{"id":186987,"date":"2022-08-18T13:31:32","date_gmt":"2022-08-18T06:31:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186987"},"modified":"2022-08-18T13:31:32","modified_gmt":"2022-08-18T06:31:32","slug":"5-kebohongan-tentang-kota-semarang-yang-telanjur-dipercaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kebohongan-tentang-kota-semarang-yang-telanjur-dipercaya\/","title":{"rendered":"5 Kebohongan tentang Kota Semarang yang Telanjur Dipercaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang memiliki banyak hal unik yang menarik, sehingga sering memberikan kesan mendalam bagi yang pernah berkuliah, bekerja, ataupun berlibur di Kota Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kata teman saya, Semarang itu kota romantis, lucu, dan ngeselin terutama bagi para mahasiswa perantau. Romantis karena banyak scene-scene asmara yang tercipta, lucu karena banyak momen-momen kocak terjadi, dan ngeselin karena banyak tangis dan sedih yang membersamai setiap mahasiswa perantau yang sedang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-undip-atau-unnes-kampus-paling-unggul-di-semarang-adalah-uin-walisongo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menimba ilmu<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seseorang yang lama tinggal di Semarang, tentu saya tidak menepis hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, selayaknya kota-kota di Indonesia yang sering dicitrakan dan dipersepsikan beragam oleh pendatang atau perantau, Semarang juga punya sisi &#8220;kebohongan&#8221; tersendiri. Kebohongan-kebohongan itu bisa positif, bisa juga negatif. Setidaknya ada lima Kebohongan yang menurut saya perlu diketahui oleh para Jamaah Mojokiyah.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Biaya hidup mahal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita buka dengan bahasan yang positif. Kebohongan yang sering dilempar oleh banyak orang soal Semarang adalah perkara biaya hidup. Sebagai Ibu Kota Provinsi, sering kali Semarang dikorelasikan dengan biaya hidup yang mahal. Ketika mengetik &#8220;kota dengan biaya hidup mahal&#8221; di mesin pencarian, muncul banyak artikel yang menyebut Semarang sebagai salah satu kota dengan biaya hidup yang mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar akan terlihat mahal kalau yang dijadikan parameternya kehidupan di area kawasan Pemuda atau Pandanaran. Dua kawasan tersebut merupakan kawasan elit dan pusat perekonomian Kota yang perputaran uangnya sangat cepat dengan nominal yang tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi coba ke kawasan Ngaliyan, Mijen, Genuk, Pedurungan, atau kawasan-kawasan di luar pusat kota, biaya hidupnya masih dapat dijangkau oleh individu yang pendapatan per bulannya di angka 1 jutaan. Lah untuk kebutuhan dasar seperti makan saja seminggu 100-150 ribu masih cukup kok. Kos-kosan standar layak huni masih di kisaran 200-300 ribu per bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2019, saya pribadi menghabiskan uang untuk biaya hidup tidak lebih dari satu juta. Sekarang, pada 2022, ketika saya konfirmasi ke teman-teman saya yang bekerja di Semarang, biaya hidup ditambah gaya hidup (dikit-dikit) tidak menghabiskan lebih dari 2 juta. Jadi untuk kamu yang ingin merantau di Semarang, jangan khawatir dengan biaya hidup.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Wingko babat, oleh-oleh khas Semarang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pulang dari Jawa (Semarang) jangan lupa bawa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wingko-babat-kok-jadi-makanan-khas-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wingko babat<\/a> ya!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permintaan itu selalu diucapkan oleh seorang teman ketika saya pulang kampung. Dia dan mungkin kalian, pasti meyakini bahwa wingko babat adalah makanan khas Semarang. Bahkan orang Semarang pun mengklaim sendiri bahwa wingko babat itu ya khas Semarang. Saking kuatnya anggapan itu, dibungkusnya pun disematkan ilustrasi kereta api yang menggambarkan Semarang sebagai jalur strategis perdagangan tempo dulu melalui stasiun Tawangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau ditelusuri sejarahnya, wingko babat, sebagaimana kata &#8220;babat&#8221; yang menjadi namanya merupakan jajanan khas dari daerah Babat, Lamongan. Wingko telah dijadikan oleh-oleh khas dari Babat Lamongan jauh sebelum adanya wingko babat yang ada di Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kebohongan&#8221; sejarah ini bermula ketika ada seorang perantau dari Babat yang mulai memproduksi wingko dan menjajakan wingko buatannya ke kios-kios sederhana dekat stasiun kereta api Semarang Tawang. Stasiun yang merupakan lokasi strategis yang banyak didatangi pengunjung dan perantau dari berbagai wilayah akhirnya mengiyakan begitu saja ketika Wingko dijajakan dengan embel-embel makanan khas Semarang. Akhirnya, \u201ckekeliruan\u201d tersebut menyebar ke seantero Indonesia<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Johar adalah pasar terbesar se-Asia Tenggara<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski saat ini telah telah direlokasi dan mengalami penyusutan ukuran yang cukup signifikan, Pasar