{"id":184775,"date":"2022-07-24T10:51:04","date_gmt":"2022-07-24T03:51:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=184775"},"modified":"2022-07-24T16:30:57","modified_gmt":"2022-07-24T09:30:57","slug":"jogja-sudah-tidak-istimewa-gunungkidul-tetap-merana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-sudah-tidak-istimewa-gunungkidul-tetap-merana\/","title":{"rendered":"Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan Mas Jevi Adhi di Terminal Mojok yang berjudul \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-istimewa-gunungkidul-merana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana<\/a>\u201d sukses membuat memori lama soal kabupaten ini terpanggil lagi. Sebuah momen di mana ditinggal nikah membuat saya agak goyah. Selama lebih dari tiga bulan saya healing di Gunungkidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, waktu itu, nggak ada istilah healing di momen seperti ini. Waktu itu, namanya \u201clari dari kenyataan\u201d dan menghabiskan waktu dengan senang-senang. Waktu itu pula, saya diajak teman untuk menyingkir barang sejenak dari Kota Jogja. Dan yang sejenak itu berubah jadi tiga bulan dalam sekejap mata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya ini memang baik banget. Dia tahu bahwa saya hanya akan makin tenggelam dalam alkohol jika tidak pergi sebentar dari Jogja. Dia menawarkan sejuk di puncak-puncak pegunungan dan kehangatan manusia di Gunungkidul. Dan begitulah, tidak terasa, tiga bulan berlalu begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama tiga bulan itu, di antara senang-senang kulineran dan main ke pantai, saya menyaksikan beberapa hal kecil yang menyenangkan sekaligus terasa ironis. Izinkan saya menjelaskan beberapa di antaranya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Soal UMR yang \u201ctak terasa tapi berbahaya\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang dijelaskan Mas Jevi, Kabupaten Gunungkidul mencatatkan \u201cdua prestasi\u201d terkait UMK. Pertama, dengan Rp1,9 juta per bulan, jadi yang terendah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-keliru-tentang-jogja-yang-telanjur-diyakini-oleh-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">DIY<\/a>. Kedua, berhasil masuk 15 terbawah UMK di Indonesia. Ini catatan sekarang, ya. Ketika saya minggat dari Jogja pada 2009, kalau tidak salah ingat, UMK-nya malah lebih rendah lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saat itu, banyak anak muda di Gunungkidul yang belum sepenuhnya aware dengan bahaya kondisi ini. Jadi, selama tiga bulan di sana, saya cukup sering jajan di \u201cBakso Toilet\u201d yang bernama asli Bakso Pak Wariyun. Warung bakso termasyhur yang berada di belakang toilet terminal. Dan si sana, obrolan soal UMK dan UMR pernah muncul ke permukaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran cukup lama berada di sana, saya jadi akrab dengan teman-teman dari teman yang menampung saya. Pada 2008, mereka masih sangat berharap dari sektor pariwisata sebagai pemasukan. Maklum, di tahun-tahun itu, Pantai Indrayanti lagi muncul ke permukaan sebagai salah satu destinasi terbaik. Sebuah kondisi yang membuat banyak anak muda percaya diri lantaran masih banyak pantai yang sebetulnya nggak kalah cantik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, masih banyak lokasi yang bisa \u201cdijual\u201d oleh warga lokal dan menjadi andalan di sektor pariwisata. Yah, kalau ngomong Gunungkidul, top of mind-nya memang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-umk-gunungkidul-yang-tak-seindah-pantainya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pantai<\/a>. Oleh sebab itu, di akhir pekan, nggak heran kalau jalanan di sana didominasi pelancong berplat AB Kota Jogja dan Sleman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mendengarkan obrolan ini dengan perasaan biasa saja. Saya ikut senang karena jadi bakal sering diajak ke pantai sama warga lokal, yang mana pasti nggak perlu bayar retribusi. Nah, soal \u201ceksodus\u201d anak muda untuk mencari pekerjaan di luar Gunungkidul itu sama sekali nggak terbayangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah, lantaran tak pernah terbayangkan, jadi beberapa orang yang saya kenal waktu itu jadi nggak siap. Banyak dari mereka yang sudah bekerja di Kota Jogja. Lebih banyak lagi yang sudah sampai di Cikarang, Jakarta, sampai Malaysia. Kenapa begitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena, sekali lagi, sangat terang seperti yang dijelaskan Mas Jevi, banyak anak muda Gunungkidul yang tidak ikut menikmati \u201ckue pariwisata\u201d. Yah, minimal, dapat remah-remah saja. Porsi terbesar justru dinikmati oleh investor dan orang kaya dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga lokal sebatas jadi guide, buka warung <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-menjadi-penjual-es-degan-dari-kelapa-jatuh-sampai-perang-harga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kelapa muda<\/a>, menyewakan tikar atau payung pantai, jualan oleh-oleh, jaga retribusi, sampai kuliner di tempat wisata. Eh, mereka yang kerja di hotel yang \u201cagak lumayan\u201d itu ada juga yang dari Kota Jogja, lho.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemasukan mereka ada yang terbilang lumayan. Tapi, tetap saja, untuk ukuran orang lokal. Pemilik dari hampir semua \u201csumber lapangan kerja\u201d adalah orang luar. Kok saya yakin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana nggak yakin kalau paman salah satu teman saya hampir jadi pemilik sebuah resor di Gunungkidul. Dia sudah ikut bid untuk sebuah lokasi. Namun, akhirnya kalah sama taipan ibu kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Gunungkidul seperti nggak jadi tuan rumah di ladang sendiri. Dan, jangan salah, kondisi ini sudah dimulai sejak lama. Ketika orang-orang kaya, baik dari Kota Jogja sampai ibu kota, lebih \u201cpunya ide\u201d untuk mengeksploitasi sebuah kekayaan alam. Oleh sebab itu, banyak anak muda yang memilih untuk hengkang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka ingin jadi \u201ctuan rumah\u201d. Yah, setidaknya, tuan rumah di kontrakan sederhana, di sebuah daerah industri yang jauh dari sejuknya pegunungan di kampung halaman.