{"id":185795,"date":"2022-08-02T13:00:04","date_gmt":"2022-08-02T06:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=185795"},"modified":"2022-08-02T12:59:09","modified_gmt":"2022-08-02T05:59:09","slug":"solo-di-mata-orang-jogja-solo-dipandang-rendah-tapi-lebih-menjanjikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-di-mata-orang-jogja-solo-dipandang-rendah-tapi-lebih-menjanjikan\/","title":{"rendered":"Solo di Mata Orang Jogja: Solo Dipandang Rendah, tapi Lebih Menjanjikan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo dan Jogja itu seperti anak sulung dan bungsu. Di luar saling pamer, tapi di hatinya saling iri. Sama-sama \u201canak\u201d dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/raja-mataram-islam-yang-memerintah-sehari-akibat-cacat-mental-atau-hoaks-sultan-agung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mataram,<\/a> Tidak banyak perbedaan dari dua daerah ini. Paling cuma beda status. Jogja menyandang status istimewa, Solo (dalam hal ini Surakarta) tidak. Dan inilah yang ditanamkan dalam benak saya sejak kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum lebih jauh, saya ingin memberi disclaimer. Apa yang saya tulis berdasarkan dari pengalaman pribadi. Tentu akan berbeda dengan latar belakang pembaca lain. Dan saya tidak mempromosikan pandangan ini, ataupun menyetujui hal tersebut. Maka, jangan sampai Anda terburu panas dengan isi artikel ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau panas, yo rapopo sih. Sebab, ini semua nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dalam trah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sri-sultan-hb-ii-saksi-bubarnya-voc-bapak-pembangunan-jogja-dan-3-kali-naik-takhta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sri Sultan HB II<\/a>, dalam keluarga besar Hadiwiyoto. Dari latar belakang ini, sejak kecil saya diajak membanggakan \u201cdarah biru\u201d keluarga. Selain diajak bangga karena masih bangsawan, saya juga diajak bangga saat memandang trah Surakarta. Baik langsung maupun tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsawan Jogja memandang dirinya lebih priyayi daripada bangsawan Solo. Pertama, karena pandangan bahwa Jogja yang melanjutkan pemerintahan Mataram. Kedua, karena gelar keistimewaan. Setiap saya berargumen tentang relevansi bangsawan hari ini, pasti akan didamprat dengan, \u201cpriyayi-nya orang Jogja itu diakui dunia. Kalau Solo kan sudah tidak kepakai.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sudut pandang ini, saya banyak menemui sikap merendahkan kepada Solo. Selain disebut \u201ckonco Londo\u201d alias pendukung Belanda, sampai geger dualisme Sunan yang dianggap berebut tulang kosong. Padahal, Jogja sendiri tengah ribut urusan penerus takhta HB X. Tapi, masih saja suara meremehkan Kasunanan Surakarta dari orang Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan pemerintahan saja, saya diajak berbangga. Bahkan sejak SD saya sering mendengar nada bangga guru saya tentang ini. Jogja dipandang lebih berdaulat karena menjadi provinsi sendiri dengan penetapan gubernur. Sedangkan Solo hanyalah bagian dari Provinsi Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudut pandang superior Jogja atas daerah lain memang diluapkan di Solo. Bahkan sampai urusan cat keraton saja dibanding-bandingkan. Ini serius. Banyak orang Jogja overproud memandang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Keraton_Surakarta_Hadiningrat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keraton Surakarta<\/a> tidak terurus dan memuakkan. Saya sih agak setuju. Meskipun rasa bangga ini sebenarnya salah sasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar, lha wong Jogja dapat Dana Keistimewaan. Cat lebih bersih dan indah kan karena sumbangan rakyat satu Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang saya rasakan, mental superior ini berhenti di perkara ide. Hanya masalah status dan estetika. Sisanya, banyak yang mengakui Solo lebih baik dari Jogja. Apalagi kalau sudah bicara biaya hidup dan pertanahan. Mau tidak mau, suka tidak suka, orang Jogja mengakui bahwa Solo lebih berhati nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">UMR Jogja dan Solo tidak selisih jauh, tapi biaya hidup lebih terasa rendah. Selain tidak jadi jujukan pendatang sumber ketimpangan, Solo lebih sustainable. Solo disokong kabupaten sekitar dalam urusan pangan. Buktinya, banyak orang Jogja yang mengakui biaya makan di Solo lebih murah. Dan saya sepakat, uang 10 ribu masih bisa makan enak dan kenyang di Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara sandang, Solo jelas lebih superior. Orang Jogja selalu kulakan bahan pakaian di Solo. Maklum, kota tersebut punya pabrik tekstil yang <span style=\"text-decoration: line-through;\">bikin geger karena pencemaran<\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">membuat harga pakaian di sana lebih murah. Tanya saja para penjaja kain dan busana di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/denah-pedagang-pasar-beringharjo-lantai-1-gedung-barat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Beringharjo.<\/a> Pasti bilang kalau dagangan mereka kulakan di Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan papan, sekali lagi Solo lebih ramah. Harga tanah yang tidak jauh dari pusat kota jauh lebih murah dari Jogja. Gampangnya, harga tanah pinggiran di Jogja sama dengan harga tanah di kota Solo, meski tidak mirip-mirip betul, tapi tahulah maksud saya. Akhirnya banyak yang bilang, \u201cKalau mau beli tanah, beli di Solo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyamanan dan ketentramannya juga sering bikin iri. Minimal, tidak ada klitih. Gesekan antarsuku juga lebih kecil daripada Jogja. Memang, Jogja membanggakan diri sebagai kota pendidikan. Tapi kalau perkara kota berhati nyaman, banyak yang bilang Solo lebih adem ayem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, realitasnya, masih banyak yang membanggakan Jogja. Tapi kalau mereka diajak jujur, Solo lebih tenteram. Selain lebih bersahabat untuk hidup, dan diam-diam membuat iri. Karena memang, Solo punya rumput yang lebih hijau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak habis pikir dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/suporter-persis-solo-psim-jogja-rusuh-karena-perjanjian-giyanti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gesekan suporter<\/a> bola Solo-Jogja. Seperti diwariskan, tapi tidak lebih dari jarene dan kayaknya. Pandangan Jogja superior ini jelas tidak relevan dengan gesekan antarsaudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi menjadikan sudut pandang superior ini sebagai instrumen kebencian para suporter. Jelas ra mashok lur telur. Seperti yang saya bilang. Jogja dan Solo itu sama saja. Satu ibu Bumi Mataram. Jangan sampai kelewat benci. Lagian, apa yang sebenarnya kalian benci?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa kalian benar-benar tahu apa yang kalian benci?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-di-mata-orang-solo-saya-tak-punya-cukup-alasan-membenci-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja di Mata Orang Solo: Saya Tak Punya Cukup Alasan Membenci Jogja<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja memandang Solo. Solo memandang Jogja. Cie.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":185802,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16500,115,5193,2284,4602],"class_list":["post-185795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gesekan-suporter","tag-jogja","tag-klitih","tag-solo","tag-umr"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185795"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185795\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/185802"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}