{"id":184298,"date":"2022-07-21T09:00:29","date_gmt":"2022-07-21T02:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=184298"},"modified":"2022-07-21T08:57:14","modified_gmt":"2022-07-21T01:57:14","slug":"larangan-membawa-hape-ke-sekolah-masihkah-relevan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/larangan-membawa-hape-ke-sekolah-masihkah-relevan\/","title":{"rendered":"Larangan Membawa Hape ke Sekolah, Masihkah Relevan?"},"content":{"rendered":"<p><em>Larangan membawa hape ke sekolah mulai tidak relevan untuk diterapkan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katakanlah 10-15 tahun yang lalu, smartphone belum jadi kebutuhan utama. Sekunder pun belum. Barang ini masih jadi barang mewah yang, jika tak terlalu mendesak, masih tak perlu dibeli. Kini, berbeda. Kecepatan dunia yang tak terkejar bikin hape jadi barang yang harus dimiliki, tak peduli status sosialmu, tak peduli siapa dirimu. Anak sekolah pun, kini, menurut saya, wajib punya hape.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa wajib? Sederhana: memudahkan. Kegiatan belajar jadi jauh lebih mudah karena hape. Ada hal yang belum diketahui? Buka hape, ketik di peramban, ketemu jawabannya. Dan masih banyak lagi caranya. Apakah ini buruk karena mengenalkan jalan pintas kepada siswa? Tidak juga. Teknologi ada untuk memudahkan, dan memang itu tujuan teknologi dikembangkan, bukan? Ayolah, guru pun dimudahkan karena hal-hal ini juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, masih banyak yang memilih untuk tidak beradaptasi dengan kenyataan tersebut. Yang saya maksud adalah masih banyak sekolah yang menerapkan larangan membawa hape ke sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak tahu bagaimana situasinya di kota lain, tetapi di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-paling-saya-banggakan-dari-palembang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Palembang,<\/a> begitulah yang terjadi. Berdasarkan hasil \u201cpenyelidikan\u201d singkat saya, ada beberapa alasan para guru menetapkan regulasi tersebut. Salah satunya adalah ketakutan mereka bahwa penggunaan HP di lingkungan sekolah akan membuat anak menjadi kurang fokus ketika tengah menyerap pelajaran di kelas. Selain itu, bisa saja anak akan menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/gimana\/5-cara-mengurangi-kecanduan-main-handphone\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kecanduan<\/a> dan tak bisa lepas dari ponsel pintar mereka barang sejenak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, ponsel sesungguhnya juga dapat memberikan banyak manfaat terhadap para pelajar. Lantas, masihkah larangan membawa hape ke sekolah relevan untuk dipraktikkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu percaya bahwa apa pun yang dilakukan secara berlebihan itu tidak bagus, termasuk dalam menggunakan HP. Saya paham dengan maksud dari beberapa alasan yang telah dikemukakan sebelumnya. Ketika seseorang sedang menggunakan ponsel, biasanya mereka akan sampai lupa waktu dan tak menyadari bahwa mereka telah \u201cmenjauh\u201d dari dunia nyata selama beberapa saat. Hal ini tentu memang dapat berdampak pada tingkat konsentrasi anak di lingkungan belajar. Mereka akan terdistraksi, jadi ansos, yada yada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, itu terlalu klise.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah pentingnya peranan seorang guru. Tidak hanya harus bisa memberikan ilmu-ilmu akademis kepada murid didikannya, tetapi juga mengenai kebijaksanaan dalam melakukan sesuatu. Dengan bimbingan yang baik dari guru-gurunya, para pelajar pasti akan dapat memaksimalkan eksistensi ponsel pintar mereka dengan tujuan yang positif. Meski, ini tak hanya jadi tugas guru, namun juga sekolah secara general.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun yang menyalahgunakan hape, saya pikir, tak jadi mayoritas. Bisa jadi dalam jumlah yang amat kecil. Larangan membawa hape, jika didasari oleh perilaku sejumlah kecil siswa tersebut, kok kurang bijak ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian banyak ilmu yang bisa diakses dari smartphone. Gadget membuka banyak sekali kemungkinan positif dan ilmu yang bisa digali, kenapa harus dilarang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pihak sekolah sebaiknya memikirkan pula dampak-dampak lainnya di luar urusan akademis yang mungkin sering dianggap remeh. Seperti misalnya jika sang anak perlu untuk berkomunikasi dengan orang tuanya di waktu sekolah. Bayangkan suatu kondisi di mana seorang anak tiba-tiba merasa demam sehingga harus pulang lebih awal dan kebetulan, anak itu tidak membawa kendaraan pribadi ke sekolah. Jika saja ia diizinkan untuk membawa ponsel, yang perlu ia lakukan hanyalah menghubungi ayah atau ibunya dan meminta mereka untuk menjemputnya dari sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena mereka tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi, maka hal tersebut tentu jadi sulit dilakukan. Pada akhirnya, sang anak jadi terpaksa untuk tetap pulang sendiri dalam kondisi badan yang sedang tidak fit, yang mana hal itu tentu cukup mengkhawatirkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau, solusi lainnya yang dapat diambil adalah kesediaan dari para pengajar untuk mengantarkan sang anak pulang ke rumahnya. Boleh-boleh saja, sih, kalau begitu, tetapi tentu hal ini jadi akan merepotkan kedua belah pihak, bukan? Itulah mengapa, dalam kasus-kasus semacam ini, kehadiran ponsel sangatlah diperlukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha remuk kalau bikin larangan membawa hape, tapi nggak mau repot juga kalau siswanya butuh apa-apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagaimakah solusi terbaiknya? Menurut saya pribadi, sebaiknya larangan untuk membawa hape ke sekolah dicabut saja. Namun, tentu ada syarat yang harus ditaati, misalnya ponsel hanya boleh digunakan di jam mata pelajaran tertentu yang memang memerlukan bantuan internet dan teknologi, serta ketika bel pulang sekolah telah dibunyikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, andai saja ada \u201ckejadian\u201d mendadak seperti pulang sekolah yang lebih cepat karena para guru ingin mengadakan rapat, para murid yang dijemput oleh orang tuanya bisa segera menghubungi mereka dan menghindari terjadinya miskomunikasi dengan para orang tua didik. Selain itu, perlu dibuat pula sanksi tegas bagi mereka yang melanggar. Pelanggarannya seperti apa, ya sekolah yang menentukan. Mosok aku, aku terooos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, larangan membawa hape ke sekolah tak lagi relevan. Potensi penyalahgunaan selalu ada. Tapi, kalau mengeliminasi potensi dengan memberangusnya, rasanya kok nggak bijak. Ingat, sekolah itu ada untuk mengajari siswa bertindak <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Logika\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">logis<\/a> dan berpikiran bijaksana. Kalau peraturannya jauh dari logis dan bijaksana, lalu apa yang mau diajarkan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/list\/5-kisah-penyelamatan-diri-dari-razia-di-sekolah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Kisah Penyelamatan Diri dari Razia di Sekolah<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak apa-apa sih harusnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1696,"featured_media":184496,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[2321,8804,7088,13747,359],"class_list":["post-184298","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-aturan","tag-distraksi","tag-hape","tag-larangan","tag-sekolah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184298","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1696"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=184298"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184298\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184496"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=184298"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=184298"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=184298"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}