{"id":185469,"date":"2022-08-02T12:14:06","date_gmt":"2022-08-02T05:14:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=185469"},"modified":"2022-08-02T12:14:06","modified_gmt":"2022-08-02T05:14:06","slug":"beasiswa-lpdp-diskriminasi-dialami-awardee-dalam-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beasiswa-lpdp-diskriminasi-dialami-awardee-dalam-negeri\/","title":{"rendered":"Beasiswa LPDP: Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri yang Nggak Pernah Diajak Debat di Twitter"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentang beasiswa LPDP lagi-lagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menghadapi-fanwar-di-twitter\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">trending di Twitter<\/a>. Masih nggak jauh-jauh soal alumni yang nggak balik ke Indonesia. Lebih dramatis kini dengan skenario suami selesai studi, gantian istri yang lanjut studi, anak bisa sekolah gratis di luar negeri. Dan netizen dapat bahan gunjingan lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri alumni awardee beasiswa LPDP. Dan saya selalu mangkel setiap LPDP jadi bahan bakar pergunjingan jagat twitwor yang selalu itu-itu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan karena setiap trending pada akhirnya citra LPDP jadi makin buruk di mata warga maya Indonesia, tetapi justru disebabkan oleh pertanyaan retorik \u201cKenapa awardee yang biasa-biasa saja, studi lanjut di dalam negeri seperti saya dan ribuan lainnya tidak pernah masuk dalam tuntutan publik?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuntut juga dong kami. Kami ini iri, Bos. Tagih janji kami untuk \u201cmengabdi pada negeri\u201d. Apa kami, para awardee dalam negeri, sebegitu tidak pentingnya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal saya yakin jumlah kami ini ribuan dibanding satu atau dua awardee populer yang kuliah di Oxford, Harvard, atau MIT. Ke mana uang pajak yang dihamburkan untuk membiayai para awardee dalam negeri ini? Apa nggak penting jumlahnya bagi kalian para pemirsa dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjawab-gosip-netizen-perihal-warung-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">netizen<\/a> budiman?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, sebentar, mari saya ceritakan in chronological order.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Perdebatan menjemukan soal beasiswa LPDP<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pada seputaran akhir Februari 2022 ini, pendaftaran beasiswa LPDP kembali dibuka. Seperti biasa, pembahasan di bilik media sosial nggak jauh-jauh dari \u201cpada ke mana awardee luar negeri yang di Indonesia\u201d. Nah, biasanya, habis itu, melebar ke topik banyaknya talenta Indonesia yang punya expertise di luar negeri dan pulang ke Indonesia tanpa menjadi apa-apa karena tidak ada lembaga pemerintah yang cocok untuk kepakarannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembahasan menjadi lebih liar dan luas. Para netizen yang nirnalar terus menuntut bahwa mestinya alumni awardee beasiswa LPDP ya punya basic entrepreneurship. Pandangan yang lebih luas kemudian menjalar pada topik Ainun Najib yang tempo hari diminta pulang oleh Bapak Presiden, hingga <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ricky_Elson\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ricky Elson<\/a> yang selalu dibawa-bawa sebagai contoh \u201cnelangsanya talenta diaspora yang pulang ke Indonesia\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mantan penerima beasiswa LPDP yang selalu diulang-ulang oleh warga dunia maya berasal dari uang pajak, saya terkadang merasa bahwa ini tidak adil. Dan ketidakadilan tidak boleh dibiarkan dong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat kita kayaknya terlalu cemburuan, terlalu posesif, atau bahkan terlalu megalomania pada prestasi yang didapat putra sebangsanya, apalagi di bidang akademik. Wes pokoke ora mutu blas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikira kuliah di luar negeri itu prestasi. Ngawur!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kampus luar negeri yang kualitasnya kalah dibandingkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-rekomendasi-kos-putri-dekat-ugm-dan-uny\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UGM<\/a>, IPB, UI, dan ITB. Mbok ya mending nuntut kami-kami ini yang kuliah dalam negeri (DN), hitung-hitungannya nggak kalah dalam \u201cmenggunakan uang pajak\u201d kok. Saya tahu biaya kuliah S2 di UGM kira-kira Rp12 sampai Rp15 juta per semester, tentu saja tergantung program studinya.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Biaya yang ditanggung pemerintah\u00a0<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini analoginya. Kalau ada 1.000 awardee dalam negeri, artinya, ada sekitar Rp30 miliar per tahun uang LPDP yang kami gunakan. Itu baru biaya kuliah. Belum biaya buku kurang lebih Rp10 miliar per tahun, biaya hidup bulanannya bahkan bisa mencapai Rp40 miliar per tahun. Udah, genepin aja jadi Rp100 miliar, barangkali sebesar itulah biaya yang dikeluarkan dari \u201cdana abadi\u201d pendidikan untuk awardee LPDP DN. Masak kami nggak ditagih juga, sih? Kan nggak adil dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuntutlah kami, para penerima beasiswa LPDP, meski nggak pintar-pintar amat, kami paham bahwa Indonesia masih negara demokrasi. Yang menang kan yang banyak, bukan yang pinter. Makanya kalau dari yang banyak ini, mayoritas merupakan orang baik, warga negara yang serius meningkatkan kualitas dan taraf hidup masyarakat sekitarnya, kan ya akhirnya ngefek juga untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru dengan jumlah kami yang ribuan tetapi biasa-biasa saja inilah, punya peluang yang lebih besar untuk memajukan bangsa. Masa nggak belajar dari sejarah? Butuh kurang lebih 32 tahun Mbah Harto berkuasa sampai Eyang Habibie masuk ke jajaran penentu kebijakan negara, lho. Yakin nggak bosen dengerin Pak Presiden Indonesia nanya-nanya nama ikan dan bagi-bagi sepeda selama seperempat abad?<\/span><\/p>\n<h4><strong>Biar pemimpin itu makin pinter<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia punya sejarah yang \u201ckejam dan kelam\u201d untuk para individu dengan prestasi akademik yang moncer. Kalah kaya ketimbang lulusan jurusan sosial yang lebih meyakinkan dalam hal jual-menjual. Kalah kesempatan ketimbang anak para taipan yang tentu saja juga bisa kuliah di kampus-kampus terbaik Amerika dan Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kalian para netizen yang paling sopan berharap Indonesia punya pemimpin negeri dengan prestasi akademik atau keterampilan teknik kelas dunia? Nonsense. Ingat, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-media-barat-tak-katakan-tentang-perang-di-ukraina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ukraina<\/a> yang sedang jadi magnet heroisme dunia saja, presidennya merupakan mantan orang media.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, jangan heran kalau nanti saat 100 tahun merdeka, presiden kita juga masih itu-itu saja. Yang paling sering muncul di media, yang paling banyak buzzernya. Bedanya, barangkali pada saat itu popularitasnya ganti genre, bukan lagi televisi atau sosial media, tetapi metaverse yang makin ngawang-awang wujudnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Adi Sutakwa<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-jadi-emak-emak-penerima-beasiswa-monbukagakusho-mext-dari-pemerintah-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Jadi Emak-emak Penerima Beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dari Pemerintah Jepang<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungguh mengenaskan kami tidak pernah diajak debat.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":185799,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[16499,3228,5646,8386,421],"class_list":["post-185469","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-awardee-lpdp","tag-beasiswa","tag-beasiswa-lpdp","tag-lpdp","tag-twitter"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185469","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185469"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185469\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/185799"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185469"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185469"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185469"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}