{"id":186811,"date":"2022-08-19T11:39:09","date_gmt":"2022-08-19T04:39:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186811"},"modified":"2022-08-19T11:39:09","modified_gmt":"2022-08-19T04:39:09","slug":"desa-kertawangi-pesona-desa-wisata-di-cisarua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-kertawangi-pesona-desa-wisata-di-cisarua\/","title":{"rendered":"Desa Kertawangi: Pesona Desa Wisata di Cisarua yang Belum Diketahui Orang Banyak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang menganggap bahwa ide brilian banyak muncul dari masyarakat urban dengan background pendidikan setinggi langit. Namun, anggapan tersebut terpatahkan saat kami bertamu selama 45 hari sebagai mahasiswa KKN di sebuah desa wisata di kaki Gunung Burangrang. Namanya Desa Kertawangi di Kecamatan Cisarua.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Permata di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara administratif, Desa Kertawangi berada di bawah pemerintahan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kehidupan-rakyat-jawa-barat-tidak-seindah-postingan-ridwan-kamil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Barat<\/a>. Konon, nama Desa Kertawangi adalah perpaduan dua kata dalam Bahasa Sanskerta, yaitu kerta yang berarti \u2018kaya\u2019 dan wangi yang bermakna \u2018harum\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, ada satu hal yang ingin saya tegaskan supaya pembaca tidak tersesat. Jadi, nama \u201cCisarua\u201d itu nggak cuma ada di Bogor. Ingat, ya, Bandung Barat, di mana Desa Desa Kertawangi berada, juga punya Cisarua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita memasukkan kata kunci \u201cCisarua\u201d ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-fitur-rahasia-google-maps-yang-jarang-diketahui-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google<\/a>, hasil pencarian dominan merujuk ke sebuah wilayah di Bogor. Oleh sebab itu, mungkin, hal ini yang bikin Desa Kertawangi kurang terekspose media karena mayoritas merujuk ke Cisarua di Bogor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau ngomongin soal potensi wisata, Desa Kertawangi di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, tidak boleh dipandang sebelah mata. Agrowisata, greenhouse, curug, dan camping ground jadi beberapa andalan desa wisata ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Melirik Desa Kertawangi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai namanya, desa di Kecamatan Cisarua ini menyimpan segudang pesona sumber daya alam. Ketika masyarakat bisa mengolah sumber daya alam secara efektif, saya yakin perekonomian Desa Kertawangi akan semakin terangkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, idealnya, kita harus bisa menyeimbangkan kekayaan sumber daya alam dengan kecakapan sumber daya manusia, terutama warga setempat. Tentu sangat ironis ketika bukan warga setempat yang malah menguasai, mampu mengelola, dan mendapatkan keuntungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebesar itu potensi Desa Kertawangi? Saya, sih, sangat meyakini anggapan itu. Bahkan, bagi saya, desa di Cisarua itu Wakanda-nya Jawa Barat. Selain kekayaan alamnya yang nyata, warga Desa Kertawangi sangat kreatif dan tak berhenti berinovasi. Mari saya ceritakan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Desa wisata yang dikelola secara efektif<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa wisata Kertawangi sendiri mengusung konsep Big Farmer sebagai grand design. Mereka ingin menjadikan para petani sebagai tuan rumah. Oleh sebab itu, orientasi desa di Kecamatan Cisarua adalah konsep petani yang sejahtera dan juga kuat di banyak bidang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah banyak desa wisata yang mengalami salah kelola, ketika dominasi kepentingan ekonomi terlalu kuat. Alhasil, kesejahteraan warga setempat jadi terpinggirkan. Lingkungan di sekitar desa wisata jadi tidak terawat dengan baik. Semuanya terlalu fokus ke objek-objek wisata, tapi manusia di dalamnya tidak sepenuhnya sejahtera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya ketika sebuah desa mengalami ledakan sensasi atau viral. Wisatawan membludak dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengendara-motor-adalah-kasta-ketiga-di-tempat-parkir-mal-mewah-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tempat parkir kendaraan<\/a> tidak dikelola dengan baik. Nah, biasanya, kejadian ini diiringi kegagapan pengelola objek wisata dalam hal pengelolaan sampah. Untungnya, Pemdes Kertawangi sadar betul akan hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemdes berhasil merangkul generasi muda desa untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Kelompok ini mendapat amanah mengelola potensi wisata alam tanpa mengesampingkan eksistensi warga setempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh konkretnya, para pemilik lahan akan ditawari menjadikan lahannya sebagai wisata kebun (petik buah, tanaman hias, dan sebagainya). Sedangkan yang tak punya lahan dapat berkontribusi menyediakan homestay bagi para wisatawan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bersama Pokdarwis, semua potensi ekonomi warga dapat tereksplore dan dikelola secara terintegrasi. Hal inilah yang membuat kami jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertamu dengan Kang Anggi dan Kang Made sebagai anggota Pokdarwis yang ngantor di Tourism Information Center (TIC) Kertawangi.