{"id":185960,"date":"2022-08-05T09:00:45","date_gmt":"2022-08-05T02:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=185960"},"modified":"2022-08-05T05:52:34","modified_gmt":"2022-08-04T22:52:34","slug":"3-culture-shock-yang-dirasakan-arek-suroboyo-saat-kulineran-di-kota-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-culture-shock-yang-dirasakan-arek-suroboyo-saat-kulineran-di-kota-solo\/","title":{"rendered":"3 Culture Shock yang Dirasakan Arek Suroboyo Saat Kulineran di Kota Solo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Solo memang menarik untuk dikulik. Gimana nggak menarik, kotanya satu tapi punya dua nama. Belum lagi kota satu ini sering dikaitkan dengan kota tetangga yang lebih hits dan sering diromantisasi, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Lantaran keunikan dan kedekatan wilayahnya dengan Jogja, saya jadi penasaran pengin merasakan kulineran di Kota Solo.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai arek Suroboyo yang senang jalan-jalan, hal utama yang saya fokuskan karena terkait dengan sangu alias uang yang saya bawa selama berada di sebuah kota adalah harga makanan. Sebelum memutuskan untuk jalan-jalan ke Solo, saya cukup khawatir dengan biaya makan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun baru setengah jam sampai di Solo, rasa khawatir itu hilang berganti dengan rasa heran. Lantaran\u00a0 saya merasakan beberapa culture shock ketika kulineran di Kota Solo.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#1 Makanannya murah dan nggak &#8220;zonk&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang lahir dan besar di Surabaya, tapi pernah tinggal di Jakarta, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bandung<\/a>, dan Jogja, harga dan rasa makanan di Kota Solo nggak masuk akal. Saya pikir, Surabaya adalah kota paling aman soal harga makanan, eh ternyata ada yang lebih aman lagi perkara harga dan rasa. Kenapa saya bilang begini? Soalnya di Surabaya kadang ada makanan yang murah, tapi rasanya hambar, Rek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, saya nggak perlu ke restoran mahal atau kafe hits untuk bisa merasakan kuliner murah dengan rasa lezat. Cukup blusukan di pasar atau jalan kaki di sekitar pemukiman warga, sudah banyak orang yang berjualan makanan dengan harga dan rasa menyenangkan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti ketika saya datang ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pasar_Legi_Surakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Legi<\/a> tanpa modal rekomendasi kuliner di pasar ini, saya bertemu dengan warung yang menjual banyak menu makanan. Di sana saya memesan nasi soto dan es teh. Porsi nasinya sedang, ayam suwirnya banyak, kuahnya bening segar dan kaya akan rempah. Kalau dipikir-pikir, rempah-rempah itu kan lumayan juga harganya, apalagi ayam, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat hendak membayar makanan, saya merasakan culture shock yang sebenarnya. Nasi soto dan es teh yang saya santap dibanderol seharga delapan ribu rupiah! Di Surabaya saya nggak bisa mendapatkan nasi soto dan es teh dengan harga segitu. Rasanya mashok, harganya pun mashok, Rek!<\/span><\/p>\n<h4><strong>#2 Penjual nggak pelit sambal<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Culture shock kedua yang saya rasakan ketika kulineran di Kota Solo adalah perihal sambal. Di meja beberapa warung makan di Solo, cabai rawit hijau disajikan secara awur-awuran. Porsinya banyak dan diletakkan dalam mangkuk putih bergambar ayam jago. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/sambal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sambal<\/a> yang disajikan di warung makan pun kental dan berwarna segar, meyakinkan pembeli bahwa sambalnya segar dan nggak pakai campuran apa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini berbeda dengan kebanyakan warung makan yang ada di kota lain, terkhusus di kota asal saya. Di Surabaya, sambalnya ada yang dicampur air, ada yang dicampur saos, dan ada yang dicampur cabai kering.<\/span><\/p>\n<p>Saya jadi bertanya-tanya, orang-orang Solo panen cabai sendiri di depan rumah mereka atau gimana sih bisa mantap gini soal per-cabai-an? Ada juga beberapa warung makan yang menyajikan cabai rawit hijau tua di atas meja makan yang bisa diambil kapan pun, apalagi cabainya nggak dicampur acar. Biasanya kan kalau sudah tercampur acar, jumlahnya sedikit pula.<\/p>\n<h4><strong>#3 Es teh dibungkus kok malah tambah banyak?<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teh Solo sangat khas, dan biasanya yang khas-khas begini harganya ora umum. Saya cukup merasakan culture shock ketika memesan es teh saat kulineran di Kota Solo. Pasalnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/es-teh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">es teh<\/a> yang saya bungkus buat diminum di hotel porsinya nggak ngadi-ngadi alias jumbo, Rek! Selain itu, rasa tehnya tetap khas, ada pahit-pahitnya gitu dan rasa manisnya nggak hilang.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa culture shock yang saya rasakan saat kulineran di Kota Solo tersebut, saya mengambil kesimpulan kalau orang-orang di kota ini ramahnya nggak karuan. Mereka seolah nggak perhitungan ketika berjualan. Cabai yang kemarin-kemarin dianggap mahal sampai porsinya dikurangi di beberapa warung makan, eh malah disajikan secara terang-terangan di meja makan oleh para penjual makanan di Solo. Dua kata dari saya buat warga Solo yang berbisnis kulineran: sampean sangar~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Anisah Meidayanti<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-khas-solo-yang-terancam-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Kuliner Khas Solo yang Terancam Punah<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gini rasanya, Rek~<\/p>\n","protected":false},"author":1482,"featured_media":185970,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2921,14262,16522,16521],"class_list":["post-185960","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-culture-shock","tag-kota-solo","tag-kulineran","tag-orang-surabaya"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1482"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185960"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185960\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/185970"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}