{"id":183149,"date":"2022-07-06T09:00:26","date_gmt":"2022-07-06T02:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=183149"},"modified":"2022-07-05T22:10:23","modified_gmt":"2022-07-05T15:10:23","slug":"saya-sempat-kegocek-narasi-keliru-kapitan-pattimura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-sempat-kegocek-narasi-keliru-kapitan-pattimura\/","title":{"rendered":"Saya Sempat Kegocek Narasi Keliru Kapitan Pattimura Sebelum Baca Sumber yang Lebih Kredibel"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di linimasa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-alasan-orang-suka-main-twitter\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Twitter<\/a> sedang ramai perbincangan mengenai narasi Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, pahlawan asal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belanda-di-maluku-antara-cinta-dan-benci\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Maluku,<\/a> yang beragama Islam. Ini diawali dari cuplikan ceramah seorang ustaz yang mengatakan bahwa Thomas Matulessy ini sebenarnya beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lusy. Ustaz ini menukil sumber dari sebuah buku berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang mana buku itu sudah mendapat banyak kritikan dari ahli sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sontak narasi ini memulai perdebatan di linimasa. Mulai dari masyarakat awam, pengikut ustaz tersebut, hingga pakar dan ahli sejarah bergumul di linimasa saling mengadu argumennya. Para pakar dan ahli sejarah mengatakan bahwa narasi Thomas Matulessy beragama Islam adalah narasi yang keliru, sembari menyodorkan bukti-bukti yang sangat kuat. Sedangkan para pengikut ustaz dan orang yang percaya akan kebenaran buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membalasnya dengan mengatakan bahwa sumber dari ahli sejarah adalah sumber yang keliru. Sementara itu, masyarakat awam memilih untuk menikmati keributan dan perdebatan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya? Saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-manfaat-merokok-sambil-boker-yang-jarang-diketahui-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">udud<\/a> aja ini, sambil rebahan nyamping. Enak, Lur, coba aja kalau nggak percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, narasi mengenai Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam sudah lama muncul dan sudah sering diperdebatkan. Narasi ini bersumber salah satunya dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, buku yang sebenarnya cukup kontroversial, meski harus diakui isinya cukup menarik. Bahkan sejak belasan tahun lalu, narasi ini sudah berhasil \u201cmenghasut\u201d orang lain untuk percaya, termasuk saya sendiri. Iya, saya adalah salah satu orang yang pernah percaya dengan narasi <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Pattimura\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Thomas Matulessy<\/a> beragama Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceritanya begini. Dulu ketika SMP, saya pernah belajar di sebuah pesantren yang bisa dibilang cukup konservatif. Di pesantren tersebut, ada beberapa pengajar atau ustaz yang tingkat konservatifnya cukup tinggi dan terkesan anti-Barat. Segala sesuatu yang bersumber dari dunia barat, seperti ditolak mentah-mentah dan lebih memilih sumber dari \u201cTimur\u201d atau sumber dari dunia Islam. Tidak terkecuali untuk urusan sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di sinilah pertama kali perkenalan saya dengan buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan narasi Thomas Matulessy beragama Islam dimulai. Salah satu pengajar saya membawa buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan mengenalkannya kepada saya dan teman-teman sekelas saya. Salah satu narasi yang ditekankan kepada kami yang ada di dalam buku tersebut adalah bahwa Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lussy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau juga menambahkan bahwa Thomas Matulessy beragama Nasrani itu adalah narasi buatan Belanda, yang dibuat sengaja untuk memecah belah. Beliau juga menambahkan analogi yang sebenarnya kacau, tapi entah mengapa dulu saya percaya. Analoginya begini: \u201cKalau Thomas Matulessy itu Nasrani, mengapa dia berperang melawan Belanda yang juga Nasrani? Bukannya lebih baik mereka bersatu? Ini adalah akal-akalan Belanda untuk memecah belah umat.\u201d Begitu kurang lebih analoginya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, yang saat itu masih belum paham betul mengenai Kolonialisme, Imperialisme, dan seluk beluknya, percaya saja dengan narasi dari pengajar saya. Apalagi ada embel-embel agama yang dibawa, yang membuat narasi tersebut terkesan sangat kuat dan kredibel bagi anak SMP pesantren berusia belasan tahun seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari pengajar saya dulu itu bahkan jadi buku favorit saya dan teman-teman. Kami meminjam buku tersebut dan pengajar saya mengiyakan dengan senang hati. Buku itu keliling dari satu kamar ke kamar yang lain, dari satu kelas ke kelas yang lain. Buku itu bahkan jadi salah satu sumber diskusi kami, diskusi \u201csok tahu\u201d ala anak SMP, lah. Bahkan sampai lulus SMP pun saya masih memercayai bahwa Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura itu beragama Islam dan bernama asli Ahmad Lussy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya saya lulus SMP dan lulus juga dari pesantren tersebut. Saya masuk ke SMA Negeri (SMK, sih, sebenarnya), dan mulai terbuka akan berbagai macam bacaan, termasuk bacaan sejarah dari berbagai sumber. Saya juga mulai membaca dan memahami apa itu Kolonialisme dan Imperialisme secara lebih mendalam. Saya juga mulai membaca berbagai macam jurnal, hingga buku sejarah, yang mana beberapa di antaranya membantah narasi Thomas Matulessy beragama Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh, bahkan saya juga mulai membaca beberapa argumen bantahan terhadap buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, buku yang dulu ketika SMP di pesantren sangat saya percayai isi dan narasinya. Akhirnya, saya juga tahu bahwa buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Api Sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah buku yang cukup problematis, yang sering mengabaikan sumber-sumber primer sejarah. Perlahan, kepercayaan saya tentang Thomas Matulessy yang beragama Islam luntur perlahan, dikikis oleh sumber-sumber yang lebih kredibel dan lebih dapat dipercaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka ketika narasi Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura beragama Islam kembali muncul di linimasa Twitter dan membuat banyak orang ikut berdebat, saya cuma senyum-senyum saja, sambil membatin heran, \u201cKok saya dulu bisa semudah itu percaya, ya&#8230;\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Iqbal AR<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/gaj-ahmada\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gaj Ahmada dalam Pusaran Tragedi Pertanyaan \u201cKapan Kawin?\u201d<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Duh, hehehe.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":183173,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[78,16164,9255],"class_list":["post-183149","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-agama","tag-kapitan-pattimura","tag-narasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183149","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183149"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183149\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183149"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183149"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183149"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}