{"id":186577,"date":"2022-08-12T12:13:50","date_gmt":"2022-08-12T05:13:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186577"},"modified":"2022-08-12T12:13:50","modified_gmt":"2022-08-12T05:13:50","slug":"sego-sambel-pak-edi-makanan-khas-jember","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sego-sambel-pak-edi-makanan-khas-jember\/","title":{"rendered":"Sudah Saatnya Jember Menobatkan Sego Sambel Pak Edi Sebagai Makanan Khas yang Baru"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya dan teman-teman yang asli Jember, makanan khas bernama suwar-suwir itu kurang menarik. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kenapa begitu? Kalau ngomongin makanan khas, menurut saya, ada yang lebih cocok ketimbang suwar-suwir. Makanan yang saya maksud adalah sego sambel Pak Edi. Dari namanya saja sudah jelas kalau kuliner ini bos besarnya adalah Pak Edi sendiri.<\/span><\/p>\n<h4><b>Mengintip warung sego sambel Pak Edi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Pak Edi terletak di pusat kota, berada di gang sempit Jalan Semeru, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Sudah berada di gang sempit, warung yang sudah buka sejak 1996 ini berdekatakan dengan kandang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-perasaan-anak-ayam-warna-warni-yang-dijual-di-pasar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ayam pula<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dekorasi warung yang seadanya menjadi patokan bagi orang Jember atau pendatang yang belum tau warung Pak Edi. Sebuah warung sederhana yang kalau orang melihatnya pasti muncul kesimpulan: harga satu bungkus sego sambel Pak Edi pasti murah banget dan anggapan itu benar adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, warung ini dikelola langsung oleh Pak Edi dan istrinya. Sekarang, pengelolaan warung dikelola oleh anaknya yang bernama Nevi Kurniawati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Pak Edi ini memiliki luas seperti 2 kamar kos yang dijadikan satu. Jadi memang tidak begitu luas. Di sisi terjauh dari pintu masuk, ada sebuah meja kayu yang terlihat setua pemiliknya. Nah, di situlah nasi bungkus legendaris itu diracik. Untuk para pelanggan, disediakan 1 meja besar, 2 kursi panjang, dan 1 kursi kayu anyam sebagai tempat makan. Sangat sederhana untuk ukuran warung makan di Jember.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dekat meja yang dipakai untuk meracik nasi bungkus ada keranjang bambu tempat gorengan yang biasanya masih hangat. Di sisi kanan, ada etalase yang berisi minuman berenergi sasetan. Nah, kalau mau minumnya air putih bisa langsung menuang dari teko plastik. Gratis. Mosok banyu tok ditarik duek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di meja koki tersebut terdapat cobek besar untuk membuat sambal. Inilah pertunjukkan paling memanjakan mata di warung Pak Edi, yaitu aksi mengulek sambal dengan porsi jumbo. Sambal yang adiluhung, membuat nafsu makan makin memuncak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk pegawai, sejauh amatan saya, cuma ada 4 orang. Satu orang bagian memasak nasi, lalu ada yang bertugas mengulek sambal sembari membungkus pesanan pesanan, ada yang tugasnya menggoreng gorengan, dan terakhir bertugas menyiapkan minuman.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menu yang dijajakan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari lanjut ke isian sego sambel Pak Edi yang mulai menguasai khazanah kuliner Jember. Dalam 1 bungkus biasa ada nasi dengan porsi standar. Satu yang khas dari sego Pak Edi adalah sayur daun pepaya yang selalu melengkapi. Rasanya agak pahit, dengan paduan rasa asin dan gurih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu sambal yang membuat 1 porsi sego sambel Pak Edi jadi paripurna. Sambal itu diulek menggunakan cobek berukuran besar. Komposisinya sih sederhana, yaitu cabai, terasi yang sudah dibakar biar harum, tomat yang sudah digoreng sampai layu, garam, gula, dan nggak pakai penyedap rasa. Pedas yang pas dan rasa nikmat dari sambal selalu tertinggal di lidah. Membuat siapa saja selalu ingin tambah nasi. Salah satu pesona legenda Jember satu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sambal yang nikmat itu, primadona warung Pak Edi adalah telur tepung. Ini juga jadi salah 1 menu andalan yang harus hadir di setiap bungkus. Telur tepung itu gampang dibuat, kok, persis seperti telur dadar. Hanya, persentase tepung sudah pasti lebih banyak dari telur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tekstur telur tepung ketika belum digoreng hampir mirip <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/doffle-kuliner-pendatang-baru-yang-siap-menggeser-croffle\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">adonan roti<\/a>, meski tidak sepadat itu. Kerennya, rasa telurnya sendiri tidak hilang ditelan tepung.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Harga yang bersahabat<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Pak Edi memiliki rate harga yang sangat bersahabat. Sebungkus porsi biasa itu Rp5.000. Untuk porsi jumbo, Rp6.000. Nah, kalau mau porsi super jumbo, harganya Rp7.000 saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap rate memiliki perbedaan yang tidak signifikan, setiap varian itu tadi hanya berubah di banyaknya nasi saja. Selebihnya masih sama, tapi ya kalau mujur nanti sambalnya bisa minta tambah. Inilah yang bikin sego Pak Edi cepat terkenal di Jember.