{"id":182016,"date":"2022-06-30T12:16:26","date_gmt":"2022-06-30T05:16:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=182016"},"modified":"2022-06-30T12:16:26","modified_gmt":"2022-06-30T05:16:26","slug":"orang-malang-dan-bojonegoro-salah-paham-karena-4-kata-lucu-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-malang-dan-bojonegoro-salah-paham-karena-4-kata-lucu-ini\/","title":{"rendered":"Orang Malang dan Bojonegoro Salah Paham karena 4 Kata Lucu Ini"},"content":{"rendered":"<p>Ada apa dengan Malang dan Bojonegoro? Ada kelucuan yang terjadi karena cara pengucapan sebuah kata.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal suku di Indonesia, pasti kita mengetahui bahwa suku Jawa adalah salah satu suku dengan jumlah populasi besar di Indonesia. Seperti nama sukunya, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah Bahasa Jawa. Namun, meskipun sama-sama menggunakan Bahasa Jawa, tidak secara otomatis kosakata di Jawa Tengah dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-destinasi-wisata-di-jawa-timur-yang-sebaiknya-nggak-dikunjungi-sama-pasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a> sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya ketika menyebut kata \u201ckamu\u201d. Orang Solo menyebut dengan \u201ckowe\u201d sedangkan orang Surabaya menyebut dengan kata \u201ckoen\u201d. Itu sama-sama orang Jawa tapi beda provinsi ya..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sesuatu yang menarik terjadi di dua daerah dalam satu provinsi, yaitu Malang dan Bojonegoro. Penulisan kata di sana bisa saja, bahkan sering, sama. Namun, maknanya bisa berbeda jauh. Pengalaman seperti ini pernah saya alami ketika masih tinggal di Bojonegoro.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluarga saya berasal dari Malang, tetapi sudah lama menetap di Bojonegoro. Jadi, dalam komunikasi sehari-hari, saya terbiasa menggunakan dua \u201cbahasa\u201d yang berbeda tergantung siapa lawan bicaranya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, meskipun Malang dan Bojonegoro satu provinsi, saya mencatat setidaknya ada empat kata dengan penulisan sama tetapi maknanya berbeda. Lucu, tapi sering bikin salah paham.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Kojor<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kejadian lucu ketika sepupu saya dari Malang main ke Bojonegoro. Sebut saja namanya Bambang. Sore itu, kami sekeluarga sedang ngobrol-ngobrol sambil makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/varian-olahan-singkong-berikut-patut-kamu-coba-biar-nggak-bosan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">singkong goreng<\/a> di teras rumah. Ibu saya memanggil Bambang yang masih di dalam rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbang, ayo mrene jagongan karo maem kojor. Mumpung isih anget. Mau Bulik sing nggoreng\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Mbang, ayo sini ngobrol bareng-bareng sambil makan kojor. Mumpung masih hangat. Tadi Bulik yang menggoreng).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bambang keluar kamar sambil garuk-garuk kepala layaknya orang kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, kok aku diutus maem kojor ta, Bulik?\u201c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Lho, kok saya disuruh makan kojor sih, Bulik?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha nyapo ta, Mbang? Kowe ora seneng kojor?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Lha kenapa sih, Mbang? Kamu nggak suka kojor?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaem sega isih enak kok malah diutus maem kayu bakar ta?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Makan nasi masih enak kok malah disuruh makan kayu bakar sih?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika kami semua tertawa. Usut punya usut, ternyata, percakapan antara ibu saya dan keponakannya itu nggak nyambung. Ibu saya yang sudah lama di Bojonegoro terbiasa menyebut singkong goreng sebagai kojor sedangkan di Malang, kata \u201ckojor\u201d artinya \u2018kayu bakar\u2019. Jaka sembung lagi minum susu, nggak nyambung bosku.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Tilik<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi terjadi suatu percakapan yang nggak nyambung antara orang Malang dan Bojonegoro. Kali ini si Bambang disuruh ibu saya beli <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mie-sedaap-goreng-ayam-bakar-jeruk-limau-ayam-bakarnya-b-aja-jeruk-limaunya-mayanlah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jeruk<\/a> di pasar. Ibu saya berpesan kepada Bambang agar jangan langsung membeli tapi dicoba dulu apakah rasanya manis atau asam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBu, kula badhe tumbas jeruk. Sekilo pinten, Bu? Legi-legi mboten, Bu?\u201c\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Bu, saya mau beli jeruk. Sekilo berapa, Bu? Manis-manis nggak Bu?\u201d Tanya Bambang kepada ibu penjual buah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekilo limolas ewu, Mas. Jeruk e legi kabeh, Mas.\u201c\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Sekilo lima belas ribu, Mas. Jeruknya manis semua, Mas)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c Kula niliki rumiyin nggih, Bu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Saya mencicipi dulu ya, Bu?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJeruk e ora lara lho, Mas. Nyapo ditiliki?