{"id":181586,"date":"2022-06-25T13:00:02","date_gmt":"2022-06-25T06:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=181586"},"modified":"2022-06-25T02:10:20","modified_gmt":"2022-06-24T19:10:20","slug":"4-hal-yang-paling-saya-banggakan-dari-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-paling-saya-banggakan-dari-palembang\/","title":{"rendered":"4 Hal yang Paling Saya Banggakan dari Palembang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel di Terminal Mojok yang berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-bikin-saya-bangga-jadi-warga-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">4 Hal yang Bikin Saya Bangga Jadi Warga Lamongan<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Setelah membaca tulisan yang dibuat oleh M. Afiqul Adib tersebut, saya seketika tertarik untuk menulis tentang kota kelahiran dan domisili saya saat ini, yakni Palembang. Oleh sebab itu, tanpa banyak basa-basi lagi, inilah empat hal yang paling saya banggakan dari kota berjuluk Venesia dari Timur itu.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Jembatan Ampera<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, walaupun kalian belum pernah berkunjung ke Palembang, tetapi setidaknya kalian pernah mendengar nama Jembatan Ampera. Namun, bagi yang sama sekali belum tahu, izinkan saya untuk sedikit menjelaskannya kepada kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Ampera merupakan nama jembatan di Palembang yang terletak di tengah kota dan berfungsi untuk menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini pertama kali dibangun pada bulan April 1962 dan memiliki panjang total 1.117 m. Coba tebak berapa uang yang harus dikeluarkan demi membangun Jembatan Ampera? 4,5 juta dolar AS! Uang segitu kalau dibelikan nasi telur dadar di rumah makan Padang dijamin akan membuat perut kalian kenyang sampai Timnas Indonesia bisa masuk Piala Dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang paling syukuri karena dilahirkan di Palembang adalah saya sudah terbiasa melihat jembatan ini sejak usia saya masih belia. Padahal, banyak sekali turis dari kota-kota lain harus meluangkan waktu dan mengeluarkan uang perjalanan demi bisa singgah sejenak dan berfoto di jembatan tersebut<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Maklum, Ampera memang tak hanya memiliki pemandangan yang indah di atasnya saja, tetapi juga di samping kanan-kirinya. Di sekitar jembatan tersebut, kalian dapat melihat objek wisata lain yang penuh jejak historis dengan panorama yang tak kalah mengagumkannya, seperti Benteng Kuto Besak, Pasar 16 Ilir, dan lain-lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, saya sangat bangga karena kota saya memiliki semacam lambang kota yang begitu ikonik dan termasyhur. Selain itu, Ampera sendiri dinobatkan sebagai jembatan terpanjang kelima di Indonesia, tepat di bawah Jembatan Suramadu, Jembatan Pasupati, Jembatan Siak Tengku Agung Sultanah Latifah, dan Jembatan Merah Putih, Wah, keren banget, bukan? Jadi, kalau kalian suatu hari nanti berkesempatan untuk datang ke Palembang, kalian wajib mesti mampir ke Jembatan Ampera. Titik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TAPI BAUTNYA JANGAN DIAMBILIN!<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Kuliner yang unik<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dijuluki Venesia dari Timur, Kota Palembang juga akrab dengan sebutan \u201cKota Pempek\u201d. Saya pikir, saya tak perlu panjang-lebar menjelaskan tentang hidangan berbahan dasar ikan dan tepung itu. Mayoritas orang pasti sudah tahu dengan pempek adaan, telur, kulit, lenjer, dan sebagainya. Meski begitu, kuliner yang unik dan memiliki kelezatan tak terkira yang ada di Palembang sejatinya bukan cuma itu saja. Masih ada hidangan lain yang tak kalah nikmatnya di lidah, misalnya tekwan, model, mie celor, laksan, dan lain-lain. Jangan lupakan pula kue-kue khasnya seperti kojo, maksuba, wajik, lapis legit, dan Si Paling Ngerepotin, kue delapan jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa saya bilang ngerepotin? Karena sama seperti namanya, proses pembuatan makanan ringan tersebut memang memakan waktu hingga delapan jam! Kalau waktu selama itu digunakan untuk main gim di PS, saya yakin jari kalian akan membengkak dan berujung harus