<\/span><\/p>\n<h4><b>Jago mengelola sampah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal pengelolaan sampah, Desa Kertawangi ini memang jago. Saya sendiri jarang menjumpai tempat sampah di sini. Namun, faktanya, pemandangan sampah yang dibuang sembarangan itu hampir tidak saya temukan. Ke mana larinya larinya sampah-sampah limbah konsumsi rumah tangga? Dibuang ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tempat_pembuangan_akhir\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tempat Pembuangan Akhir<\/a> (TPA)? Nggak juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eloknya, warga desa di Kecamatan Cisarua ini berprinsip bahwa membuang sampah di TPA yang umumnya berada di luar desa adalah sebuah tindakan zalim. Lho, kok bisa?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, warga desa menilai bahwa membuang sampah ke TPA sama artinya dengan memindahkan sampah kita ke daerah lain. Risikonya, warga di sekitar TPA pasti terganggu dengan keberadaan sampah warga Desa Kertawangi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, warga desa wisata ini berkomitmen tidak mau mengotori daerah lain dengan sampah yang mereka produksi sendiri. Pengelolaan sampah harus selesai di \u201crumah mereka\u201d tanpa melemparnya ke desa lain. Ini sikap yang luar biasa. Wajib ditiru desa-desa wisata lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, Pemdes di bawah komando Yanto bin Surya (nama populernya adalah Steve Ewon) mencanangkan program \u201cKampung Kurang Sampah\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHah, berarti harus ditambahi sampah?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak begitu juga konsepnya, dong! Bagian \u201ckurang sampah\u201d di sini berarti \u201cguna mengurangi sampah\u201d. Jadi, sampah dari berbagai RW dipungut dengan motor Tossa oleh petugas untuk kemudian dibakar di lokasi pembakaran yang tak jauh dari Curug Cimahi (Curug Pelangi).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian sampah plastik disortir dan diolah menjadi kerajinan, misalnya menjadi bata plastik. Begitulah kurang lebih hasil ngobrol kami dengan salah seorang pengelola Kampung Kurang Sampah yang kebetulan sedang piket jaga di titik pembakaran.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bagaimana dengan polusi udara dari hasil pembakaran sampah?<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembakaran memang dipilih sebagai alternatif utama daripada harus ekspor sampah ke desa lain. Langkah ini diambil guna mengurangi risiko menumpuknya sampah di Desa Kertawangi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembakaran sampah juga diterapkan secara individu di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, problem manajemen sampah selesai sejak dini di ranah rumahan. Lalu, kualitas udara apa kabar?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyaknya daerah hijau ( pohon dan tumbuhan yang lebat) membuat warga desa optimis bahwa emisi karbon hasil pembakaran sampah masih cukup bermanfaat bagi tumbuhan untuk \u201cdimasak\u201d (baca: fotosintesis) dan menghasilkan gas buangan berupa oksigen kembali. Yah, meski ide ini sempat kami anggap tak cukup solutif, tapi setelah sharing dengan salah seorang pegawai di lokasi pembakaran sampah, kami mulai tercerahkan dan manggut-manggut kagum. Kok bisa, hal sekecil itu pun tetap dikaji oleh mereka. Untuk keberlangsungan kelestarian lingkungan jangka panjang tentunya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Limbah jadi rezeki<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi, di Desa Kertawangi, banyak limbah yang nyaris tak terbuang. Limbah kotoran sapi, bisa jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-menanam-tomat-di-pekarangan-supaya-berbuah-lebat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pupuk kompos<\/a> dan biogas mandiri (rumahan), limbah baglog (media) jamur jadi media ternak cacing penyubur tanah, dan sebagainya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa wisata di Kecamatan Cisarua ini punya SDM yang mampu mengendalikan perputaran siklus limbah jadi olahan berharga dan kembali dimanfaatkan untuk olahan lainnya. Hal ini dilakukan dengan peralatan seadanya tanpa teknologi mesin impor atau sejenisnya. Canggih bukan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, namanya juga ide out of the box. Desa Kertawangi selalu berhasil mengejutkan kami dengan hal-hal kece yang tak pernah terduga dan terlintas pada isi kepala kami. Respect.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Moh. Jamalul Lail<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-cinunuk-wisata-religi-di-garut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Desa Cinunuk, Wisata Religi di Garut yang Sarat Sejarah<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang menganggap bahwa ide brilian banyak muncul dari masyarakat urban dengan background pendidikan setinggi langit. Namun, anggapan tersebut terpatahkan saat kami bertamu selama 45 hari sebagai mahasiswa KKN di sebuah desa wisata di kaki Gunung Burangrang. Namanya Desa Kertawangi di Kecamatan Cisarua.\u00a0 Permata di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat Secara administratif, Desa Kertawangi berada di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1918,"featured_media":187070,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16666,9819,16665,16664,13218,5640],"class_list":["post-186811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung-barat","tag-bogor","tag-cisarua","tag-desa-kertawangi","tag-desa-wisata","tag-jawa-barat"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1918"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186811"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186811\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/187070"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}