{"id":186010,"date":"2022-08-05T12:00:57","date_gmt":"2022-08-05T05:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=186010"},"modified":"2022-08-05T10:58:42","modified_gmt":"2022-08-05T03:58:42","slug":"5-kelakuan-pengendara-indonesia-yang-bikin-orang-jepang-geleng-geleng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kelakuan-pengendara-indonesia-yang-bikin-orang-jepang-geleng-geleng\/","title":{"rendered":"5 Kelakuan Pengendara Indonesia yang Bikin Orang Jepang Geleng-geleng"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama saya hidup di Jepang, saya belum pernah menemui pengendara Jepang yang tingkahnya kayak pengendara Indonesia. Bahkan, teman saya asal Jepang yang kebetulan main ke Indonesia merasa ngeri-ngeri sedap melihat kelakuan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bukan rahasia kalau perkara menaati aturan, orang Jepang juaranya. Pengendara Jepang apalagi, amat patuh dengan aturan, meski aturannya kadang nggak masuk akal. Maka dari itu, melihat kelakuan pengendara Indonesia yang ajaib, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa saja kelakuan yang bikin geleng-geleng?<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Ngeblong lampu merah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini jelas tak terjadi di Jepang ya. Saat lampu kuning, orang Jepang biasanya sudah bersiap-siap berhenti. Sikap sabar orang Jepang dalam berkendara memang wajib diacungi jempol. Saat berhenti di lampu merah, jarak satu kendaraan dengan kendaraan lain di belakangnya saja bisa 1-2 meter, lho. Nggak mepet, apalagi nyempil di sela-sela kendaraan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Indonesia, jelas hal ini agak susah, ya. Lha, gimana? Kadang berhenti tepat saat lampu berubah jadi merah saja malah disemprot bahkan diseruduk oleh pengendara belakangnya, kan? Apa nggak gila? Lampu kuning bukannya melambat, malah ngegas biar lolos lampu merah. Eh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman Jepang saya pernah bercerita kalau peraturan lalu lintas di Jepang cukup ngeri sampai bisa membuat SIM dicabut, lho. Mungkin alasan ini juga yang membuat mereka taat terhadap lampu lalu lintas. Lagi pula, prinsipnya ketertiban umum memang menjadi tanggung jawab bersama, kan? Ini yang agak susah diterapkan di Indonesia.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Salip kanan sampai masuk jalur berlawanan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kendaraan di depannya melambat dan berhenti, lalu kita menyalip di jalur yang disarankan sih, di mana-mana juga ada, kan? Terutama di tol. Akan tetapi, kalau menyalip kendaraan depannya sampai masuk ke jalur kendaraan yang berlawanan ya hanya ada di Indonesia sama di filmnya Michael Bay doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah ada rambu-rambu garis dua lurus tanpa putus, baik warna kuning maupun putih, pun nggak menyiutkan nyali para rider jalanan Indonesia untuk menyalip kanan. Kalau sepeda motor yang meliuk-liuk mungkin bisa dimaklumi, tetapi kalau mobil atau bus juga ikut-ikutan, parah sih. Nggak jarang, pengendara dari arah berlawanan menyalip sampai mepet ke pinggir jalannya. Saya juga pernah berpengalaman ini, lho, versus bus Sugeng Rahayu. Aseli, ngeri-ngeri sedap. Jantung mau copot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh sekarang marak juga, kan, mobil yang seenak sendiri salip kiri di sela-sela sepeda motor sampai kadang membunyikan klakson agar diberi jalan? Widih, minta diulek sambel itu sopirnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Ganti knalpot dan klakson<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suara kendaraan dan lalu lintas di Jepang itu nggak berisik, lho. Klakson saja sebisa mungkin nggak dibunyikan kalau sangat nggak terpaksa, apalagi suara bising knalpot yang nggak standar? Bisa jadi langsung dikejar polisi lalu lintas yang sedang patroli, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang ada kendaraan yang dimodifikasi tetapi tetap saja kalau melanggar ketertiban lalu lintas pastinya akan kena sanksi. Di jalanan Tokyo kadang ada juga rombongan anak muda nyentrik yang ambleyer suara motornya, dan pastinya dikejar polisi. Biasanya sih <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/B%C5%8Ds%C5%8Dzoku\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bosozoku.<\/a> Meski jarang terjadi, sekalinya terjadi biasanya bakal jadi pusat perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau di Indonesia mah jangan tanya lagi. Meski motifnya tentu saja bukan karena &#8220;cari perhatian&#8221;, suara bising <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-knalpot-brong-niatnya-edgy-tapi-bikin-kuping-nggak-berfungsi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">knalpot hasil modifikasi<\/a> itu benar-benar bikin geleng-geleng. Mau suara serigala kek, macan kek, yang jelas beda dengan knalpot standar bawaan asli kendaraannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang merasa terganggu tetapi tak berani menegurnya. Polisi lalu lintas saja cuma terdiam, nggak mengejar atau menegurnya. Hadeh. Kalau dibiarin, ya tentu saja yang lain juga ikut-ikutan. Rumah saya pinggir jalan sih, ya, jadi paham sekali kalau ada kendaraan yang suaranya \u201cnyolot\u201d dan itu beneran mengganggu, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya pernah bilang, \u201cNanda sore? Urusai na!