{"id":185765,"date":"2022-08-02T09:00:13","date_gmt":"2022-08-02T02:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=185765"},"modified":"2022-08-02T09:23:16","modified_gmt":"2022-08-02T02:23:16","slug":"misteri-gunung-raung-dan-kisah-seram-kerajaan-macan-putih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/misteri-gunung-raung-dan-kisah-seram-kerajaan-macan-putih\/","title":{"rendered":"Misteri Gunung Raung dan Kisah Seram Kerajaan Macan Putih"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung selalu punya cerita dan daya tariknya tersendiri. Dan kali ini, saya mau bercerita tentang Gunung Raung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung Raung terletak di perbatasan Kabupaten Jember, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bondowoso-kota-sejuta-julukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bondowoso,<\/a> dan Banyuwangi, Jawa Timur. Selain itu, gunung dengan tinggi 3.344 mdpl ini sempat beberapa kali mengalami erupsi. Erupsi pertama terjadi pada 1586. Lalu 11 tahun kemudian, tepatnya pada 1597, gunung ini pun kembali erupsi. Selanjutnya, Gunung Raung pun meletus dengan dahsyat pada 1638.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terbaru, Gunung Raung meletus pada Kamis 28 Juli 2022 lalu. Gunung itu sempat memuntahkan hujan abu vulkanis tipis di wilayah jember dan Banyuwangi. Pada saat itu, Gunung Raung sempat mengalami empat kali letusan. Per 29 Juli 2022, Gunung Raung kini berada di level waspada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan keindahannya yang bisa memanjakan mata siapapun yang mendaki gunung itu, ternyata Gunung Raung menyimpan banyak misteri yang kerap menghantui para pendaki. Banyak kisah seram tersaji dari para pendaki yang pernah melakukan pendakian di Gunung Raung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, penamaan berbagai pos yang ada di Gunung Raung pun sangat menyeramkan. Bayangkan saja, ada pos yang namanya Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Angin, bahkan Pondok Mayit. Ternyata pos-pos tersebut bukan asal dikasih nama, ada latar belakang yang penuh misteri di balik itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pondok Sumur misalnya. Menurut cerita warga lokal, ada sumur yang kerap dipakai seorang pertapa sakti dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-istimewa-yang-bisa-kamu-dapat-di-gresik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gresik.<\/a> Konon katanya, sumur dan pertapa itu masih ada hingga sekarang. Tapi, masih menjadi misteri karena menurut warga lokal, sumur dan pertapa itu tidak kasat mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan cerita para pendaki yang berkemah di Pondok Sumur, konon selalu terdengar suara derap kaki kuda berlari di sekitar tenda. Tetapi, ketika dilihat ke area sekitar tenda, tidak pernah terlihat apapun, baik itu kuda poni, atau kuda balap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada Pondok Demit. Konon katanya, di pos yang satu ini menjadi tempatnya swalayan bagi para demit alias setan. Dengan kata lain, Gunung Raung pun memiliki pasar setan dan di hari tertentu, di situ kerap terdengar suara ramai pasar dan alunan musik tradisional. Untung bukan musik dangdut, kalau ada ikut joget kayaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ada Pondok Mayit. Mayit dalam bahasa Jawa artinya mayat atau jenazah. Konon, di pos ini pernah ditemukan sosok mayat yang tergantung di pohon. Menurut warga lokal, mayat itu ialah bangsawan Belanda yang tewas terbunuh oleh pejuang kemerdekaan. Merdeka!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, ada Pondok Angin. Pos ini adalah yang terindah dari pos-pos di Gunung Raung. Kalau cerah bisa melihat suasana kota Bondowoso dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/situbondo-madura-swasta-yang-kaya-sejarah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Situbondo,<\/a> apalagi city light-nya di malam hari yang nggak pernah gagal. Pantas jika banyak fotografer yang senang mengabadikan momen di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, di pos ini akan sangat berbahaya ketika hujan dan angin sedang kencang. Bisa-bisa pendaki terpental sampai ke dasar jurang. Di balik keindahannya itu, Pondok Angin Gunung Raung pun menyimpan banyak misteri dan kisah seram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, Pondok Angin adalah gerbang menuju kerajaan gaib yaitu Kerajaan Macan Putih. Tidak hanya itu, di pos ini pun selalu terdengar suara derap kaki kuda dan kereta kencana yang melintas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah seram selanjutnya dari Gunung Raung ada di bagian barat kaldera dengan perbukitan terjal. Warga lokal sangat percaya jika tempat ini adalah wilayah Kerajaan Macan Putih. Kerajaan ini dipercaya menjadi singgasana Pangeran Tawangulun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut sejarahnya, Kerajaan Macan Putih ini mulai berdiri ketika Gunung Raung meletus pada 1638 silam. Pusat dari kerajaan ini berada di puncak Gunung Raung. Sementara sang raja, Pangeran Tawangulun adalah salah seorang anak raja Majapahit yang hilang ketika bertapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, Kerajaan Macan Putih ini masih ada sampai sekarang. Warga lokal pun percaya bahwa kerajaan ini beberapa kali sempat menggelar upacara pernikahan. Sebab, ketika upacara itu dimulai, hewan warga banyak mati secara misterius dan mendadak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga lokal percaya kalau hewan-hewan tersebut mati dengan sebab tertentu. Konon, hewan milik warga sekitar itu mati karena menjadi upeti untuk para penguasa Kerajaan Macan Putih yang masuk ke alam gaib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa cerita masyarakat, disebutkan bahwa Pangeran Tawangulun ini adalah salah seorang suami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mempertanyakan-piagam-perjanjian-tni-al-dengan-nyi-roro-kidul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nyi Roro Kidul<\/a>. Warga lokal pun percaya, setiap malam Jumat, Kerajaan Macan Putih ini bisa dilihat oleh mata manusia di puncak Gunung Raung supaya Nyi Roro Kidul bisa mengunjungi suaminya. Romantis banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran jika gunung tersebut dinamai raung. Beberapa warga lokal menyebut kalau nama ini berasal dari macan putih yang menjadi legenda. Sementara warga yang lain menyebut karena angin yang selalu meraung-raung di Pondok Angin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan misteri dan kisah seram Gunung Raung di atas, apakah masih berani mendaki gunung ini? Mungkin, kalian ingin membuktikan apakah benar Nyi Roro Kidul mengunjungi suaminya dengan mendaki gunung ini di malam Jumat. Mungkin kalian ingin membeli oleh-oleh di Pasar Setan untuk mengunjungi Kerajaan Macan Putih. Apa pun alasannya, pokoknya kalau naik gunung ini, stay safe dan bawa sampahnya turun ya!<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"http:\/\/&lt;a href=&quot;https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Gunung_Raung.jpg&quot;&gt;Fajar.andunisy&lt;\/a&gt;, CC0, via Wikimedia Commons\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fajar Andunisy via Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/geliatwarga\/melihat-tsunami-banyuwangi-setelah-28-tahun-terlewati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Melihat Tsunami Banyuwangi, Setelah 28 Tahun Terlewati<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Macan putih, Ges.<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":185779,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1439,15198,8794,16496,8783,10709],"class_list":["post-185765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bondowoso","tag-gunung-raung","tag-jember","tag-macan-putih","tag-nyi-roro-kidul","tag-situbondo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185765"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185765\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/185779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}