{"id":183916,"date":"2022-07-15T14:00:09","date_gmt":"2022-07-15T07:00:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=183916"},"modified":"2022-07-15T13:01:13","modified_gmt":"2022-07-15T06:01:13","slug":"ivanna-film-horor-terbaik-dari-semesta-danur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ivanna-film-horor-terbaik-dari-semesta-danur\/","title":{"rendered":"Ivanna: Film Horor Terbaik dari Semesta Danur"},"content":{"rendered":"<p><em>Kehadiran Ivanna seolah jadi angin segar bagi dunia film horor Indonesia.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suka atau tidak, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/danur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Danur<\/em><\/a> adalah waralaba horor terbesar di Indonesia saat ini. Hampir semua filmnya sukses tembus jutaan penonton. Namun, <em>Danur<\/em> termasuk kasus populer lainnya yang memang berhasil menarik minat dari masyarakat luas, sekaligus menghasilkan kelompok penonton yang antipati. Hal ini terbukti dari banyaknya penonton tiap kali film <em>Danur<\/em> dirilis dan dibarengi ulasan kritik yang tak pernah memuaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar kritik yang diterima waralaba ini terkait dengan formula horor mainstream-nya. Sesering apa pun Risa Saraswati\u2014penulis buku-buku sumber material waralaba <em>Danur\u2014<\/em>bilang bahwa hantu-hantu di kisahnya punya dimensi karakter yang tak melulu jahat, ternyata tidak mengubah treatment hantu-hantu <em>Danur<\/em> menjadi unik. Ia masih sama dengan film horor pada umumnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa lalu hantu memang diperlihatkan, namun tujuan film-film semesta <em>Danur<\/em> tetap seperti film horor pada umumnya: nakut-nakutin penonton. Mau bagaimana lagi, buktinya film-film <em>Danur<\/em> memang laris manis dan pasar menyukainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya formula bukanlah masalah. Film-film <em>Danur<\/em> jadi terkesan tidak memiliki kebaruan bagi film horor lokal karena teknik nakut-nakutin yang gitu-gitu saja: mengandalkan kumpulan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jumpscare\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jump scare<\/a> dan mengalihkan cerita dan karakter yang tak pernah kokoh. Untungnya Awi Suryadi, sutradara 4 dari 5 film waralaba <em>Danur<\/em>, masih bisa memberi sentuhan unik melalui aspek visualnya. Sayang, ia tetap dituntut menuruti formula horor mainstream bermodal cerita yang lemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, semesta <em>Danur<\/em> kedatangan keluarga barunya melalui sebuah film spin-off berjudul <em>Ivanna<\/em>. Sosok hantu Ivanna sebenarnya pernah muncul di film <em>Danur<\/em> <em>2: Maddah<\/em>. Kali ini, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kimo_Stamboel\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kimo Stamboel<\/a> mengambil alih kursi sutradara. Ia jadi sutradara ketiga yang mencoba mengendalikan film dari semesta <em>Danur<\/em> setelah Awi Suryadi (<em>Danur 1, 2,3, <\/em>dan <em>Asih 1<\/em>) dan Rizal Mantovani (<em>Asih 2<\/em>). Hasilnya, Kimo berhasil menawarkan sesuatu yang segar dari jenuhnya formula semesta <em>Danur<\/em>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Ivanna<\/em> sebenarnya masih jadi film horor dengan formula klasik. Mengandalkan rumah tua yang seram dan karakter-karakter usil yang memicu hantu beraksi. Namun, kali ini <em>Ivanna<\/em> berhasil bersinar memanfaatkan formula klasik itu dengan tambahan kekhasan Kimo yang doyan bikin adegan brutal. Selain itu, kali ini <em>Ivanna<\/em> jadi film waralaba <em>Danur<\/em> yang lebih bisa bercerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Ivanna<\/em> berfokus pada karakter Ambar dan adiknya, Dika, yang pindah untuk tinggal di panti jompo yang dikelola Agus dan pacarnya. Di sana, mereka akan mengurus tiga orang lansia, yakni Nenek Ani, Kakek Farid, dan Oma Ida. Selain itu ada pula cucu Oma Ida, Arthur, yang tengah berkunjung ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/panti-jompo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">panti jompo<\/a> dalam rangka merayakan Idul Fitri. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tingkah para karakter muda dalam film ini kemudian mengantarkan mereka ke penemuan ruang bawah tanah yang di dalamnya terdapat patung tanpa kepala. Semenjak itu, Ivanna, si hantu tanpa kepala, memberi teror pada penghuni panti jompo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup terkejut melihat bagaimana film ini bisa begitu sabar bercerita di babak pertama, tidak terburu-buru langsung bermain penampakan. <em>Ivanna<\/em> berhasil fokus pada mengenalkan karakter dan menyebar berbagai set up untuk panggung utama keseruannya nanti.