{"id":186260,"date":"2022-08-11T10:32:04","date_gmt":"2022-08-11T03:32:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186260"},"modified":"2022-08-11T10:32:04","modified_gmt":"2022-08-11T03:32:04","slug":"culture-shock-orang-surabaya-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-surabaya-di-jogja\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah 4 Tahun di Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Per Mei 2022 yang lalu, saya sudah genap empat tahun mukim di Jogja. Rasanya, bisa menghabiskan tahun-tahun tersebut di daerah yang istimewa ini adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Terlebih, sebelumnya, ketika masih tinggal di Surabaya, mendapatkan KTP Jogja adalah sebuah cita-cita agung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun di sisi lain, sebagai pendatang, tentu saya punya sejuta hal yang menjadi pertanyaan penting, \u201cDi sini ternyata begini to?\u201d Maksud saya, sebagai orang yang sudah sering mengunjungi banyak kota sejak kuliah, rasanya memahami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-jogja-saat-kulineran-di-tegal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">culture shock<\/a> setelah tinggal beberapa waktu lamanya di suatu daerah itu bikin saya sendiri juga kaget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pindah ke Jogja dari Surabaya (bahkan setelah sekian lama), ada beberapa hal yang membuat saya mengalami culture shock berikut ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Bahasa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya, bicara dengan mode \u201ccak-cok\u201d khas Suroboyoan itu adalah sesuatu hal yang mantap sekali. Saya menganggap orang Jawa pada umumnya juga melakukan hal ini. Anggapan ini saya bawa ke mana saja bahkan setelah pindah ke Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau tidak se-cak-cok Surabaya, di Jogja dan beberapa daerah lain di sekitarnya toh mengenal diksi \u201ckotor\u201d ini. Hanya saja, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-oleh-oleh-khas-surabaya-selain-sambal-bu-rudy-dan-kaos-cak-cuk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cak-cok<\/a> versi Suroboyo itu selalu dianggap lebih kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan itu, rupa-rupanya juga melekat dalam segi bahasa Jawa secara keseluruhan. Bahasa Jawa Surabaya dan Jogja itu punya hal yang cukup berbeda. Dan itu menjadi culture shock yang cukup bikin kepala saya pening.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu ketika misalnya, saya ditanya teman perihal pekerjaan kantor. Oleh karena redaksional pertanyaan yang berbahasa Jawa, ya saya jawab pake bahasa Jawa juga dong. Gila kali udah tinggal di Jawa (Surabaya) selama sewindu, masih tidak bisa bahasa Jawa. Namun ternyata jawaban saya justru bikin si teman bingung. \u201cWes mari,\u201d yang dalam bahasa Jawa Surabaya berarti sudah selesai, di Jogja diartikan berbeda, yakni \u201csudah sembuh.\u201d Mumet nggak, kon?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi tutur \u201chalus\u201d kebanyakan orang-orang Jogja yang jarang sekali saya temukan di Surabaya di waktu-waktu lalu. Maksudnya, saya cukup khawatir dengan culture ini. Saya takut bahwa suatu ketika, bahasa keras khas Surabaya yang sudah melekat dalam lidah saya suatu waktu luntur begitu saja. Kan ya saya juga yang repot.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Makanan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai empat tahun lebih di Jogja, ada beberapa jenis makanan yang bikin saya shock ketika memesannya (udah tahu bakal shock malah dipesan, orang Indonesia banget ini mah). Saya membandingkan nasi goreng khas Surabaya dan Jogja dan menemukan \u201ckeunikan\u201d berikut ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Surabaya, nasi goreng biasanya dimasak cukup kering. Maksudnya, nasi goreng Suroboyoan itu tidak cukup berair dan sedikit berwarna pink (kebanyakan saus). Bandingkan dengan nasi goreng di Jogja yang berwarna cokelat sampai agak hitam sebagai akibat \u201ckebanyakan\u201d <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kecap-bango-adalah-sebenar-benarnya-kecap-yang-lain-kw\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kecap<\/a>, dengan tekstur yang cukup berair. Ini saja sudah cukup bikin saya pening, karena tidak terbiasa makan nasi goreng dengan mode \u201cjemek\u201d ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika di Surabaya, nasi goreng biasanya tidak dicampur potongan cabai di dalamnya dan hanya diberi cabai utuh, nasi goreng khas Jogja biasanya bercampur dengan cabai yang sudah dipotong-potong. Sebagai manusia yang tidak terbiasa dengan makanan pedas, kebiasaan penjual nasi goreng ini cukup membuat saya jengkel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain nasi goreng, ada beberapa makanan di Jogja yang membuat lidah saya shock ketika mencicipinya. Nasi kucing misalnya, adalah jenis nasi dengan porsi yang tidak bisa saya toleransi. Di Surabaya saya terbiasa dengan makanan yang porsi kuli. Lalu di sini, makan seporsi makanan yang walau harganya juga menyesuaikan, tetap saja bikin perut saya meronta-ronta untuk nambah lagi dan lagi. Ada juga makanan yang (masih) mengusung tema \u201cjemek\u201d lainnya, misalnya gudeg.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kondisi Jalanan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah membahas perbandingan kondisi jalanan di Jogja, Surabaya, dan Wakatobi. Layaknya daerah yang metropolis atau menjelang metropolis sekaligus wisata, jalanan Jogja bersolek sana-sini. Tentu saja hal yang sama ada di Surabaya. Jalanan di Surabaya dilebarkan, dilengkapi rambunya dan penataan lainnya. Sayangnya, untuk kedua hal ini saya masih menganggap kedua daerah punya tujuan yang tidak jangka panjang. Jadi mungkin tidak menimbulkan culture shock yang besar. Yang cukup berbeda mungkin ukuran jalanan di Jogja yang tidak sebesar (sebagian) jalanan di Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu apa masalahnya jika jalanan sempit seperti di Jogja? Saya yang terbiasa meliuk-liuk dengan motor saat berkendara di Surabaya, tidak menemukan kesenangan itu di Jogja. Jalanan sempit Jogja selalu membuat saya was-was kalo mau salip sana-sini. Dengan perhitungan-perhitungan cukup matang untuk menyalip atau menerobos lampu merah misalnya, kadang saya kaget bahwa ternyata perhitungan itu justru salah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kondisi pengendara di Jogja yang kadang begitu sungkannya untuk sekadar membunyikan <a href=\"https:\/\/otomotif.tempo.co\/read\/1588932\/tips-merawat-klakson-mobil-agar-tetap-awet-dan-galak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">klakson<\/a>, padahal misal seinci-dua inci lagi terjadi tabrakan atau kecelakaan lainnya. Saya yang terbiasa membunyikan klakson sekaligus mengumpat ketika kecelakaan mengawe-awe di depan mata ketika di Surabaya, jadi sedikit menahan diri. Dan itu tentu saja bikin hati saya tenang sekaligus shock.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang pengin sekali saya teriak ke orang yang nggak berani klakson itu begini, \u201cKlakson itu dibikin untuk dipencet biar bunyi dan memberi isyarat, kenapa nggak dipake? Takut rusak atau gimana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja masih banyak culture shock yang saya alami ketika pindah ke Jogja dari Surabaya. Tapi kayaknya tiga ini saja sudah cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Taufik<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-surabaya-yang-terancam-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Kuliner Surabaya yang Terancam Punah<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah empat tahun, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":186494,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2374,115,4887,7407,405],"class_list":["post-186260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gudeg","tag-jogja","tag-klakson","tag-nasi-goreng","tag-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186260"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186260\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186494"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}