\u201c\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Jeruknya nggak sakit lho, Mas. Kenapa dijenguk?)\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual jeruk keheranan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari percakapan antara Bambang dengan ibu penjual jeruk itu, kita bisa mengetahui adanya kesalahpahaman terhadap suatu kata. Ibu penjual buah yang asli orang Bojonegoro memahami kata \u201ctilik\u201d artinya \u2018menjenguk\u2019 sedangkan versi Bambang yang orang Malang, \u201ctilik\u201d berarti mencicipi atau mencoba merasakan. Nah, salah lagi kan si Bambang.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Mari<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita ini terjadi pada awal-awal perkuliahan saya di Malang. Suatu sore, saya mengerjakan tugas kelompok di rumah seorang teman yang asli Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRud, tugasmu wis mari?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Rud, tugasmu sudah selesai?)\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHah, wis mari? Ana sing lara ta?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Hah, sudah sembuh? Adakah yang sakit?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jadi bingung kan? Kata \u201cmari\u201d yang dimaksud teman saya adalah \u2018selesai\u2019 sedangkan kata \u201cmari\u201d yang saya pahami adalah \u2018sembuh dari sakit\u2019. Ups, saya keceplosan pakai \u201cbahasa Jonegoroan\u201d padahal posisi saya saat itu di Malang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar kata pepatah \u201c<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-5818910\/arti-peribahasa-di-mana-bumi-dipijak-di-situ-langit-dijunjung#:~:text=Salah%20satu%20peribahasa%20yang%20populer,yang%20berlaku%20di%20tempat%20tinggalnya.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.<\/a>\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kejadian itu saya berpikir, bukan salah teman saya kalau nggak ngerti apa yang saya maksud tapi saya, sebagai orang Bojonegoro yang harus menyesuaikan diri di mana saya berada.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Ote-ote<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau cerita pertama tadi saya membahas tentang keponakan ibu, sekarang yang berkunjung ke Bojonegoro adalah bulik saya datang dari Malang. Dia, yang sehari-hari tinggal di daerah dingin, kali ini nggak betah dengan suhu udara di Bojonegoro yang terasa panas banget. Suatu siang, dia bertanya kepada seorang teman yang kebetulan main ke rumah saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKoen mben dina seneng ote-ote ngene iki tah, Le?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Kamu setiap hari suka ote-ote seperti inikah, Nak?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku gak seneng mangan ote-ote, Bulik. Aku luwih seneng mangan tempe goreng.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Aku nggak suka makan ote-ote, Bu Lik. Aku lebih suka makan tempe goreng.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulik berpikir bahwa teman saya tadi mengajak bercanda dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEeh, arek iki. Ditakoni wong tuwa kok malah ngajak guyon\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Eeh, anak ini. Ditanya orang tua kok malah bercanda.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat permasalahan yang muncul, saya berinisiatif menjelaskan kesalahpahaman tadi. Yang dimaksud \u201cote-ote\u201d oleh teman saya adalah \u2018sejenis gorengan\u2019 yang terbuat dari irisan kol dan wortel dicampur dengan adonan tepung. Ote-ote ini di daerah lain lazim disebut <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/resep-membuat-gorengan-kriuk-dan-renyah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakwan<\/a> sayur goreng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Malang, jajanan ini disebut dengan weci atau heci sedangkan di Blora (tempat tinggal saya sekarang) disebut dengan pia-pia. Beda lagi dengan ote-ote versi Malang. Yang dimaksud dengan \u201cote-ote\u201d oleh Bulik saya adalah \u2018bertelanjang dada\u2019. Merujuk pada suhu udara yang panas di Bojonegoro saat itu. Dua kata tersebut bedanya telak kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah empat kata dari Malang dan Bojonegoro yang penulisannya sama tapi mempunyai arti berbeda. Nah, dengan adanya tulisan ini, saya berharap kalian bisa mengambil manfaatnya. Jadi, pas kalian berada di kedua daerah itu nggak sampai terjadi kesalahpahaman dan ujung-ujungnya diketawain orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rudy Tri Hermawan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-tempat-yang-sebaiknya-nggak-dikunjungi-saat-ke-malang-raya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 Tempat yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Saat ke Malang Raya<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah salah paham ini juga terjadi di daerahmu?<\/p>\n","protected":false},"author":1793,"featured_media":182351,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10482,4876,10004,2501,985,16090,8496],"class_list":["post-182016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bakwan","tag-bojonegoro","tag-jawa-tengah","tag-jawa-timur","tag-malang","tag-ote-ote","tag-tilik"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182016"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182016\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/182351"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}