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan hingga tiba saatnya bagi Ivanna meneror orang-orang di panti, Kimo berhasil memberi beberapa elemen yang menyegarkan dalam film ini. <em>Ivanna<\/em> berhasil menjauh dari stigma jump scare waralaba <em>Danur<\/em> yang lebih terkesan kompilasi setor muka jelek hantu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kemunculan Ivanna benar-benar terasa menakutkan lantaran kehadirannya meninggalkan dampak yang serius, yaitu memutus kepala orang-orang. Di sinilah bakat Kimo digunakan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/adegan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">adegan-adegan <\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">slasher<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang di beberapa tempat memberi elemen layaknya film horor kelas B. Kalau film ini sukses, tampaknya Ivanna bakal jadi sosok hantu yang begitu berkesan dan ikonik dengan metode menghantuinya yang khas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permainan menakuti Kimo tidak berhenti di situ. Saya cukup terkesima dengan patung Ivanna yang tak berkepala itu. Kehadirannya memberi efek waswas tersendiri. Tentu saya menantikan patung itu bergerak dan menakuti orang-orang. Tapi, eksekusinya yang tepat membuat setiap pergerakan patung Ivanna begitu efektif untuk memberikan efek yang berpengaruh ke cerita dan suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keefektifan menakuti-nakuti dari Kimo juga terasa dari penggunaan efek suara yang jauh dari kesan berisik. Justru, Kimo berhasil menyajikan kesan sunyi di beberapa tempat yang membuat teriakan penonton lebih terdengar, kali ini terdengar seperti teriakan ketakutan ketimbang teriakan kaget. Malah kesan sunyi tersebut dimanfaatkan dengan baik untuk memunculkan geraman menjurus teriakan milik Ivanna yang sangat terasa marah akan sesuatu. Apakah akhirnya hantu memiliki rasa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu elemen segar lain dari <em>Ivanna<\/em> adalah caranya menyajikan flashback. Flashback dalam film horor lokal memang agak jadi momok lantaran di sinilah para penulis naskah dan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/asisten-sutradara-jantungnya-sebuah-produksi-film\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> sutradara<\/a> akan diuji, apakah mereka menjadi lazy writers atau tidak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya <em>Ivanna<\/em> tidak memiliki kesan itu. Kimo berhasil memberi opsi teknis menarik bagaimana ia memanfaatkan karakter Ambar dengan atribut masalah pada matanya yang mengantarkannya untuk bisa melihat masa lalu. Pada awalnya, cara ini sangat menarik dan segar. Sayang, seiring waktu cara ini mulai terkesan repetitif karena terlalu lama sebelum akhirnya cerita kembali pada keseruan teror Ivanna.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Ivanna<\/em> jelas masih menyisakan beberapa catatan. Selain masalah flashback yang belum sempurna, ada juga dialog eksposisi yang masih terkesan over informasi, beberapa cerita dan karakter yang lewat tidak digali, dan juga pilihan pengadeganan akhir yang kurang klimaks. Tapi secara keseluruhan, saya merasa beberapa kekurangan tersebut bisa diampuni lantaran sepanjang durasi, Kimo beserta tim yang bertugas berhasil menyajikan tontonan rollercoaster ketegangan yang menyenangkan disertai adegan-adegan segar untuk ukuran film horor lokal. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Ivanna<\/em> jelas jadi film horor yang jauh dari kesan malas lantaran berusaha menghadirkan beberapa inovasi segar yang dieksekusi dengan baik. Meski masih menggunakan formula klasik, Kimo masih bisa menyajikan Ivanna cara menakuti yang asyik.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Sabilurrosyad<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-rekomendasi-film-horor-indonesia-buktikan-menariknya-mitologi-hantu-hantuan-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">15 Rekomendasi Film Horor Indonesia: Buktikan Menariknya Mitologi Hantu-hantuan di Indonesia<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terbaek!<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":183936,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[3016,1053,20,16289],"class_list":["post-183916","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-danur","tag-film-horor","tag-film-indonesia","tag-ivanna"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183916","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183916"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183916\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183936"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183916"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183916"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183916"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}