{"id":182728,"date":"2022-07-02T18:02:06","date_gmt":"2022-07-02T11:02:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=182728"},"modified":"2022-07-03T07:22:27","modified_gmt":"2022-07-03T00:22:27","slug":"esensi-ayam-geprek-dari-sudut-pandang-sejarah-bahasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/esensi-ayam-geprek-dari-sudut-pandang-sejarah-bahasa\/","title":{"rendered":"Ayam Geprek yang Otentik Bisa Dilacak Lewat Sejarah dan Bahasa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam geprek. Kuliner satu ini memang tidak ada matinya. Saya rasa, kamu bisa menemukannya di hampir seluruh kota di Indonesia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai macam inovasi pun muncul mendampingi. Ada yang diberi keju sebagai topping tambahan, ada yang menggunakan berbagai macam sambal, bahkan sampai menjadi salah satu varian mi instan paling populer di Indonesia. Tak heran, menu ini bisa dikatakan sebagai <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-padang-lauk-telur-dadar-comfort-food-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">comfort food<\/span><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">makanan yang paling aman ketika kita bingung pengin makan apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sebagaimana nasib beberapa makanan di Indonesia, kuliner satu ini juga tidak lepas dari perdebatan. Perdebatan mana yang otentik mana yang bukan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0sudah cukup lama terjadi. Ini dikarenakan ada banyak ayam geprek yang disajikan dengan tidak benar-benar digeprek, melainkan hanya dioles sambal atau dipenyet ala kadarnya. Perdebatan ini tak kunjung selesai hingga sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini, unggahan Twitter <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gilang_Bhaskara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gilang Bhaskara<\/a> mengenai Ayam Geprek Bu Rum di Jogja memantik perdebatan lagi. Banyak orang (yang sepertinya dari luar Jogja, atau sebut saja orang ibu kota dan sekitarnya) terkesan kaget dengan cara mengolah dan menyajikan ayam krispi yang ada di Bu Rum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka mempertanyakan cara pembuatan dan penyajiannya yang berbeda dari yang mereka kenal. Asal tahu saja, ayam krispi di Bu Rum itu benar-benar digeprek sampai hancur bersama sambalnya. Anehnya, mereka tidak terima akan hal itu. Perlu kamu ketahui, Bu Rum itu pelopor menu ayam geprek, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada yang salah dari unggahan Gilang Bhaskara di Twitter. Hanya, warganet ibu kota dan sekitarnya (yang kadang sok tahu itu) merasa bahwa apa yang dilakukan Bu Rum itu bukan yang otentik. \u201cKok sampai hancur begitu, sih?\u201d Aneh bener.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan ini disanggah oleh para puritan yang mengatakan bahwa beginilah cara membuat dan menyajikan paling otentik, yaitu dicampur dengan sambal dan digeprek sampai hancur. Saya rasa, \u201cperpecahan\u201d ini akan bertahan cukup lama karena ego manusia dan kemalasan untuk mencari tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, mudah sekali bagi kita memahami esensi dari kuliner ini. Kita bisa memahami dan membedakan mana yang otentik mana yang bukan dari dua aspek, yaitu sejarah dan bahasa.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ayam geprek dari aspek sejarah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sudah sepakat bahwa menu paling otentilk pertama kali muncul dari warung Bu Rum sekitar 2003. Awalnya, Bu Rum menjual makanan seperti soto, sayur, lotek, dan ayam goreng tepung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut kisah yang sudah banyak dicatat dan diberitakan banyak media, ayam geprek muncul karena ada salah satu pelanggan Bu Rum yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">request<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ayam goreng tepungnya dicampur dengan sambal dan diuleg sampai hancur (digeprek). Sejak saat itu, perlahan, menu ini muncul sebagai menu tersendiri dan eksis hingga sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari aspek sejarah ini, kita sebenarnya bisa mengetahui apa sebenarnya esensi kuliner yang sudah dianggap \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-olive-chicken-salon-flaurent-juga-jadi-harta-karun-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khasnya Jogja<\/a>\u201d. Iya, ayam goreng tepung yang digeprek sampai hancur bersama sambal, seperti yang ada di Bu Rum itu yang paling otentik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, apakah ayam goreng yang tidak diuleg atau digeprek sampai hancur tidak bisa dibilang ayam geprek? Ya jelas tidak bisa. Dan jangan sensi pula kalau ada yang protes bahwa ayam geprek itu harus hancur, sebab sejarah awalnya memang begitu. Kamu mau membelokkan sejarah?<\/span><\/p>\n<h4><b>Ayam geprek dari aspek bahasa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mencari di Google arti kata geprek, kalian akan menemukan bahwa \u201cgeprek\u201d artinya adalah \u2018dipukul\u2019, \u2018ditekan\u2019, atau \u2018dilumatkan sampai hancur\u2019. Dari sini saja sudah jelas, bahwa dari aspek bahasa itu artinya ayam goreng tepung yang dipukul, ditekan, atau dilumatkan sampai hancur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sejalan dengan aspek sejarahnya, maka yang otentik dan orisinal ya seperti apa yang ada di Bu Rum dan sejenisnya itu. Digeprek sampai hancur!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedakan juga mana \u201cgeprek\u201d, mana \u201culeg\u201d, mana \u201cpenyet\u201d mana \u201coles\u201d. Kalau ayam yang hanya diuleg sampai tidak hancur, namanya ya ayam uleg atau ayam penyet. Kalau ayam yang hanya dioles sambal di atasnya tanpa diuleg atau ditekan sampai hancur, namanya ya ayam oles atau ayam sambal saja. Paham, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua aspek ini sebenarnya bisa dijadikan dasar kita memahami esensi kuliner ini. Dari bahasa (nama) dan sejarahnya, kita juga bisa tahu mana yang orisinal, mana yang variasinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juga jangan berantem atau berselisih hanya karena perbedaan pemahaman. Kita sudah cukup terpecah dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menguji-validitas-bubur-ayam-palapa-bubur-terenak-sedunia-menurut-cing-abdel-achrian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bubur diaduk dan tidak diaduk<\/a>. Jangan sampai ayam geprek sampai seperti itu. Terima saja bahwa ayam geprek adalah ayam goreng tepung yang digeprek sampai hancur bersama sambalnya. Bukan yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/di-balik-ayam-geprek-bu-rum-ada-kasih-dan-kisah-ibu-yang-mandiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di Balik Ayam Geprek Bu Rum, Ada Kasih dan Kisah Ibu yang Mandiri<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahan baru tapi lama untuk berantem.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":182747,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[9896,16130,16129,16131],"class_list":["post-182728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-ayam-geprek","tag-ayam-penyet","tag-bu-rum","tag-gilang-baskara"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182728\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/182747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}