{"id":187093,"date":"2022-08-20T07:41:03","date_gmt":"2022-08-20T00:41:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=187093"},"modified":"2022-08-20T07:41:03","modified_gmt":"2022-08-20T00:41:03","slug":"tragedi-di-balik-indahnya-wisata-pantai-pangandaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tragedi-di-balik-indahnya-wisata-pantai-pangandaran\/","title":{"rendered":"Tragedi di Balik Indahnya Wisata Pantai Pangandaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mekar menjadi kabupaten pada 2012, Pangandaran agaknya menjadi tempat wisata pantai yang semakin masyhur dan langganan berpelesir. Terutama bagi orang-orang kota seperti warga Bandung dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jadi-terlalu-baik-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah yang terletak di selatan Jawa Barat dekat Cilacap ini banyak menyuguhkan lokasi wisata pantai yang ciamik. Kamu bisa mengunjungi Pantai Pangandaran, Pantai Pasir Putih, Pantai Batu Hiu, Pantai Madasari, dan pantai-pantai lainnya yang membuat Pangandaran seolah-olah menjadi \u201cBali di Jawa Barat\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>Awal mula tragedi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, siapa sangka, daerah wisata pantai yang populer dan paling dekat bagi warga Jawa Barat ini menyimpan sejarah kelam. Sebuah kejadian pilu mengawali rentetan tragedi di Pangandaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian ini bermula pada tanggal 19 Januari 1999. Saat itu, penduduk Desa Cikembulan, Kecamatan Pangandaran, sedang menyemarakkan malam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-snack-lebaran-dengan-nama-unik-yang-biasa-dijumpai-di-magelang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lebaran<\/a> dan menyiapkan makanan untuk esok harinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih menjadi malam Lebaran yang hangat, malam itu berubah mencekam. Serombongan orang menyeret seseorang yang diduga dukun santet keluar dari masjid. Dia yang diduga dukun santet itu sedang mengumandangkan takbir ketika lehernya dijerat menggunakan kabel dan diseret keluar dari masjid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, rombongan orang tadi memasukkan si korban ke dalam truk. Rombongan tadi membawa si terduga ke Sungai Ciwayang yang berlokasi di Kecamatan Cigugur untuk dieksekusi lalu mayatnya dibuang ke sungai.<\/span><\/p>\n<h4><b>Pembantaian di Pangandaran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Geger tersebut adalah permulaan dari serangkaian peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang diduga sebagai dukun santet yang terjadi di Pangandaran pada periode awal 1999. Menurut laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), paling tidak terdapat 50 korban pembantaian yang ditemukan. Jumlah tersebut bisa saja bertambah karena sampai saat ini masih banyak sebagian warga yang tidak mau buka suara atas tragedi yang begitu mengerikan dan membekas di ingatan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaktu itu saya masih denger-denger sekilas, soalnya kejadiannya waktu SD atau SMP. Tapi memang waktu itu pas saya masih ngaji di masjid, ustaz di masjid itu ngeliburin kegiatan ngaji. Dia pesen ke anak-anak kalau ada yang nanyain ustaz, jangan dikasih tau,\u201d ujar Andi Nuroni (33) salah seorang pegiat literasi Rumah Baca Plankton Pangandaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian ini sebenarnya mirip dengan kejadian pembantaian terhadap terduga dukun santet di Banyuwangi setahun sebelumnya. Anehnya, tragedi itu banyak menyasar aktivis masjid, marbot masjid, dan orang-orang biasa yang sebenarnya jauh dari praktik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-skeptis-dengan-ilmu-hitam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ilmu hitam<\/a>.<\/span><\/p>\n<h4><b>Beda Pangandaran, beda Banyuwangi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dari yang terjadi di <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-pembantaian-dukun-santet-di-banyuwangi-tahun-1998-f95d\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi<\/a>, pembantaian di Pangandaran dilakukan secara terang-terangan. Bahkan, menurut penuturan beberapa orang, kejadian itu disaksikan puluhan warga. Menurut Budi Sa\u2019arin dalam jurnal berjudul \u201cPembunuhan Berkedok Santet di Ciamis Sebagai Pelanggaran Berat HAM\u201d, setidaknya terdapat dua kelompok pelaksana dalam operasi pembantaian dukun santet ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok pertama adalah kelompok yang bertugas mengidentifikasi calon korban. Penentuan calon korban merupakan dukun santet atau bukan ditentukan dari informasi yang sebenarnya hanya desas-desus di masyarakat. Sayangnya, masyarakat memercayai gosip itu begitu saja. Kebanyakan korban pembantaian ini, diduga, memiliki riwayat kriminal dan dibenci oleh masyarakat desa setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kelompok kedua, merupakan kelompok pembunuh yang memprovokasi beberapa orang untuk ikut membunuh korban secara sadis. Kelompok pembunuh tersebut berjumlah 100 hingga 200 orang bahkan mungkin lebih dan digerakan oleh satu sampai empat orang sebagai provokator. Tugas provokator ini adalah untuk menyeret calon korban ke tengah massa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembunuhan secara sadis itu dilakukan karena korban yang diduga dukun santet memiliki ilmu kebal tubuh. Si korban baru benar-benar mati bila dikoyak-koyak secara sadis. Karena sebagian masyarakat masih percaya takhayul, akhirnya tragedi tidak dapat terhindarkan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Sisa tragedi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah liputan investigasi Tempo berjudul \u201cKetika Teluh Menebar Maut\u201d, salah satu orang yang menggerakan massa dan sudah menyeret sekaligus membantai sampai puluhan korban tersebut sama sekali tidak merasa bersalah. Dia justru merasa bangga karena merasa sudah membantu masyarakat untuk membasmi \u201cmusuh warga\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andri Munandar, dalam tesisnya berjudul Kekerasan Massa terhadap Terduga Dukun Santet (Studi Kasus Pembunuhan yang Diduga Dukun Santet di Kabupaten Ciamis tahun 1998-2000), mengatakan bahwa kekerasan massa ini terjadi karena masyarakat merasa frustasi dengan beberapa dukun santet karena sulit untuk dibuktikan dalam perundangan-undangan hukum yang berlaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun begitu, kekerasan massa ini tentu saja sama sekali tidak bisa dibenarkan. Apalagi beberapa korban bahkan tidak memiliki sangkut pautnya dengan dunia ilmu hitam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, cerita tentang pembunuhan massal yang terjadi di Pangandaran semakin dilupakan. Beberapa warga di Pangandaran memilih untuk tidak menceritakan kejadian mengerikan yang traumatis itu. Bahkan beberapa remaja di Pangandaran sama sekali tidak pernah mengetahui ada pembantaian sadis di balik begitu banyaknya tempat wisata pantai yang indah di kampung halamannya tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ananda Bintang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tragedi-kemanusiaan-di-balik-tidak-lucunya-profesi-badut-jalanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tragedi Kemanusiaan di Balik (Tidak) Lucunya Profesi Badut Jalanan<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Air mata di Pangandaran.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":187122,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,2855,16671,5640,16670,8861,16669],"class_list":["post-187093","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-cilacap","tag-dukun-santet","tag-jawa-barat","tag-pangandaran","tag-tragedi","tag-wisata-pantai"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/187093","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=187093"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/187093\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/187122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=187093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=187093"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=187093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}