\u201d (Apa itu? Berisik!) saat ada truk gaul dengan knalpot serigala lewat depan kami. Saya cuma bisa geleng-geleng tak bisa berkata-kata lagi. Bingung.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Sein kiri belok kanan dan nggak pakai helm<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ini mah, nggak usah heran, ya. Mungkin tingkat lupa orang Indonesia itu tinggi atau bagaimana, yang jelas fenomena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-kenapa-emak-emak-suka-sen-kiri-beloknya-ke-kanan-atau-sen-kiri-tapi-nggak-belok-belok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sein kiri belok kanan<\/a> itu tak hanya dilakukan oleh emak-emak Indonesia saja, lho. Mak kluwer tanpa memperhatikan kanan kiri sebelum berbelok juga menjadi penyakit umum pengendara Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengendara Jepang? Hadeh, nggak bakal kek gini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, naik sepeda motor tanpa helm juga menjadi hal biasa di Indonesia. &#8220;Hanya dekat&#8221;, &#8220;cuma sebentar saja&#8221;, pokoknya macam-macam saja alasannya. Padahal kalau di Jepang, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kendarai-sepeda-motor-di-jepang-jauh-lebih-ribet-dibanding-mobil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">naik sepeda motor itu ribet<\/a> sekali urusannya. Pakai helm lah, pelindung badan (termasuk jaket dan sepatu) lah, pokoknya harus dan wajib dikenakan. Demi keamanan bersama, kan? Kalau nggak mau repot, ya jalan kaki atau nyepeda saja. Begitu sih kalau di Jepang. Kalau di sini, banyak yang protes sewaktu ada kebijakan \u201cnggak boleh hanya pakai sandal kalau naik motor\u201d. Padahal ya, begitu deh, nggak mau berdebat saya&#8230;.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Cengpat alias bonceng empat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah kalau cengpat ini sih biasanya di sepeda motor, ya. Kalau dulu mungkin ada angkot yang sampai overload mengangkut penumpang, tetapi sekarang hampir tak ada lagi. Dulu, saya masih sempat lah mengalami naik bus kota sampai uyel-uyelan. Tercopet juga pernah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepeda motor Indonesia memang didesain untuk dua penumpang. Biasanya keluarga muda yang baru punya anak satu sih akan memboncengkan anaknya di antara bapak ibunya. Kalau besar dikit, berdiri atau duduk sendiri di depan Sang Bapak. Anak dua pun akan sama, yang satu di depan dan yang satunya lagi di antara Bapak Ibunya. Hal ini cukup umum dan lumrah sih di kalangan keluarga muda Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman Jepang saya sempat bertanya &#8220;apakah nggak berbahaya?&#8221; saat melihat saya sekeluarga cengpat begini di motor matic saya. Ya tentu saja berbahaya, kan? Tapi, ya, kandanane angel. Ojo dibanding-bandingne.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jepang hal seperti ini sangat nggak mungkin terjadi, lho. Sepeda motor dengan cc rendah hanya boleh dinaiki satu penumpang saja. Untuk cc yang besar memang boleh dinaiki berdua, tetapi saya belum pernah dengar boleh bertiga, bahkan berempat. Widih bisa masuk berita di televisi Jepang, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana? Ikut geleng-geleng juga, nggak? Kalau saya, sebagai orang Indonesia yang sudah tinggal lama di Indonesia sih, sudah paham kelakuan begini. Angel wes kalau kebiasaan ini diubah. Ditegur malah nyolot. Salah sekalipun, berani adu urat dan jotos, je. Tambah bingung, kan? Yang jelas, tetap stay safe dalam berkendara ya, teman-teman!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Primasari N Dewi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengemis-di-jepang-sudah-jatuh-tertimpa-pidana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengemis di Jepang: Sudah Jatuh Tertimpa Pidana<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Geleng-geleng pala berbi.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":186039,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[31,1213,1207,2208],"class_list":["post-186010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-indonesia","tag-jepang","tag-lalu-lintas","tag-pengendara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186010"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186010\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}