{"id":184709,"date":"2022-07-24T11:00:53","date_gmt":"2022-07-24T04:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=184709"},"modified":"2022-07-24T09:09:01","modified_gmt":"2022-07-24T02:09:01","slug":"sudah-jangan-ke-wakatobi-masih-banyak-wisata-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-jangan-ke-wakatobi-masih-banyak-wisata-lainnya\/","title":{"rendered":"Sudah Jangan ke Wakatobi, Masih Banyak Wisata Lainnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali bertemu orang baru dan tahu bahwa saya orang Wakatobi, pernyataan yang selalu wah keluar dari orang tersebut. \u201cWakatobi itu yang wisata pantainya bagus itu, kan?\u201d Respons itu entah sebagai template atau memang orang-orang ini (paling tidak) pernah lihat Wakatobi dari televisi tersebut selalu bikin kepala saya mengembang. Ternyata Wakatobi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-aneh-tentang-wakatobi-yang-harus-kamu-ketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bisa bikin orang kagum<\/a> juga ya~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo itu masih respons yang normatif, saya juga sering dibuat kagum oleh beberapa orang yang ketika bertemu saya dan tahu bahwa saya dari Wakatobi, menyatakan keinginan mereka untuk ke Wakatobi, sekadar wisata atau bahkan menetap di sana untuk waktu yang panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi berpikir, kabar tentang keindahan itu ternyata sudah sejauh itu melanglang buana bahkan sampai membuat orang punya mimpi ke sana. Saya jadi mikir jauh ke depan. Anggap saja orang-orang yang kenal Wakatobi ini benar-benar ke tempat saya, lalu melihat secara langsung keindahan lautnya, lalu terkagum-kagum, lalu pulang ke asalnya dan bercerita kepada orang lain, lalu akan semakin terkenallah tempat saya. Sungguh keren sekali!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, itu sekadar andai-andai saya saja. Mengingat kondisi Wakatobi saat-saat ini (yang terjadi bahkan sejak dulu), membuat saya cukup pesimis cita-cita mendatangkan banyak wisatawan hanya akan selalu jadi cita-cita yang dirawat tahun demi tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo boleh memberi saran, kepada sesiapa saja yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wakatobi-surabaya-dan-jogja-mana-yang-lebih-layak-untuk-ditinggali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">punya cita-cita<\/a> untuk berwisata ke Wakatobi mulai sekarang urungkan niat itu. Bukannya mengusir, beberapa alasan berikut ini (saya kira) mungkin saja akan membuat Anda pikir dua kali sebelum memutuskan berangkat.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, tentu saja masalah transportasi yang sejak dulu sampai saat ini tidak pernah selesai. Begini, untuk sampai ke Wakatobi itu susah. Hanya bisa dijangkau dengan dua moda transportasi, kapal dan pesawat. Pilihan paling murah, tentu saja kapal. Misalkan saja Anda\u00a0 berangkat dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-fakta-menarik-tentang-surabaya-yang-jarang-dibicarakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya,<\/a> maka pilihan murah ini bisa dipakai. Kapal dari Tanjung Perak akan mengantar Anda ke Pelabuhan Murhum di Bau-Bau. Sayangnya, itu belum Wakatobi. Untuk sampai ke Wakatobi, Anda perlu menyebrang menggunakan kapal lagi. Ribet? Ada hal lebih besar yang harus Anda pertimbangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menggunakan kapal ke Wakatobi adalah salah satu pilihan buat mereka yang tidak sedang dikejar waktu, tidak sedang buru-buru, atau juga mereka yang selow-nya sudah melebihi PNS. Kenapa bisa begitu? Mari kita hitung-hitungan waktu perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Murhum itu membutuhkan waktu rerata 2 hari 3 malam atau 3 hari dua malam (tergantung hari\/malam keberangkatan). Lalu setelah sampai di Bau-Bau, perjalanan perlu dilanjutkan. Jika menggunakan kapal lagi, perlu untuk memilih tujuan salah satu pulau di Wakatobi, lalu menunggu malam hari karena kapal laut ke Wakatobi biasanya berangkat pada malam hari dengan waktu tempuh 6 sampai 10 jam. Maka bisa dipastikan, berangkat menuju Wakatobi menggunakan kapal bisa kita tempuh dengan waktu (hitungan kasar) 5 hari. Dan itu baru berangkatnya. Untuk PP, tinggal kali dua, jadi 10 hari. Dan ingat lagi, itu baru perjalanannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pilihan lain menggunakan <a href=\"https:\/\/www.traveloka.com\/id-id\/flight\/route\/Wakatobi-Makassar.WNI.UPG\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesawat.