{"id":184124,"date":"2022-07-17T15:20:30","date_gmt":"2022-07-17T08:20:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=184124"},"modified":"2022-07-17T15:20:30","modified_gmt":"2022-07-17T08:20:30","slug":"hal-yang-perlu-diperhatikan-saat-membangun-bisnis-bersama-saudara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-perlu-diperhatikan-saat-membangun-bisnis-bersama-saudara\/","title":{"rendered":"Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membangun Bisnis Bersama Saudara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian orang menganggap membangun bisnis bersama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-menjalankan-bisnis-keluarga-tanpa-harus-menjadi-beban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">keluarga<\/a> atau saudara kandung itu lebih enak dan asyik. Alasannya karena sudah kenal dari kecil, paham dengan karakter masing-masing, dan nggak perlu repot-repot lagi dalam membangun komunikasi karena sudah terbiasa di kehidupan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ternyata, membangun bisnis keluarga (atau membangun bisnis bersama keluarga) memang tak mudah. Banyak tetek bengek yang perlu dipikirkan. Dan nggak ada juga jaminan bahwa berbisnis bersama saudara itu akan selalu lancar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa-bisa ketika muncul masalah, hubungan persaudaraan pun bisa pecah, tak lagi saling tegur sapa. Saya malah ingat pesan orang tua yang wanti-wanti supaya lebih baik jangan berbisnis sama saudara atau sahabat. Sebab, dunia bisnis itu besar resikonya dan besar pula potensi konfliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, bagaimana pun yang namanya saudara, atau kakak adik walaupun lahir dari orang tua yang sama, nggak selalu punya kesamaan. Entah dalam cara berpikir, etos kerja, kesiapan mental, pengetahuan, kompetensi, dan lain-lain. Semua perbedaan itulah yang berpotensi bisa menimbulkan masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi bukan berarti kita nggak bisa berbisnis dengan saudara kandung. Karena banyak juga contohnya orang-orang yang sukses berbisnis bersama saudara kandungnya. Contohnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/nafkah\/menghitung-kekayaan-michael-bambang-hartono-bos-djarum-yang-jadi-atlet-terkaya-di-asian-games\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Michael Bambang Hartono<\/a> dan Robert Budi Hartono, pemilik usaha rokok <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-singkat-bertahan-sebagai-pencinta-djarum-saat-nongkrong-di-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Djarum<\/a> yang berhasil masuk daftar 100 orang terkaya di dunia versi <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Forbes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Forbes<\/a> 2021.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau besar risikonya, berbisnis bersama saudara kandung tetap punya keunggulan. Paling tidak, rasa kepercayaan kita sudah tertanam sejak kecil. Kita yang paling tahu bagus buruknya saudara sendiri dibanding orang lain. Dengan ikatan keluarga yang kuat, proses musyawarah dah komunikasi pun juga tidak sulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun tetap saja, jangan sampai melupakan faktor kelemahannya. Kadang ketika berbisnis bersama saudara, segala masalah yang terjadi dianggapnya bagian dari masalah keluarga. Padahal, urusan bisnis dan keluarga harus dibedakan. Kita dituntut untuk tetap profesional dalam mengelola manajemen usaha. Harus ada rambu-rambu yang disepakati dan dipatuhi, termasuk dalam hal SOP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kira-kira langkah apa saja yang perlu dipikirkan sebelum membangun bisnis bersama saudara kandung? Yang pertama adalah, harus menyamakan visinya dulu. Sebab, biar pun hubungan kakak-adik sudah sedemikian dekat, tapi kalau visinya nggak sejalan, akan repot juga. Misalnya, ketika sang kakak mulai semangat, tapi adiknya cenderung males-malesan. Atau ketika si kakak punya komitmen untuk mengembangkan usaha, eh adiknya malah sudah kelihatan nggak bergairah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kedua, jangan terlalu saklek juga. Meskipun harus profesional, tapi jangan terlalu membuat peraturan yang membuat hubungan kakak-adik jadi kaku. Bagaimana pun jangan sampai melupakan faktor kekeluargaan. Misalnya, ketika sang adik tidak bisa ikut meeting karena harus mengurus anaknya yang sakit, si kakak pun harus bisa memaklumi. Tidak langsung menegur keras, marah, apalagi memutuskan hubungan rekan bisnis. Toh sebagai kakak, dia yang paling tahu tentang kondisi adiknya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, buatlah manajemen bisnis yang tepat, mencakup pembagian tanggung jawab, status kepemilikan usaha, pembagian laba, saham dan lain-lain. Hal ini harus sudah dilakukan sejak awal, meski bisnis yang dibangun masih kecil-kecilan. Ini supaya ketika bisnis sudah membesar, tidak perlu repot lagi menetapkan aturan, yang malah bikin pusing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan keempat, nggak ada salahnya melibatkan bantuan profesional bila ada masalah yang tidak bisa terpecahkan. Malah, menurut saya, melibatkan profesional itu wajib. Ini demi meminimalisir hubungan kakak-adik menjadi renggang, ketika terjadi perbedaan pendapat di tengah-tengah perjalanan mengurus bisnis. Maka kesepakatan hitam di atas putih yang dilakukan di hadapan notaris bisa dilakukan sejak awal, sehingga tidak muncul perdebatan yang bisa memutus tali persaudaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, apakah kalian tertarik? Kalau iya, ingat pesan saya di atas ya. Semoga beruntung!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Fajar Fery Ferdiansyah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terjalnya-jalan-untuk-wirausaha-jika-kamu-tulang-punggung-keluarga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terjalnya Jalan Wirausaha Jika Kamu Tulang Punggung Keluarga<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diperhatikan, Gaes.<\/p>\n","protected":false},"author":1889,"featured_media":184129,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[101,3174,16325,16326,7454],"class_list":["post-184124","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-bisnis","tag-djarum","tag-michael-bambang-hartono","tag-robert-hartono","tag-saudara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184124","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1889"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=184124"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/184124\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=184124"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=184124"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=184124"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}