diurut. Itulah mengapa, keunikan-keunikan semacam inilah yang membuat saya bangga dengan kuliner di kota kelahiran saya. Tak hanya menggugah ketika disantap, tetapi juga menggugah untuk diketahui kisah-kisah dan filosofi yang ada di baliknya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Punya LRT<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Jakarta, kota kedua di Indonesia yang memiliki <a href=\"https:\/\/indonesiabaik.id\/infografis\/apa-bedanya-mrt-lrt-dan-krl\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">LRT<\/a> (Light Rail Transit) adalah Palembang. Oleh karena itu, wajar, dong, kalau saya bangga? Berkat kehadiran moda transportasi umum tersebut, kegiatan bepergian saya dapat menjadi lebih mudah dan tentunya, terbebas dari macet. Ya, gimana mau macet, lha wong LRT jalannya di rel sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, jadwal keberangkatan LRT juga tepat waktu dan tidak mengenal kata \u201cterlambat\u201d. Dengan jadwal keberangkatan yang telah tertera jelas di stasiunnya, kita dapat memilih sendiri LRT mana yang akan kita gunakan sesuai dengan keinginan masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, kehadiran LRT di Kota Palembang memberikan banyak manfaat positif yang membuat masyarakatnya sangat terbantu. Maka dari itu, sebagai bentuk terima kasih saya terhadap LRT di Kota Pempek, saya ingin memasukkannya ke dalam daftar hal yang paling saya banggakan dari Palembang.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Banyak Selebritas<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal terakhir yang bikin saya bangga dengan Palembang adalah karena cukup banyaknya selebritas populer tanah air yang merupakan \u201cWong Palembang\u201d (Orang Palembang). Shandy Aulia, Fenita Arie, Putri Titian, Onky Alexander (iya, pemeran Si Boy di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Catatan Si Boy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> versi lawas), Kartika Putri, Arumi Bachsin, Dinda Hauw, dan sang aktor yang pernah tampil di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Star Trek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fast &amp; Furious<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Joe Taslim, merupakan beberapa artis yang mempunyai darah Palembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, saya tidak memiliki hubungan keluarga dengan mereka, bertemu secara langsung saja belum pernah. Akan tetapi, timbul kebanggaan di dalam hati saya ketika melihat orang-orang yang berasal dari daerah yang sama dengan saya bisa sukses dan memiliki \u201cnama\u201d di dunia hiburan tanah air. Semoga saja di masa mendatang saya bisa memiliki kesuksesan yang sama seperti mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah empat hal yang paling saya banggakan dari kota kelahiran saya, Palembang. Pada intinya, saya sangat bersyukur karena ditakdirkan Tuhan untuk menjadi Wong Palembang. Dengan begitu, saya bisa tinggal di sebuah kota yang memiliki banyak keunikan dan ciri khas, baik dari sisi kulinernya, bahasanya, kebudayaannya, maupun masyarakatnya. Terakhir, saya sangat berharap agar Joe Taslim membaca artikel singkat saya ini. Siapa tahu ia kemudian tertarik untuk membawa saya ke dunia Hollywood dan mengajak saya ngapa gitu kek. Ngarep dikit nggak apa-apa kan? Ehe.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-tidak-menyenangkan-jadi-warga-kabupaten-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG FTW!<\/p>\n","protected":false},"author":1696,"featured_media":181674,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16018,16019,7729,7731],"class_list":["post-181586","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jembatan-ampera","tag-lrt","tag-palembang","tag-pempek"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181586","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1696"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181586"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181586\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181674"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181586"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181586"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181586"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}