{"id":183852,"date":"2022-07-15T11:01:40","date_gmt":"2022-07-15T04:01:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=183852"},"modified":"2022-07-15T11:00:00","modified_gmt":"2022-07-15T04:00:00","slug":"fenomena-pemuda-citayam-kalau-nggak-good-looking-nggak-boleh-banyak-gaya-gitu-kan-maksudnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fenomena-pemuda-citayam-kalau-nggak-good-looking-nggak-boleh-banyak-gaya-gitu-kan-maksudnya\/","title":{"rendered":"Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keadilan-sosial-bagi-seluruh-rakyat-good-looking\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tak menarik<\/a>, atau nyeleneh tapi nggak good looking, sebaiknya nggak usah berekspresi, atau bahkan punya sikap. Setidaknya, itu yang saya pahami dari komentar netizen terkait ekspresi pemuda Citayam di SCBD.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tengok komentar netizen tentang cara berpakaian mereka. Tengok komentar netizen tentang muka-muka pemuda tersebut. Banyak yang tak menyenangkan, dan itu sebenarnya tak mengagetkan. Sebab ya, dari dulu kayak begitu, nggak ada yang berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa, saya nggak bisa memahami kritikan terhadap cara berekspresi pemuda Citayam. Andaikan sense fashion mereka memang nyeleneh dan (mungkin) norak, atau muka dengan baju nggak sinkron, ya terus kenapa gitu lho?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kita bisa melihatnya dengan lebih sederhana: itu cara berekspresi. Selama tak ada hukum yang dilanggar, ya sudah, tak ada masalah. Perkara style mereka nggak sesuai selera kalian, ya nggak apa-apa. Kan selera, subjektif. Kalau mereka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menikmati-hidup-walau-terlahir-nggak-good-looking\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pede<\/a> dan bahagia, ya sudah, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga heran terhadap komen yang mengarah ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/konsultasi\/resah\/tolong-hentikan-body-shaming-itu-nggak-lucu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">body shaming<\/a>. Komen-komen tersebut kok agak nganu ya. Sebegitu bencinya kalian ke orang yang punya cara yang beda dengan kalian?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak bisa memungkiri, banyak orang yang (secara nggak sadar) menganut \u201ckeadilan sosial bagi rakyat good looking\u201d. Selama mereka good looking, mereka akan dimaafkan. Kalau nggak good looking, mau kau menyelamatkan dunia sekalipun, yang akan dibahas adalah kondisi mukamu yang biasa saja itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling baru ya pemuda Citayam itu. Sense fashion mereka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/model-baju-yang-cuma-bagus-dipakai-kaum-good-looking\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dianggap nggak mashok<\/a> ya karena mereka dianggap nggak menarik. Mukanya khas kabupaten lah, bau matahari lah, norak lah, jamet lah dan sebagainya, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal itu cuman cara berekspresi. Cara mereka meraih eksistensi di masa muda mereka. Kenapa muka mereka dibawa-bawa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, coba kita berandai-andai kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-tweet-jefri-nichol-ngapain-marah-marah-kalau-kenyataanya-kita-memang-jelek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jefri Nichol<\/a> bergaya macam anak Citayam. Place your bet, semua orang bakal mengelu-elukan Jefri Nichol. Dia akan disanjung, seakan-akan dialah jangkar perdamaian dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketidakadilan terlihat jelas di sini. Good looking privilege punya peran vital. Kalau masih nggak percaya, saya kasih contoh yang lebih konkret.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun silam, banyak influencer yang mengangkat konsep secondhand fashion sebagai OOTD mereka. Sebagian dari mereka juga masih eksis hingga saat ini, bahkan memperoleh centang biru di Instagram meski saat ini tidak lagi aktif OOTD dengan barang dari flea market. Salah satu yang konsisten dan populer mengkampanyekan sustainable fashion dengan memanfaatkan barang bekas adalah Diana Rikasari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diana yang telah lama berkecimpung dalam dunia fesyen memang merupakan sosok yang kreatif. Tak heran, ia sering diajak berkolaborasi dengan brand ternama hingga memiliki lini bisnis sendiri di industri fashion.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diana Rikasari, secara fisik berpenampilan menarik, plus berpendidikan tinggi. Maka dari itu, orang pasti akan berpikir dua kali untuk mengkritiknya meski selera fashionnya hora umum. Terlebih, pengalaman Diana cukup lama yakni sejak era blogging di awal 2000-an lalu. Sebelum menghujat, orang sudah keder duluan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan apa yang didapat oleh para remaja Citayam. Sama-sama eksentrik dalam bergaya, mereka malahan kerap mendapat sindiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya tau, Diana Rikasari emang punya segudang prestasi dan keunggulan. Jadi, nyacatin dia tentu saja hal bodoh. Tapi, di sinilah problemnya muncul: apa harus berprestasi, good looking, dan punya keunggulan untuk nggak dicacatin? Apakah harus punya wajah rupawan agar opini didengar? Apakah harus punya wajah glowing agar bisa diterima?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa nggak begini aja: bukannya memang sebaiknya manusia diterima, didengarkan, serta tidak dicacatin, terlepas dia punya keunggulan atau tidak? Saya tahu common sense is not so common, but, come on.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andaikata para remaja Citayam yang wara-wiri di Sudirman tersebut good looking, bisa jadi akan berbeda pula opini yang beredar di masyarakat. Sangat mungkin, akan banyak dukungan dan apresiasi yang akan mereka peroleh daripada sekadar caci maki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, fenomena Citayam itu mirip <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Harajuku\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Harajuku,<\/a> yang sempat bikin sedunia gandrung pada beberapa waktu yang lalu. Istilahnya, kita punya Harajuku sendiri. Yang artinya, mata dunia akan melihat kita, dan kita punya kesempatan yang lebih luas. Tapi, alih-alih menjual potensi, kita malah saling jegal gara-gara muka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mungkin nggak bisa lepas dan nggak akan bisa lepas dengan bias good looking ini. Kalau memang buat kalian yang jelek nggak usah banyak gaya, ya gapapa. Bebas. Cuman nih, apakah kalian yakin puas dengan pemikiran medioker kayak gitu?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/universitas-brawijaya-dan-penerapan-keadilan-sosial-bagi-rakyat-good-looking-yang-keblinger\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Brawijaya dan Penerapan Keadilan Sosial bagi Rakyat Good Looking yang Keblinger<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak adil.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":183929,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[16209,1814,16288,1961,5090],"class_list":["post-183852","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-citayam","tag-good-looking","tag-harajuku","tag-jefri-nichol","tag-privilese"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183852"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183852\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183929"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}