{"id":187382,"date":"2022-08-24T10:35:51","date_gmt":"2022-08-24T03:35:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=187382"},"modified":"2022-08-24T10:35:51","modified_gmt":"2022-08-24T03:35:51","slug":"3-lagu-lawas-indonesia-yang-liriknya-bikin-bingung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lagu-lawas-indonesia-yang-liriknya-bikin-bingung\/","title":{"rendered":"3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal Agustus 2022, saya pernah menulis kalau khazanah musik saya semasa sekolah itu sangat sempit. Saya hanya mendengarkan lagu dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/unpopular-opinion-belajar-bahasa-inggris-lewat-lagu-itu-nggak-recommended\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penyanyi yang itu-itu saja<\/a>. Yah, kalau sekarang, kamu bisa menganggapnya sebagai kebiasaan mendengarkan lagu lawas Indonesia. Untungnya, sekarang, sudah mendingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa sebab kenapa perbendaharaan lagu lawas Indonesia saya nggak banyak. Salah satunya, setiap kali mendengar lagu dalam bahasa yang saya pahami, alih-alih menikmati musiknya, nggak jarang saya malah jadi terlalu memikirkan liriknya dan berakhir capek sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau buat saya, ada 3 lagu yang kalau liriknya disimak secara serius, saya malah jadi bingung sendiri. Inilah dia:<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Nidji, Akhir Cinta Abadi (2007)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik dari lagu \u201cAkhir Cinta Abadi\u201d ini selalu sukses bikin saya bingung. Saya mencoba mengingat tujuan Nidji menulis lagu ini. Kalau tidak salah, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dewa-19-nidji-dan-sederet-band-indonesia-yang-masih-eksis-meski-ditinggal-vokalisnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nidji<\/a> mendedikasikan \u201cAkhir Cinta Abadi\u201d untuk ayah dari beberapa personel mereka yang sudah meninggal.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/cOKekZUQ6jw\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut penggalan lirik dari salah satu lagu lawas Indonesia yang bikin saya bingung kepikiran sekarang:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akankah kau melihatku saat &#8216;ku jauh<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akankah kau merasakan kehilanganku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jiwaku yang telah mati bukan cintaku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Janjiku selalu abadi hanya milikmu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku pergi dan takkan kembali<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir dari cinta yang abadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kali pertama mendengar lagu lawas Indonesia ini, saya langsung heran. Saya langsung kepikiran bahkan sejak membaca judulnya. Kenapa sesuatu yang abadi menemui akhirnya? Bukankah hal itu saling bertentangan? Katanya abadi, kok, berakhir? Sebelumnya, si Aku bilang yang sudah mati adalah jiwanya, tapi cintanya tidak. Lha kok sebait kemudian menyatakan cintanya yang abadi tadi itu berakhir. Maunya apa\u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, waktu itu saya nggak berhasil memahaminya karena masih SD. Namun, pas sudah sebesar sekarang, kok ya juga belum ketemu jawabannya, sih.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 D&#8217;Masiv, Cinta Ini Membunuhku (2008)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata yang membunuh itu bukan merokok, tapi cinta. Aduh, maafkan komedi dari saya ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut lirik intro lagu lawas Indonesia yang bikin saya gemas:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau membuatku berantakan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau membuatku tak karuan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau membuatku tak berdaya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau menolakku, acuhkan diriku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik ini sangat mengandung pertentangan. Katanya si Dia bikin berantakan, nggak keruan, dan nggak berdaya. Tapi, yang menulis lirik ini pakai kata \u201cacuh\u201d di bagian lirik: \u201cKau menolakku, acuhkan diriku.\u201d Lho, niatnya menolak kok malah peduli dan mengindahkan?<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/iz7hDDlW8yQ\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Rian, vokalis sekaligus yang menulis lirik lagu ini nggak paham arti acuh? Menurut <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keresahan-radiografer-yang-suka-dikatain-mandul-dan-profesinya-nggak-ada-di-kbbi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KBBI<\/a>, kata acuh itu punya arti \u2018peduli\u2019. Kan lagu lawas Indonesia ini jadi susah dipahami maksudnya. Saya jadi khawatir Uda Ivan Lanin tiba-tiba tersedak kopi waktu mendengarkan lirik ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Agnes Monica, Matahariku (2008)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi menaruh curiga kalau Rian D\u2019Masiv itu menulis lirik \u201cCinta Ini Membunuhku\u201d barengan sama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salty-benci-agnez-mo-karena-kesuksesan-weird-genius-itu-bentuk-sesat-pikir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Agnes Monica<\/a> waktu nulis \u201cMatahariku\u201d. Eh, yang menulis liriknya itu Agnes bukan, sih? Yah, terlepas dari fakta itu, kedua lagu ini kayak janjian untuk sama-sama menghadirkan kontradiksi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/4woKNwJWUgc\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Liriknya kayak gini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berjuta warna pelangi di dalam hati<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejenak luluh bergeming menjauh pergi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada lagi cahaya suci<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua nada beranjak aku terdiam sepi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut KBBI, kata bergeming itu bermakna \u2018tidak bergerak sedikit juga\u2019 atau \u2018diam saja\u2019. Namun, oleh entah siapa yang menulis lirik, kata bergeming disandingkan dengan frasa \u201cmenjauh pergi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah si penulis lagu memang sengaja? Ya kalau kamu mau mencoba memahaminya kayak gini bisa sih: \u201cWarna pelangi di dalam hati itu luluh. Lalu setelah luluh, warna-warni pelangi tadi diam dulu. Baru deh setelah diam, berjuta warna pelangi tadi pergi dari hati.\u201d Lebih masuk akal? Kecuali memang yang dimaksud adalah &#8220;sekejap luluh tak bergeming, menjauh pergi&#8221;. Lain, deh.<\/span><\/p>\n<h4><b>Selingkungnya penulis lirik?<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak bermaksud jadi manusia dogmatis yang apa-apa harus baku sesuai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ejaan_yang_Disempurnakan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">EYD<\/a>. Bahkan di tulisan ini saya nggak menyoal lirik lagu yang mengandung lema nggak baku seperti nafas disebut napas, atau embus dinyanyikan sebagai hembus. Saya menganggap itu \u201cselingkung penulis lirik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar, bahasa di lagu lawas Indonesia ini nggak kaku dan yang penting dapat tersampaikan. Hanya, jika memang arti sebaliknya yang dimaksud, ini agak fatal. Bagaimana mau dipahami dan pesannya dapat sampai, jika kode yang dikirim bertolak belakang. Jadi gagal emosional saat menikmati lagunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, problematika seperti ini kini bisa diminimalisasi karena KBBI sudah bisa diakses daring. Namun, saran saya untuk penulis lagu, nulisnya pas malam saja. Kalau siang, KBBI daring sering ngadat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Annisa Rakhmadini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-kangen-band-suka-pakai-kata-bintang-pada-lirik-lagunya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kenapa sih Kangen Band Suka Pakai Kata Bintang pada Lirik Lagunya?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>3 lagu yang bikin saya bingung sejak dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":1833,"featured_media":187416,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[7766,16706,16705,15760,8531,16707],"class_list":["post-187382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-agnes-monica","tag-dmasive","tag-lagi-lawas-indonesia","tag-lagu-lawas","tag-nidji","tag-top-40"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/187382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1833"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=187382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/187382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/187416"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=187382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=187382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=187382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}