{"id":182768,"date":"2022-07-03T14:30:41","date_gmt":"2022-07-03T07:30:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=182768"},"modified":"2022-07-03T13:32:51","modified_gmt":"2022-07-03T06:32:51","slug":"ecobrick-memberi-kesempatan-kedua-pada-sampah-plastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ecobrick-memberi-kesempatan-kedua-pada-sampah-plastik\/","title":{"rendered":"Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik"},"content":{"rendered":"<p><em>Ecobrick adalah salah satu solusi mengurangi efek limbah plastik, sekaligus memberi kesempatan kedua pada sampah-sampah plastik<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buang sampah pada tempatnya atau jangan buang sampah sembarangan merupakan nasihat yang sering kita dengar. Namun untuk saat ini, nasihat itu dirasa kurang relevan, bahkan sudah tidak relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila ditelaah secara lebih radikal, nasihat ini justru manifestasi dari sikap manusia yang hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Ini relevan karena buang sampah pada tempatnya malah menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) apabila tidak ada kesadaran kolektif dalam diri manusia untuk mencoba <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-langkah-untuk-mengurangi-penggunaan-plastik-pribadi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menekan volume sampah yang digunakan<\/a>. Maka dari itu, menurut saya, sampah dan buang, menjadi dua frasa yang sudah tidak semestinya selalu disandingkan dalam satu kalimat perintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu jenis sampah yang punya dampak serius bagi lingkungan dan manusia adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sampah-plastik-hanya-ada-satu-kata-tinggalkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sampah plastik<\/a>. Masih ingat dengan viralnya bungkus Indomie yang tidak terurai maski sudah terombang ambing selama 19 tahun di lautan? Itu baru satu plastik yang naik ke permukaan. Tentunya masih ada plastic-plastik lain yang punya pengalaman terombang-ambing di laut lebih lama dari bungkus Indomie itu. Situasinya akan sangat mengkhawatirkan jika si plastik-plastik ini sampai ditelan oleh hewan-hewan laut seperti Ikan yang biasanya kita konsumsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/pslb3.menlhk.go.id\/portal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan<\/a> menyebutkan bahwa sampah plastik membutuhkan 20 hingga 500 tahun untuk terurai. Plastik macam sedotan es teh yang biasanya ada di warteg atau angkringan, itu paling cepat terurai setelah 20 tahun dibiarkan. Bayangkan bagaimana bumi begitu tersiksa dengan anasir-anasir macam plastik sampai puluhan hingga ratusan tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampah plastik juga tidak boleh dibakar. Ketika membakarnya, tanpa disadari terjadi pelepasan sejumlah zat berbahaya ke udara, seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil, serta partikel lainnya. Zat-zat tersebut sangat rawan untuk tubuh manusia karena bila terpapar secara terus menerus, paparan zat tersebut dapat memicu tumbuhnya sel kanker. Tak hanya itu, hasil pembakaran tentunya mengandung emisi karbon dioksida yang berpotensi untuk menipiskan lapisan ozon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Menyalahkan orang-orang yang menciptakan plastik? Tentu tidak kan. saya sendiri menyadari sepenuhnya bagaimana kehidupan manusia saat ini sulit lepas dari plastik, semua aspek kehidupan manusia saat ini banyak yang membutuhkan plastik, terutama pada kehidupan sosial dan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ecobrick hadir menawarkan solusi dengan memberikan kesempatan kedua bagi sampah plastik untuk lebih dihargai dan bermanfaat. Secara bahasa, \u201ceco\u201d dan \u201cbrick\u201d artinya bata ramah lingkungan. Disebut \u201cbata\u201d karena mulanya, ecobrick dibuat untuk menambah pasokan batu bata untuk pembuatan pondasi rumah. Ide ini dicetuskan oleh Russell Maier yang seorang warga Kanada bersama istrinya, Ani Himawati yang berasal dari Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasangan suami istri ini sangat menyadari bahaya sampah plastik bagi kesehatan dan dampak buruknya terhadap lingkungan. Butuh proses panjang hingga keduanya berhasil menemukan metode paling efektif dan aman untuk mengurangi sampah plastik, yaitu ecobrick.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik dengan standarisasi berupa berat, spesifikasi botol, dan plastik yang sudah diatur oleh badan pengembangan ecobrick dunia, yaitu Gobrick.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membuatnya pun mudah. Kalian tinggal kumpulkan sebanyak mungkin sampah-sampah berbahan plastik seperti bungkus Indomie, snack, kantong plastik, sedotan. Cuci bersih dan keringkan plastik-plastik itu. Kemudian potong kecil-kecil dan masukan ke dalam botol Aqua atau sejenisnya. Tekan sampah plastik ke dalam botol menggunakan kayu bambu atau sejenisnya yang panjangnya berukuran 30 cm. Botol plastik yang digunakan biasanya berukuran 330 &#8211; 1500 ml dan membutuhkan plastik setengah hingga satu karung untuk satu botol. Ini untuk memastikan ecobrick bisa dihasilkan dengan padat dan kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampah-sampah plastik di dalam ecobrick ini akan tersimpan sehingga tidak perlu dibakar, menggunung, atau tertimbun di TPA. Metode ecobrick memungkinkan kita untuk tidak menjadikan plastik menjadi bagian dari industrial recycle system yang dalam prosesnya sangat boros energi. Ecobrick juga menjaga bahan-bahan plastik tersebut untuk tidak melepaskan CO2 yang pada akhirnya akan menyumbang pemanasan global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap botol ecobrick yang sudah jadi dapat digunakan dan disusun sebagai pengganti batu bata untuk pembuatan rumah, sebagai bahan dasar untuk membangun gapura, kursi, bahkan taman. Di beberapa daerah, sudah mulai diinisiasi desa ecobrick dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ecobrick adalah solusi, itu benar, tapi perlu menjadi gerakan nasional, terutama bagi masyarakat perkotaan karena menjadi penyumbang konsumsi plastik terbanyak. Malu dong sama orang desa, yang sudah banyak menginisiasi soal lingkungan padahal bukan menjadi penyumbang sampah plastik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari mulai memberikan kesempatan kedua pada sampah plastik melalui ecobrick. Dengan ecobrick kita memiliki kesempatan untuk mengubah pengorbanan ekosistem dalam mencerna plastik. Kita dapat mengubah plastik menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan ekosistem setempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/galon-sekali-pakai-efektif-tingkatkan-sampah-plastik-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengatasi limbah dengan elegan.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":182771,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[8036,16136,16137,287,286],"class_list":["post-182768","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-ecobrick","tag-kerusakan","tag-limbah","tag-lingkungan","tag-sampah-plastik"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182768","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182768"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182768\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/182771"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182768"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182768"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182768"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}