yang kelima? Maka, jalan ceritanya akan jadi seperti ini: Bika Ambon, dibuat oleh orang Jawa, dan dipasarkan di Medan. Wow. Satu makanan tiga daerah, Bestie~<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Midori via <a href=\"http:\/\/Midori, CC BY 3.0 &lt;https:\/\/creativecommons.org\/licenses\/by\/3.0&gt;, via Wikimedia Commons\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Dyah Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/mencicipi-gudeg-jogja-di-medan-yang-diracik-orang-batak-karo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mencicipi Gudeg Jogja di Medan yang Diracik Orang Batak Karo<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h6>\n<h6><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lah, dari Medan?<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":188064,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1741,16763,399,1944],"class_list":["post-188060","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-ambon","tag-bika-ambon","tag-medan","tag-sejarah"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188060","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=188060"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188060\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/188064"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=188060"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=188060"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=188060"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}