{"id":186023,"date":"2022-08-05T10:00:48","date_gmt":"2022-08-05T03:00:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186023"},"modified":"2022-08-05T09:37:46","modified_gmt":"2022-08-05T02:37:46","slug":"pengabdi-setan-2-communion-lebih-bagus-ah-nggak-juga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengabdi-setan-2-communion-lebih-bagus-ah-nggak-juga\/","title":{"rendered":"Pengabdi Setan 2: Communion: Lebih Bagus? Ah, Nggak Juga"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang rilis pada 2017 lalu adalah penanda era kembalinya horor lokal ke arah yang sebagaimana mestinya: menakuti dan ditakuti. Film tersebut berhasil memasang standar horor lokal, yang secara kualitas diakui dan bertemu dengan kepuasan selera penonton secara mainstream. Kini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> melanjutkan kisahnya melalui sekuel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tentu saja, banyak yang penasaran, bagaimana kelanjutan keluarga Rini setelah diteror oleh hantu si ibu dan para sekte pengabdi setan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak adegan pembuka, sangat terlihat jelas bahwa film kedua ini meluaskan skala semestanya. Dia langsung melibatkan teori konspirasi dengan segala referensi peristiwa-peristiwa politik di dunia nyata, seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kaa-1955-sempat-diwarnai-operasi-pembunuhan-oleh-cia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Konferensi Asia-Afrika<\/a>, kepentingan Presiden, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kisah-3-korban-petrus-selama-opk-jogja-1983-1984\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Petrus,<\/a> dan banyak lagi. Sejak awal, film ini terlihat akan menekankan pada aspek misteri, tentang mencari jawaban akan hal-hal aneh yang terjadi, termasuk tragedi yang dialami keluarga Rini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Rini telah melanjutkan hidupnya di sebuah rumah susun, bersama kedua adiknya, Toni dan Bondi, serta si bapak. Diketahui bahwa mereka berusaha lepas dari trauma dengan berpindah-pindah, hingga akhirnya kini menempati sebuah rumah susun kumuh terpencil yang rawan terkena bencana badai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Elemen rumah kumuh dalam film ini ternyata menjadi bahan yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Bukan cuma memanfaatkan kesan kumuh, tua, gelap serta sudut remang-remang dari rumah susun yang menyeramkan, para penghuninya pun berhasil memperkaya kesan seram, baik secara tampilan maupun cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini, kita akan diperkenalkan berbagai karakter baru yang menjadi sorotan. Dengan penambahan karakter ini, cerita dan interaksi berhasil menarik perhatian, membuat penontonnya peduli melihat bagaimana tiap karakternya berhubungan. Dengan begitu, ketika para karakter ini terancam nyawanya, penonton akan ikut histeris berharap mereka selamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak perlu diragukan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berhasil menyamai, atau malah dianggap meningkatkan kesan menakutkan film pendahulunya. Sebenarnya, film kedua ini tidak begitu jor-joran mengeluarkan jumpscare. Justru, kali ini ia menekankan pada kesan perasaan tidak nyaman. Cukup sering terlihat adegan-adegan, mulai dari sekedar menelusuri lorong hingga mengecek kamar, yang membuat penonton gelisah, meski tak selalu dihadiahi penampakan atau gangguan langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Anda yang terlalu takut akan ditawari rasa cemas dan gelisah sepanjang waktu, Anda tidak perlu khawatir. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-rekomendasi-film-horor-joko-anwar-yang-nggak-boleh-ditonton-sendirian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Joko Anwar<\/a> kali ini cukup banyak memberi porsi elemen humor yang dapat mencairkan suasana di tengah teror brutal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teknis, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jelas sangat memuaskan. Mulai dari teknis kamera, pencahayaan, hingga setting tempat membuat kreativitas untuk menakut-nakuti penontonnya semakin bertambah kaya. Meski seiring berjalannya durasi kuantitas jumpscare digandakan dan terasa repetitif, eksekusi terornya tak pernah terasa asal-asalan. Bahkan ada beberapa eksekusi teror yang terasa cerdik, menakutkan, sekaligus menyenangkan, salah satunya penggunaan CGI kain yang melibatkan kembalinya hantu si ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, meski pencapaian secara teknis dan elemen menakut-nakutinya terasa memuaskan, film ini tidak mencapai level film pendahulunya di aspek cerita. Meskipun ruang lingkup cerita terbatas pada rumah susun, keterlibatan karakter yang semakin banyak membuat cerita menjadi luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, beberapa karakter yang sudah diperkenalkan dengan menarik, justru hanya berfungsi sebagai media teror dengan ujung nasib nahas, meski dieksekusi dengan keren. Padahal, karakter-karakter tambahan tersebut memiliki potensi memperkaya cerita, membuatnya terhubung dengan\u00a0 tragedi yang dialami keluarga Rini, namun urung digunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang telah dikatakan di awal, bahwa secara cerita, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih berfokus pada aspek misteri. Tentang bagaimana Rini dan keluarganya menemukan ada sesuatu yang berhubungan antara rumah itu dengan tragedi di film sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, beberapa misteri memang berhasil dijawab. Namun, masih ada banyak misteri yang tertahan, atau bahkan terasa dibuang. Entah, apakah ini memang sengaja disimpan untuk film ketiganya? Hanya saja, secara keseluruhan, film ini terasa seperti tease atau jembatan untuk film berikutnya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan cuma cerita, hal itu juga berlaku di aspek teror atau menakut-nakutinya. Meski aspek teror <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> termasuk memuaskan, tapi sebenarnya film ini memiliki potensi untuk lebih meneror. Sayangnya, beberapa potensi tidak digunakan, seperti kembalinya sosok ibu dan para pocong yang cuma memberi teror sekadarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pertamanya memang memiliki keunggulan di ruang lingkup yang kecil, sehingga secara cerita dan kebutuhan misteri tidak terlalu terbebani, sehingga bisa terasa berimbang dengan terornya. Sementara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan 2: Communion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, memilih untuk meluaskan skalanya, menebar berbagai benih potensi teror dan cerita menarik, namun entah kenapa, tidak semua benih itu digunakan.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Akun Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/CgbWo3zvVIZ\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">@jokoanwar<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Sabilurrosyad<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/hiburan\/joko-anwar-kualitas-pengabdi-setan-2-akan-lampaui-film-sebelumnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Joko Anwar: Kualitas Pengabdi Setan 2 akan Lampaui Film Sebelumnya<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Duh, kutukan sekuel nih.<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":186028,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[29,1951,16523,13098,12105],"class_list":["post-186023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-horor","tag-joko-anwar","tag-pengabdi-setan-2-communion","tag-pilihan-redaksi","tag-sekuel"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186028"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}