<\/a> Nah, asiknya pesawat ini sebenarnya adalah perjalanan yang cukup hemat waktu. Sayangnya, tidak hemat uang. Untuk sampai di mendarat di bandara matahora di Wakatobi dengan sempurna, (misal) dari Surabaya Anda membutuhkan sekira 2 juta sekali berangkat. Untuk PP sekira 4 juta, dan itu baru untuk satu orang, untuk transportasi. Yang lebih wah lagi, 4 juta itu adalah harga sebelum tiket pesawat melonjak beberapa bulan ke belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pening? Kalo belum, mari kita menuju poin yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal urusan transportasi sudah bisa diatasi, poin <\/span><b>kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang perlu dipikirkan adalah akses. Jika di poin sebelumnya tadi bicara soal persoalan transportasi untuk sampai ke Wakatobi, pada poin ini, mari kita bicara kondisi transportasi dan akses di Wakatobi itu sendiri. Sebagai daerah dengan kepulauan, akses satu pulau dengan yang lain sebenarnya sudah ada. Artinya, untuk menjangkau satu lokasi tertentu, aksesnya ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah bahwa akses hanya tersedia untuk waktu tertentu saja, tidak seperti halnya bus Surabaya-Jogja yang berangkat setiap 15 menit sekali. Paling banter ya transportasi (kapal\/speedboat) yang berangkat dua atau tiga kali dalam satu hari dan itu tidak PP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permasalah transportasi antarpulau ini diperparah dengan kondisi jalanan di pulau itu sendiri yang tidak layak disebut sebagai jalan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai jalan setapak. Itu pun sudah kroak sana sini. Maka lengkaplah poin ini sebagai alasan untuk tidak usah wisata ke Wakatobi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh tapi, ternyata ada poin yang lebih sadis dari sekedar akses dan transportasi di atas. Adalah persoalan <\/span><b>ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa ketika wisatawan sudah di Wakatobi, lantas mau wisata ke mana? Orang yang pernah berkunjung atau sekadar tahu Wakatobi dari desas-desus, mestinya paham bahwa Wakatobi justru nggak punya pantai yang bisa dijadikan referensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya begini, Wakatobi nggak punya pantai yang jadi primadona. kok bisa? lha pemandangannya sama semua!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah sebabnya, pantai di Wakatobi itu tidak seterkenal pantai-pantai lain di tempat wisata lainnya. Belum lagi penamaan pantai yang aslinya sudah bagus, malah dipermak dan jadi nggak Wakatobi banget. Pantai Cinta, pffft, apa itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, oleh karena pantai dan laut itu (menurut) warga lokal adalah wisata yang sudah antimainstream, maka dibuatlah wisata-wisata kekinian yang oke punya. Sebut saja tempat ngopi di pinggir jurang dengan pemandangan sunset. Atau wisata apung dengan suguhan kopi kekinian. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya, kalo sekadar wisata ikut-ikutan begitu, keknya lebih proper yang dibikin orang-orang kota deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan alasan ini adalah pamungkas dari semua alasan untuk orang kota tidak usah wisata ke Wakatobi. Buang-buang waktu dan uang saja!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Taufik<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-aneh-tentang-wakatobi-yang-harus-kamu-ketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Hal Aneh tentang Wakatobi yang Harus Kamu Ketahui<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akamsi bersabda.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":184763,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1163,8817,3224],"class_list":["post-184709","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-pantai","tag-wakatobi","tag-wisata"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184709","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=184709"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184709\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184763"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=184709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=184709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=184709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}