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada juga menu lainnya yang bisa kamu comot sebagai kondimen. Ada gorengan, terong balado, cakalan, tongkol, dan lain sebagainya. Sayurnya juga kadang berubah, kadang daun pepaya, kadang juga terong. Tergantung mood yang masak, sih. Untung selalu enak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Pak Edi sendiri mulai beroperasi mulai pukul 9 pagi, hingga 9 malam dan buka setiap hari. Tapi kadang juga tutup seenaknya saja. Aneh banget.<\/span><\/p>\n<h4><b>Popularitas warung sego sambel Pak Edi di Jember<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Popularitas warung Pak Edi di Jember naik dengan cepat. Ya kalau asli Jember, biasanya langsung tahu. Nah sekarang, para pendatang, terutama mahasiswa, sudah mulai mengenal dahsyatnya sambal di sego Pak Edi. Harga yang bersahabat, porsi besar, dan rasa terjamin itu sudah pasti \u201csahabat mahasiswa\u201d banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melakukan pengamatan selama beberapa hari, satu aspek yang membuat warung Pak Edi ini jadi buah bibir adalah soal harga. Yah, sama seperti \u201cwarung rakyat\u201d lainnya, ketika soal harga jadi faktor terpenting. Dulu, market warung Pak Edi adalah mereka yang mau ngirit dan tetangga kanan dan kirinya yang lagi malas masak. Namun, kini, semuanya berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dibuat tersenyum tipis ketika terakhir ke sana beberapa minggu yang lalu. Yang rela mengantre bukan hanya mahasiswa dan tetangga kanan kiri. Saya melihat banyak orang kantoran ternama di Jember yang rela berdesak-desakan di warung sempit itu. Mereka makan dengan lahap ditemani es <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pop-ice-raja-minuman-sachet-dan-4-rivalnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nutrisari<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, saya melihat beberapa warung baru muncul tidak jauh dari warung Pak Edi. Menunya juga sama, sambel dengan berbagai kondimen. Bahkan kondisi warungnya bisa dibilang lebih layak. Namun, warung-warung baru itu sepi. Tidak punya power ajaib untuk menandingi olahan tangan sakti Pak Edi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman saya di Jember menyebut warung-warung itu dengan istilah \u201cEdi KW\u201d. Warung yang hanya kebagian pelanggan ketika nasi telur tepung \u201cEdi Ori\u201d sudah habis atau kebetulan warung lagi tutup karena yang masak lagi nggak mood kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Marketing Gusti Allah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Pak Edi itu wujud dari \u201cwarung-warung tradisional\u201d yang enggan dibuat ribet sama media sosial. Yah, selain karena pegawainya cuma 4 dan semuanya sudah sibuk sama tugas masing-masing, warung Pak Edi murni mengandalkan kekuatan terbesar dari sebuah usaha sukses, yaitu kualitas menu yang disajikan dan kekuatan promosi dari mulut ke mulut di sekitar Jember.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Edi tidak pernah punya rencana untuk membuat Instagram atau media sosial lainnya sebagai usaha promosi. Mereka bekerja dengan batasan diri sendiri, tidak mau terlalu \u201crakus\u201d mengejar profit. Pokoknya masak saja yang enak, pelanggan pasti datang sendiri. Bagi saya, inilah wujud marketing Gusti Allah. Manusia berusaha sebaik mungkin, Gusti Allah menunjukkan jalannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, atas dasar kesederhanaan, kualitas nasi bungkusnya, dan harga bersahabat, saya mengusulkan sego sambel Pak Edi jadi <a href=\"https:\/\/hot.liputan6.com\/read\/4449233\/12-wisata-kuliner-jember-yang-khas-sudah-melegenda-dan-harganya-terjangkau\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">makanan khas<\/a> Jember. Sudah saatnya lebih banyak orang, khususnya di Jember, untuk mencicipi sambal Pak Edi yang dahsyat dan telur tepung yang legendaris itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, berkat harganya yang murah, sego Pak Edi menjadi penyelamat banyak orang di Jember ketika harus bertahan hidup di tengah desakan hidup. Urusan perut itu sangat krusial dan Pak Edi menyediakan asupannya secara bersahaja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ricky Karunia Ramadhan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rumah-makan-terdekat-dari-universitas-jember-rekomendasi-mahasiswa-yang-beneran-kere\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rumah Makan Terdekat dari Universitas Jember: Rekomendasi Mahasiswa yang Beneran Kere<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Please welcome, sego sambel Pak Edi.<\/p>\n","protected":false},"author":1914,"featured_media":186579,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2501,8794,16589,16591,16590,16592],"class_list":["post-186577","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jawa-timur","tag-jember","tag-makanan-khas-jember","tag-sambal-terasi","tag-sego-pak-edi","tag-sego-sambel"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1914"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186577"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186577\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}