{"id":188016,"date":"2022-08-30T11:00:13","date_gmt":"2022-08-30T04:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=188016"},"modified":"2022-08-30T10:09:14","modified_gmt":"2022-08-30T03:09:14","slug":"3-manfaat-papan-reklame-di-jogja-selain-sebagai-media-promosi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-manfaat-papan-reklame-di-jogja-selain-sebagai-media-promosi\/","title":{"rendered":"3 Manfaat Papan Reklame di Jogja Selain sebagai Media Promosi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja jelas punya ikatan yang kuat dengan iklan visual. Di zaman yang segala sesuatunya sudah didigitalisasi, iklan visual berupa papan reklame super besar di perempatan-perempatan masih dipakai. Belum lagi brosur-brosur yang ditempel di tiang-tiang listrik, bahkan di pagar-pagar pinggir jalan seperti belum akan dimakan zaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak zaman penjajahan (katanya) iklan visual ini sudah \u201cmenguasai\u201d Jogja. Sampai sekarang, ketika gelombang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/mental-silikon-pada-proyek-silicon-valley-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">industri 4.0<\/a> meledak, iklan visual masih menancap kuat di Jogja. Keresahan semua orang jelas pada sampah visual yang dihasilkan dari maraknya promosi jenis konvensional ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apakah papan reklame tersebut hanya jadi sampah visual? Atau yang untung dari keberadaan papan tersebut hanyalah orang yang berwenang dan si pengiklan? Nah, mari kita (coba) bedah manfaat papan reklame selain sebagai tempat beriklan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Tempat berteduh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali waktu saya sedang dalam perjalanan pulang ke Jogja di sore hari yang masih terasa betul panasnya. Untuk ukuran orang yang sering plesir, cuaca panas sore hari di Jogja itu juga bisa sedikit membikin gerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melewati perempatan Ringroad Utara-Condongcatur yang terkenal jadi tempat favorit para pengiklan menggunakan papan itu, badan dan hati saya sedikit lega. Beberapa papan reklame berukuran jumbo di sisi utara tempat motor saya berhenti benar-benar menunjukkan manfaatnya. Saya dan beberapa pengendara yang sedang berhenti di perempatan itu terhindar dari sinar matahari walau berlangsung lumayan singkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengalaman tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa selain sebagai media promosi, beberapa papan reklame di perempatan-perempatan jalan bisa jadi punya manfaat lain, macam yang saya praktikkan tersebut (sebagai tempat berteduh).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, ini tidak disarankan pada saat musim hujan atau cuaca sedang berangin. Berangkat dari pengalaman juga, bahwa beberapa papan reklame di Jogja menjadi sangat berbahaya pada waktu-waktu cuaca buruk. Beberapa kali papan reklame di perempatan Condongcatur dan sekitarnya ambruk dan bahkan menutup jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jatuhnya ya, merugikan sih.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Hiasan di jalan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan jika di Jogja tidak ada papan reklame. Sepanjang jalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/ring-road-yogya-dan-melarung-kesedihan-lewat-tangisan-sepanjang-jalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ringroad<\/a> mungkin hanya akan dihiasi oleh kabel semrawut dan tangisan kawula muda. Pemandangan kabel-kabel ini jelas tidak ada estetik-estetiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, membayangkan jika kabel-kabel yang \u201cmelilit\u201d hampir semua tempat di Jogja ini ditiadakan (atau dibenamkan ke dalam tanah), mungkin saja pemandangan di Jogja hanya akan monoton gitu-gitu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, keberadaan papan reklame yang sangat banyak ini bisa jadi hiasan yang mungkin tidak ada duanya di daerah lain. Papan reklame di Jogja itu bahkan sudah tidak bisa lagi dihitung dengan jari, dan ini bisa jadi akan membawa manfaat sebagai hiasan jalanan yang semakin menambah daya pikat wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya bisa saja papan reklame tersebut diganti pohon, atau hiasan beneran. Tapi, itu kan tidak menguntungkan. Kalau bisa estetik plus menguntungkan, ya kenapa tidak?<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kebijakan pemerintah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang publik selalu bersinggungan dengan kebijakan pemerintahan. Itu hal dasar yang bisa kita pahami sebagai langkah awal mengerti keberadaan papan reklame. Nah, di Jogja, kita akan mengerti apa saja yang jadi kebijakan pemerintahan sekadar melihat papan reklame ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya papan reklame bisa kita asumsikan sebagai begitu banyaknya \u201chal bijak\u201d yang berhasil diberikan pemerintah, tentu saja kepada para pengiklan ini. Maksud saya, para pengiklan ini kan pada dasarnya adalah pedagang. Paling nggak seperti itu sederhananya. Lalu mereka meminta \u201ckebijakan\u201d kepada pemerintah, lantas diberikan, lantas terjadi deal. Tentu saja kebijakan ini tadi akan ada urusan administrasi dan segala macamnya. Biasanya sih jadi duit. Tapi, kita tidak akan sampai ke pembahasan \u201chasil\u201d itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bahas dari sudut pandang lain. Bahwa banyaknya papan reklame di jalan yang notabene ruang publik sebenarnya bukan kebijakan bagus. Apalagi itu sampai mengganggu, dan memang beberapa kejadian, papan reklame justru menjadi <a href=\"https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/r5ln11314\/angin-kencang-papan-reklame-di-condongcatur-ambruk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">petaka<\/a> pengguna jalan yang juga adalah publik itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain banyaknya papan reklame, adalah perkara izin yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait papan ini tadi. Maksudnya, papan ini kan terkait ruang publik dan kepentingan publik. Kalau sudah macam jualan, ya nggak bagus juga buat warga Jogja. Ya kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi pada hakikatnya, kebijakan pemerintah terkait papan reklame ini seharusnya mengakomodasi kepentingan banyak orang, baik dari pengiklan juga dari masyarakat pemilik ruang publik itu sendiri. Karena jalan dan perempatannya kan juga milik publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya, seperti itu. Namun, di Jogja, segalanya nggak harus seperti seharusnya. Kalau seperti seharusnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/umr-yogyakarta-kisah-para-pekerja-dan-mitos-biaya-hidup-murah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR<\/a> sudah naik dari dulu. Ye kan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Taufik<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/jogja-terbuat-dari-rindu-pulang-angkringan-dan-baliho-reno-maju\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja terbuat dari Rindu, Pulang, Angkringan, dan Baliho Reno Maju<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h6>\n<h6><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa bilang cuman jadi sampah visual? Ngawoor klean.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":188030,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[115,16756],"class_list":["post-188016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jogja","tag-papan-reklame"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=188016"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188016\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/188030"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=188016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=188016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=188016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}