{"id":183675,"date":"2022-07-12T12:33:07","date_gmt":"2022-07-12T05:33:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=183675"},"modified":"2022-07-12T12:33:07","modified_gmt":"2022-07-12T05:33:07","slug":"desa-bengkala-di-bali-surga-para-penyandang-tunarungu-dan-tunawicara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-bengkala-di-bali-surga-para-penyandang-tunarungu-dan-tunawicara\/","title":{"rendered":"Desa Bengkala di Bali: Surga Bagi Penyandang Tunarungu dan Tunawicara"},"content":{"rendered":"<p><em>Ini adalah sebuah cerita tentang Desa Bengkala. Sebuah desa di Bali, di mana penyandang tunarungu dan tunawicara hidup bahagia.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam tadi, saya membuka kolom Trending di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketimbang-musicallydown-mending-download-lagu-tiktok-di-youtube-music-atau-bandcamp-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">YouTube<\/a>. Setelah beberapa kali scrolling, saya menemukan video Agung Hapsah yang nangkring di kolom trending nomor 49.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menonton video tersebut sampai selesai. Video milik Agung Hapsah berbicara soal cara efektif untuk belajar Bahasa Inggris. Videonya semacam tutorial itu memang menarik. Namun, perhatian saya justru tertarik oleh sebuah bagian dari video tersebut, yaitu pembahasan soal Desa Bengkala di Bali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, pembahasan soal Desa Bengkala di Bali memang hanya disebutkan di awal video. Namun, meski hanya sebentar, rasa ingin tahu saya berhasil tersentuh. Oleh sebab itu, saya langsung mencari tahu lebih jauh tentang desa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Desa Bengkala adalah salah satu desa yang terletak di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Sekilas, yang terletak di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-ragam-kudapan-alami-orang-pegunungan-yang-patut-dicoba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pegunungan<\/a> ini terlihat biasa saja. Khas desa-desa di Bali yang berada di ketinggian. Terasa sejuk dan menyenangkan. Namun, desa ini punya keunikan yang sangat menarik, yaitu banyak penduduknya penyandang tunarungu dan tunawicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut catatan yang saya baca, penduduk tunarungu dan tunawicara mencapai 2 persen. Cukup banyak, ya. Nah, bagi mereka yang tunarungu disebut dengan sebutan \u201ckolok\u201d. Sementara itu, bagi mereka yang tunawicara disebut dengan sebutan \u201cenget\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya perhatikan, \u201ckolok\u201d dan \u201cenget\u201d ini mendapat tempat yang sewajarnya di tengah masyarakat. Mereka diterima selayaknya dan setara dengan penduduk lain. Mereka hidup berdampingan tanpa diskriminasi. Salah satu buktinya adalah ketika banyak penduduk yang tidak tunarungu dan tunawicara bisa menggunakan bahasa isyarat. Oleh sebab itu, komunikasi di antara SEMUA warga terjalin dengan hangat dan terasa dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, jika berkunjung ke Desa Bengkala di Bali, kalian akan menemui orang-orang yang berbicara dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-alasan-asyiknya-bisa-bahasa-isyarat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa isyarat<\/a>. Satu sama lain saling tertawa ria dan bersenda gurau lantaran bahasa isyarat yang digunakan simpel dan mudah dipahami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa isyarat khas \u201ckolok\u201d diajarkan di Sekolah Luar Biasa di Desa Bengkala. Apalagi, pembelajaran bahasa \u201ckolok\u201d ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mempelajarinya. Hal ini bertujuan agar komunikasi antara warga dapat berjalan dengan baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, bahasa isyarat yang digunakan di Desa Bengkala ini adalah bahasa isyarat turun-temurun dari nenek moyang. Oleh sebab itu, bahasa isyarat di sana mudah untuk dipahami satu sama lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk saat ini, bahasa isyarat yang digunakan sudah bercampur dengan bahasa isyarat Indonesia. Tujuannya agar komunikasi dengan masyarakat luar tetap bisa terjalin. Selain itu, karena semakin banyaknya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-arah-mata-angin-di-jogja-berdasarkan-landmark-untuk-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisatawan<\/a> yang berkunjung ke Bali, khususnya desa ini, bahasa isyarat yang dipakai semakin disederhanakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, makanya, hubungan antara \u201ckolok\u201d dan \u201cenget\u201d dengan warga lain jadi sangat erat. Satu sama lain saling mendukung dan bersinergi. Meskipun memiliki keterbatasan, \u201ckolok\u201d tidak diam berserah diri. Mereka berupaya hidup sebagaimana masyarakat normal pada umumnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rata-rata, baik \u201ckolok\u201d maupun \u201cenget\u201d mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilannya tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain. Sebagaimana masyarakat desa pada umumnya di Bali, masyarakat di Desa Bengkala memiliki profesi sebagai petani, peternakan, pengrajin, dan berbagai produk makanan ringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil kreativitas penduduknya di bidang seni adalah sebuah tarian yang disebut <a href=\"https:\/\/disbud.bulelengkab.go.id\/informasi\/detail\/artikel\/59-janger-kolok#:~:text=Janger%20Kolok%20ini%20didirikan%20pada,ini%20hanya%20menggunakan%20bahasa%20isyarat.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tarian Janger Kolok<\/a>. Tarian ini bahkan sudah dikenal luas hingga mancanegara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gerakan tarian ini tak beda jauh dengan Tarian Janger pada umumnya. Hal yang membuat Tarian Janger Kolok sedikit berbeda dengan Tarian Janger pada umumnya terletak pada penarinya. Penari Tarian Janger Kolok adalah seorang \u201ckolok\u201d atau \u201cenget\u201d. Tarian ini biasanya dipentaskan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Bengkala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa penyebab dari banyaknya penyandang tunarungu dan tunawicara di desa ini karena faktor keturunan. Ada pula yang menyebutkan bahwa penduduk desa ini mendapatkan sebuah kutukan dari dewa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari berbagai faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, saya sangat kagum dengan salah satu desa yang luar biasa di Bali ini. Desa Bengkala, yang warganya tetap hangat meski ada \u201cperbedaan\u201d di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka ikhlas mengusahakan kemajuan desa tanpa mempermasalahkan masalah fisik dan diskriminasi. Mereka tertawa bersama, saling bercanda. Dalam hati kecil saya berkata:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cInilah Indonesia, inilah surga.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rujak-kuah-pindang-kuliner-khas-bali-yang-jarang-dilirik-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rujak Kuah Pindang, Kuliner Khas Bali yang Jarang dilirik Wisatawan<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi pengin piknik ke Buleleng.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":183694,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9507,16251,16252,16253,12042,16254],"class_list":["post-183675","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bali","tag-desa-bengkala","tag-kolok","tag-senget","tag-tunarungu","tag-tunawicara"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183675"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183675\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}