{"id":183250,"date":"2022-07-07T13:34:11","date_gmt":"2022-07-07T06:34:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=183250"},"modified":"2022-07-07T13:36:39","modified_gmt":"2022-07-07T06:36:39","slug":"lagu-galau-era-2000an-untuk-kamu-yang-hatinya-sedang-tertusuk-gundah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-galau-era-2000an-untuk-kamu-yang-hatinya-sedang-tertusuk-gundah\/","title":{"rendered":"Lagu Galau Era 2000an untuk Kamu yang Hatinya Sedang Tertusuk Gundah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua ini berawal ketika saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-dianggap-singapura-nya-indonesia-udah-nggak-pas-maksa-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> yang playlist-nya lagu galau\u00a0 2000an. Mencoba menoleh lagi ke belakang dan saya menyadari bahwa di era 2000-an, acara musik masih ramai di televisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, sebelum YouTube, Spotify, dan kawan-kawannya menjadi \u201cdewa musik\u201d saat ini, MTV dan Klik! sudah menjadi dewa duluan. Lagu cinta dan lagu galau 2000an kebanyakan dikemas dengan melodi yang mendayu-dayu seperti kata Efek Rumah Kaca, berbeda dengan sekarang yang kebanyakan lagunya memiliki melodi bahagia, tetapi liriknya menusuk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukan berarti lagu galau sekarang kalah dengan yang dulu. Banyak juga lagu galau zaman dulu yang masih ngena sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya, generasi muda saat itu lebih sering menghabiskan waktunya mengulik lagu galau daripada menghabiskan waktunya berjam-jam di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-kedai-kopi-jogja-ganti-barista-tiap-3-bulan-demi-cuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kedai kopi<\/a>. Beberapa musisi 2000-an juga ada beberapa yang masih berkarya hingga kini, tetapi ada juga lainnya yang entah bagaimana kabarnya sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyaknya lagu galau 2000an yang sangat membekas, beberapa lagu ini sangat akrab di telinga ketika saya masih menjadi bocah SD ingusan yang belum ngerti apa itu cinta.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tangga &#8211; Terbaik Untukmu<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maafkanlah bila ku selalu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membuatmu marah dan benci padaku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kulakukan itu semua<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya untuk buatmu bahagia<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/knUuDDqrqDo\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu-lagu Tangga memang bolak-balik muncul di acara musik televisi era 2000-an. Namun, lagu \u201cTerbaik Untukmu\u201d ngena banget! Lagu galau ini masih sering saya jumpai diputar di beberapa kedai kopi di Surabaya dan dinyanyikan oleh pemuda-pemudi yang sedang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-rekomendasi-lagu-yang-cocok-untuk-karaokean-di-perjalanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berkaraoke ria<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, hal ini terjadi karena liriknya relate banget sama kondisi percintaan pemuda-pemudi dan mudah dihafal. Namun, lagu-lagu Tangga yang lainnya juga nggak kalah ngena, kok!<\/span><\/p>\n<h4><b>Yovie n Nuno &#8211; Galau<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila cintaku ini salah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila cintaku ini salah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hatiku tetap untukmu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kenyataannya parah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dirimu tak pernah untukku<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/12Fe0cD4ZZc\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat judulnya saja udah bisa ditebak kalau lagu ini lagu galau ultimate. Ditambah setelah membaca liriknya, ternyata lagunya si paling galau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin lagu ini tak seterkenal \u201cJanji Suci\u201d, \u201cDia Milikku\u201d, dan lagu Yovie n Nuno lainnya. Namun, lagu ini selalu gampang banget akrab sama telinga dan tetap ngena hingga kini. Dijamin, meskipun nggak tahu judulnya, pendengar selalu bisa nyanyiin walau hanya satu bait.<\/span><\/p>\n<h4><b>Geisha &#8211; Lumpuhkan Ingatanku<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lumpuhkanlah ingatanku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hapuskan tentang dia<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ku ingin ku lupakannya<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/PQtYfVkvMr4\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah dari kalian generasi 2000an yang nggak kenal Geisha? Band spesialis lagu galau satu ini langganan program musik televisi era 2000an. Tak hanya lagu \u201clumpuhkan Ingatanku\u201d, sederet lagu Geisha lainnya juga sama galaunya seperti, \u201cJika Cinta Dia\u201d, \u201cCinta dan Benci\u201d, dan masih banyak lagi lainnya.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Letto &#8211; Ruang Rindu<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau datang dan pergi, oh, begitu saja<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kut&#8217;rima apa adanya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mata terpejam dan hati menggumam<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di ruang rindu kita bertemu<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/9JS47BC0WXc\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, ketika masih populer yang namanya ringtone, lagu ini sering saya dengar menghiasi nada panggilan orang-orang melalui handphone Nokia-nya. Liriknya yang mendayu dan dikemas dengan melodi sedih sepertinya sudah cukup menggambarkan lagu populer Indonesia era 2000an.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat remaja zaman sekarang yang kecanduan \u201cHati-hati di Jalan\u201d milik Tulus, remaja era 2000an sepertinya kecanduan lagu galau ini. Bahkan, mungkin kalau di tahun 2000an sudah ada TikTok, lagu ini pasti sudah tersedia versi remix-nya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Peterpan &#8211; Semua Tentang Kita<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada cerita tentang aku dan dia<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kita bersama saat dulu kala<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada cerita tentang masa yang indah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kita berduka, saat kita tertawa<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/hhn-nGSuenM\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Remaja era 2000an mana yang tak kenal <a href=\"https:\/\/www.inews.id\/lifestyle\/music\/kenapa-peterpan-ganti-nama-jadi-noah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Peterpan<\/a>? Bahkan lagu ini selalu terdengar mengiringi petikan gitar-gitar ketika pertama kali dibawakan untuk belajar. Peterpan tentu pernah mengalami masa-masa emas dikala namanya menjadi band favorit remaja masa itu. Hingga kini, vokalisnya tetap menjadi idola semua orang, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Itu dia 5 lagu galau 2000an yang masih sering saya dengar. Terutama kalau lagi nongkrong di kedai kopi yang nggak terlalu ramai dan suasananya syahdu. Lagu-lagu tersebut bisa dikatakan tak lekang oleh waktu karena liriknya yang masih relate sama kondisi percintaan remaja zaman sekarang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Vania Safa Nurlita<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-admin\/post.php?post=183250&amp;action=edit\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">15 Lagu Galau Indonesia untuk Temani Hatimu yang Kacau<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semua ini berawal ketika saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di Surabaya yang playlist-nya lagu galau\u00a0 2000an. Mencoba menoleh lagi ke belakang dan saya menyadari bahwa di era 2000-an, acara musik masih ramai di televisi. Iya, sebelum YouTube, Spotify, dan kawan-kawannya menjadi \u201cdewa musik\u201d saat ini, MTV dan Klik! sudah menjadi dewa duluan. Lagu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1884,"featured_media":183316,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[16185,3782,16182,4067,16183,16184],"class_list":["post-183250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-geisha","tag-lagu-galau","tag-lagu-galau-2000-an","tag-peterpan","tag-tangga","tag-yovie-n-nuno"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1884"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183250"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183250\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183316"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}