Johar adalah episentrum dari aktivitas perekonomian masyarakat Kota Semarang untuk beberapa dekade ke belakang. Pasar Johar berdiri pada 1930-an, namun secara eksistensi mulai dikenal pada tahun 80-an ketika semarang benar-benar menjadi hub perdagangan di Pulau Jawa. Pada saat itu, para pedagang berjualan di sebelah timur Alun-alun Kota Semarang. Nama Pasar Johar ini diambil dari pohon johar yang tumbuh di daerah pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena aktivitasnya yang padat dengan cakupan wilayah yang cukup luas, serta para pedagang yang berasal dari berbagai etnik, membuat para pedagang asli Kota Semarang menciptakan klaim bahwa Johar adalah <a href=\"https:\/\/jateng.liputan6.com\/read\/4876604\/riwayat-pasar-johar-yang-pernah-dinobatkan-sebagai-pasar-terbesar-asia-tenggara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Terbesar se-Asia Tenggara<\/a>. Klaim ini bertujuan untuk mempengaruhi orang-orang di daerah lainnya untuk datang dan ikut melakukan transaksi ekonomi di Pasar Johar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau berbicara mengenai pasar terbesar, Johar harus bersaing dengan pasar tradisional lainnya seperti Pasar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/denah-pedagang-pasar-beringharjo-lantai-1-gedung-barat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Beringharjo<\/a> di Yogyakarta, Pasar Tanah Abang di Jakarta, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tempat-bersejarah-di-kota-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Klewer di Solo<\/a>, atau bahkan Pasar Apung di Kalimantan. Berlebihan juga kalau disebut terbesar se-Asia Tenggara.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Kota terbersih se-Asia Tenggara<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang mendapatkan predikat sebagai Kota terbersih se-Asia Tenggara dari ASEAN Clean Tourist City untuk tahun 2020-2022. Entahlah, penghargaan ini terkesan agak konyol dan sangat terlihat kebohongannya jika dibandingkan dengan realitas sampah yang menjadi penyakit akut Kota Semarang. Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang mengatakan, Kota Semarang menghasilkan 1200 ton sampah plastik setiap harinya. Sekitar 800 ton di antaranya harus dilempar ke TPA Jatibarang yang sejak lama mengalami over capacity.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari lihat bagaimana kumuh dan terbengkalainya Kampung Nelayan Tambakrejo yang terletak di sekitar 2,5 km dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Di sana kita bisa melihat tumpukan sampah berkumpul menjadi satu seperti sebuah daratan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau coba kita lihat sudut-sudut pemukiman di daerah Semarang Timur yaitu Genuk, yang sedang berjuang melawan masalah sampah yang menerpa. Itulah sedikit contoh potret sampah di Semarang, yang bisa jadi bantahan atas gimmick Semarang sebagai Kota terbersih se-Asia Tenggara.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Kota yang ramah dengan pejalan kaki<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Semarang pernah mendapat predikat sebagai kota yang ramah dengan pejalan kaki pada 2017 oleh situs direktori wisata WeG. Sejumlah ruas jalan di Kota Semarang yang menjadi contoh di antaranya adalah jalur pedestrian di Jalan Veteran, Jalan Diponegoro, Jalan Madukoro, serta Jalan Imam Bonjol Semarang. &#8220;Street furniture\u201d di jalur pedestrian seperti pot bunga, taman, kursi, dan lampu untuk memberi kenyamanan bagi pejalan kaki menjadi bagian yang diupayakan oleh Pemkot Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya hanya di kawasan itu-itu saja yang diberikan secara khusus infrastruktur untuk pejalan kaki. Kesannya hanya untuk memfasilitasi kalangan elit yang berlalu lalang di kawasan itu. Bahkan saat ini banyak infrastruktur tersebut yang tidak dirawat dengan baik sehingga rusak dan terbengkalai. Ini kesannya seperti seseorang yang mencitrakan diri sebagai orang yang ramah, tapi ramahnya hanya di depan saja, musiman, dan tergantung situasi serta kondisi hati. Tentu ini menjadi sebuah kebohongan kebijakan yang ditutupi dengan sedikit kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah itulah beberapa kebohongan yang saya rasa masih diagung-agungkan hingga sekarang. Kebohongan-kebohongan itu tetap lestari menjadi konsensus yang kadang membuat orang mencak-mencak ketika ada yang menyangkal. Kalau kalian merasa tulisan ini tidak sesuai dengan apa yang kalian tahu, mungkin kalian bagian dari orang yang mencak-mencak itu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-fakta-keliru-terkait-semarang-yang-telanjur-dipercaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Fakta Keliru Terkait Semarang yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Klaim-klaim yang berlebihan.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":174973,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[7539,5275,10003,16654,13098],"class_list":["post-186987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-biaya-hidup","tag-kebohongan","tag-kota-semarang","tag-pasar-johar","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/174973"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}