{"id":186173,"date":"2022-08-07T14:00:02","date_gmt":"2022-08-07T07:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186173"},"modified":"2022-08-07T12:49:12","modified_gmt":"2022-08-07T05:49:12","slug":"5-jenis-mahasiswa-senior-yang-wajib-dihindari-maba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-jenis-mahasiswa-senior-yang-wajib-dihindari-maba\/","title":{"rendered":"5 Jenis Mahasiswa Senior yang Wajib Dihindari Maba"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi mahasiswa baru adalah fase restart dalam kehidupan sosial. Maba yang sebelumnya sudah punya social circle diajak jadi anak ingah-ingih kembali. Maklum, dunia kuliah berbeda jauh dari dunia SMA. Berbagai jenis senior dari beragam latar belakang membuat kebiasaan interaksi sosial lama jadi tidak berguna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi demi kebaikan Anda adek-adekku, ada beberapa tipe mahasiswa senior yang perlu dihindari, bahkan sejak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/visual\/tokcer\/meminimalisir-kontak-dengan-mahasiswa-senior-saat-ospek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ospek<\/a> kalau perlu. Setidaknya, maba bisa memastikan hidup setelah kuliah tetap ayem tentrem tanpa kebanyakan drama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti saya mengajak maba menjadi eksklusif apalagi apatis. Toh itu pilihan diri sendiri. Tapi, banyak maba yang terjebak masalah ra penting karena terpaksa mengekor pada senior kampus yang salah. Tidak usah saya jelaskan berbagai kasus senioritas yang fatal, dari pelecehan sampai kehilangan nyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka perlu bagi maba untuk menyaring social circle baru mereka. Dan jika Anda merasa tersindir, berarti masalahnya ya Anda sendiri. Berarti anda adalah jenis mahasiswa senior yang beracun bagi maba.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Senior gila hormat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gila hormat harusnya tidak muncul dari seorang cendekiawan. Tapi sial, senior <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-senior-yang-gila-hormat-memang-enaknya-dibuang-jauh-jauh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">yang gila hormat<\/a> masih menjadi momok dunia kampus. Lebih sialnya, senior macam ini sering memegang posisi vital bagi kehidupan maba. Dari panitia ospek, sampai asisten laboratorium. Mau tidak mau, maba akan berinteraksi dengan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup berinteraksi seperlunya. Tidak usah berpasrah dengan menjilat senior gila hormat. Terlalu menjilat mereka akan membuat lingkar sosial Anda lebih sempit. Seolah-olah Anda tidak bisa hidup tanpa senior macam ini. Dan lagi, untuk apa terlalu dekat dengan senior yang gila hormat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada mahasiswa lain yang lebih jago menjilat, Anda akan ditendang juga. Kadung berpasrah, Anda malah kehilangan kesempatan memperluas social circle Anda.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Senior mental kerumunan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mirip dengan jenis pertama. Tapi, sering kali mereka bukan yang haus akan kehormatan. Mereka mengedepankan hukum \u201cmakan nggak makan yang penting ngumpul\u201d. Mereka gemar mengumpulkan maba dan membangun social circle sendiri dengan mereka. Ketika maba tersebut menolak, langsung saja dihakimi sebagai apatis dan istilah ndakik-ndakik lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlalu dekat dengan mahasiswa senior model ini juga akan mempersempit lingkar sosial Anda. Apalagi mental kerumunan akan membuat Anda membenci apa yang dibenci komunal. Anda malah menambah musuh yang nggak penting, dan bisa jadi, jadi penghalang akademis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali gapapa gabung dengan model senior demikian. Tapi, selalu tanamkan dalam diri bahwa Anda bebas merdeka untuk hidup sebagai mahasiswa.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Senior tekyan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dari-tekyan-sampai-garangan-40-kata-slang-jogja-yang-mulai-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tekyan<\/a> adalah kultur di mana seseorang cenderung menjadi benalu. Dari menumpang tidur, menumpang makan, sampai menumpang kendaraan. Biasanya senior tekyan ini menjual kisah ndakik-ndakik, baik perjuangan atau malah kesedihan. Dan dengan penuh rasa hormat, senior macam ini jangan sering-sering diladeni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Anda terlalu dekat dengan senior tekyan, Anda akan tejebak situasi nggapleki. Mau menolak, sungkan. Mau direpoti, hidup Anda juga susah. Jadi sebaiknya dari awal, Anda hindari senior yang menunjukkan karakteristik tekyan ini. Demi kesehatan mental dan ekonomi Anda yang kasihan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Susahnya, senior tekyan sering begitu menyenangkan sebagai teman. Apalagi mereka jago jualan cerita. Jadi, seperti dua jenis sebelumnya, berteman seperlunya saja. Sebelum kasur kos dirampas dan Anda sungkan mengusir mereka.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Senior yang sedikit-sedikit ngaktivis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah ini jenis yang cukup menyebalkan. Senior model ini sering jadi perpaduan dari tiga jenis di atas. Sudah gila hormat, memaksa untuk kumpul, tekyan juga. Terlalu dekat dengan mereka hanya akan menambah beban hidup. Dan mereka tidak akan memandang beban Anda itu penting. Yang penting progresif dan membawa perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti Anda harus <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Apatis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">apatis.<\/a> Kebutuhan aktivisme perlu diakomodir. Tapi, Anda bebas menjadi aktivis dan tidak perlu menjadi underbow salah satu senior. Apa bedanya dengan jadi budak korporat dan aparat? Padahal dunia akademis mengajak Anda menjadi manusia merdeka dalam pikiran dan sikap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadilah aktivis karena ada mimpi yang ingin diraih, jangan karena dipaksa apalagi demi mendapat perhatian senior model ngaktivis ini. Lagipula, model senior seperti ini punya potensi menjadi masalah dalam hidup Anda. Dari senioritas ra mashok sampai mencederai hak Anda sebagai manusia.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Senior bucin atau haus lawan jenis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari keempat jenis di atas, model kelima ini tidak benar-benar destruktif. Kadang iya, tapi seringnya tidak. Masalahnya, senior bucin ini bisa memeras otak Anda. Bukan karena saling lempar tesis-antitesis, tapi karena curhatan yang itu-itu saja. Apalagi kalau pasangan mereka satu angkatan dengan Anda. Bisa-bisa Anda jadi satpam dan intel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Senior yang haus lawan jenis juga sama saja. Anda akan sering terpojok oleh permintaan untuk mengenalkan teman. Mau menolak, kok ya senior. Mau menerima, tidak tega teman jadi makanan garangan alias buaya darat. Daripada terjebak posisi sulit, mending dijauhi sekalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, saya tidak mendukung eksklusivitas maba. Tapi sebagai cendekiawan, terlalu banyak yang harus dikerjakan daripada ngurusi drama lima jenis mahasiswa senior tadi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-tips-dari-mahasiswa-tingkat-akhir-untuk-para-maba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Tips dari Mahasiswa Tingkat Akhir untuk para Maba<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jauh-jauh dari mereka, ndak mambu.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":186176,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[1387,16547,16548,9686],"class_list":["post-186173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-mahasiswa-baru","tag-mahasiswa-senior","tag-social-circle","tag-toxic"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}