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Cap udik yang bertahan sampai sekarang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu merasa nggak kalau kesejahteraan ekonomi berpengaruh secara langsung kepada derajat manusia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, waktu saya masih bocah, salah satu makian yang terkenal di Kota Jogja itu bunyinya kayak gini: \u201cDasar cah Tepus. Ndeso banget!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mana <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tepus,_Gunungkidul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tepus<\/a> itu berada? Ya tentu saja di Gunungkidul. Sekarang, Tepus sudah menyandang status \u201cDesa Wisata\u201d. Masih gersang dan berbatu, tapi agak lebih dikenal secara positif ketimbang zaman dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu itu, Tepus adalah bayangan orang Jogja untuk sebuah lokasi yang teramat sangat jauh. Sangat terpencil. Gersang. Nggak menarik. Udik. Makanya, cocok untuk makian \u201cNdeso\u201d. Artinya, kamu yang jadi sasaran makian adalah orang terbelakang secara pendidikan dan kesejahteraan. Sangat nggak menarik. Bikin malu saja untuk dijadikan kawan sepermainan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, gaung makian itu masih terdengar samar sampai sekarang. Nggak lagi pakai isitilah \u201cTepus\u201d, tapi Gunungkidul secara keseluruhan. Dari Tepus, berubah menjadi \u201ccah nggunung\u201d. Makian yang sama yang dipakai untuk menyindir orang Menoreh, Kulon Progo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201ccah nggunung\u201d atau \u201canak gunung\u201d bukan merujuk seorang remaja yang mencintai alamnya. Namun, identik dengan makian bahwa kamu itu udik karena tinggal di gunung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini seperti membenarkan sebuah pengertian yang dituliskan oleh Mas Jevi, yaitu \u201cAdoh Ratu, cedhak watu.\u201d Orang Gunungkidul itu lebih akrab sama \u201cbatu\u201d ketimbang \u201cRatu\u201d yang bersemayam di Kota Jogja. Ratu di sini merujuk kepada Raja ya, yang berarti Pak Sultan. Dan jauh di sini merujuk ke batin, bukan jarak.<\/span><\/p>\n<h4><b>Jogja itu apa masih istimewa?<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Jogja, saya sering mengulang pertanyaan itu di dalam hati. Apakah kampung halaman saya masih istimewa? Jujur saja, kok saya merasa sisi itu sudah nggak terlalu relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana ya, terminologi \u201cistimewa\u201d itu kan artinya \u2018lain daripada yang lain\u2019 atau \u2018luar biasa\u2019. Merujuk ke sesuatu yang sempurna di semua lini. Nah, sampai di sini, saya sebetulnya lelah menjelaskan banyaknya sisi negatif yang mengemuka di Jogja dan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">UMR? Sudah sering. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-gelut-day-dan-omong-kosong-selesaikan-klitih-di-dalam-ring-semua-soal-bisnis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klitih<\/a> yang namanya diubah hanya demi sebuah citra? Iya, sudah sering. Kekerasan rasial? Sering juga. Jalanan makin ruwet? Iya juga. Ya kalau hal-hal negatifnya sama kayak kota lain, bagian mana dari Jogja yang masih istimewa. Hanya karena status pimpinan daerah? Ya bisa juga, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apakah status itu secara otomatis membuat warganya punya kehidupan yang istimewa? Silakan dirembug dengan kepala dingin dan hati yang lapang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana ya, di tengah perubahan status dari \u201cBerhati nyaman\u201d ke \u201cIstimewa\u201d, Gunungkidul khususnya, masih tetap merana. Apalagi sekarang ini. Yah, ini semua hanya simbol. Hanya kata-kata hari ini yang terdengar merdu untuk diucapkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya bergantung kepada kualitas individu untuk memuliakan dan peduli kepada sesama. Kalau sisi itu nggak ada, ya anggap saja pemimpin daerah itu nggak ada. Yang ada cuma takhta itu untuk rakyat, demi kesejahteraan rakyat. Bukan untuk orang lain yang terlalu nyaman menyandang status \u201cpemimpin rakyat\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Moddie Alvianto W.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-warung-bakso-gunungkidul-paling-enak-yang-sebaiknya-dicoba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Warung Bakso Gunungkidul Paling Enak yang Sebaiknya Dicoba<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Adoh Ratu, cedhak watu.<\/p>\n","protected":false},"author":1885,"featured_media":184777,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5281,529,115,2213,16381,16382],"class_list":["post-184775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gunungkidul","tag-jakarta","tag-jogja","tag-jogja-istimewa","tag-pantai-indrayanti","tag-panti-gunungkidul"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1885"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=184775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184777"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=184775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=184775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=184775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}