{"id":181473,"date":"2022-06-26T09:00:02","date_gmt":"2022-06-26T02:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=181473"},"modified":"2022-06-26T00:44:21","modified_gmt":"2022-06-25T17:44:21","slug":"hemat-pangkal-kaya-rajin-pangkal-pandai-masa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hemat-pangkal-kaya-rajin-pangkal-pandai-masa-sih\/","title":{"rendered":"Hemat Pangkal Kaya, Rajin Pangkal Pandai, Masa sih?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin semua orang Indonesia pernah dengar peribahasa \u201chemat pangkal kaya\u201d, terutama saat kita masih bocil-bocil yang doyan jajan di warung. Kadang di sekolah dasar pun tertempel dan tergantung plang-plang kecil yang tertulis kalimat-kalimat sejenis. Bahkan, di buku tulis pun tertulis seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat masih kecil, kalimat itu jadi pedoman hidup saya, didukung oleh propaganda ciamik para guru dan orang tua yang terus berulang di telinga. Tapi ternyata, semakin dewasa semakin saya sadar kalau peribahasa \u201chemat pangkal kaya\u201d ini nggak bener-bener amat, khususnya bagi kaum yang uang bulanannya habis oleh kebutuhan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang punya penghasilan di atas rata-rata atau punya orang tua yang berada mungkin nggak setuju dengan tulisan ini. Lha orang duitnya saja lebih dari kebutuhan, ya otomatis bisa ditabung dan kaya, apalagi bagi kaum yang punya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Deposito\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">deposito<\/a> dengan bunga bombastis. Selamat, Anda termasuk orang yang sangat beruntung. Tapi maaf, tulisan ini target pasarnya bukan Anda, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat orang yang penghasilannya pas-pasan, jangankan menabung, kebutuhan sehari-hari pun kadang nggak cukup. Bisa sih hemat dan menabung, tapi dengan risiko makan cukup dengan satu telor ceplok saja. Kenyang nggak kenyang, yang penting makan. Kalau mau kenyang, bikin porsi nasi yang lebih banyak meski dilawan dengan hanya satu telor ceplok. Walau tidak seimbang, yang penting asam lambung tak berontak sampai ke permukaan otak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, uang yang ditabung pun kadang nggak berakhir sesuai dengan harapan awal, karena serangan kebutuhan mendadak yang sama sekali nggak bisa ditunda. Contohnya kebutuhan-kebutuhan kuliah, iuran, saudara atau teman yang sukses membuat kita meminjamkan uang dengan muka memelasnya, maupun tagihan pinjol atau kosipa. Akhirnya, niat hemat dan menabung untuk jadi kaya terpaksa game over dan di-reset ke titik 0 lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilahnya, mereka rela menderita agar bisa menabung, hanya untuk menderita lagi ketika tabungannya cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan dompet yang berdarah-darah, akhirnya kita bisa hemat dan menabung mencapai target yang diinginkan. Tapi, apakah kita sudah kaya? Nope, masih belum. Kerja kerasmu menabung ratusan purnama tetap tak dapat mengalahkan keberuntungan Rafathar dengan gelimang hartanya. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya sadar, mau seberapa radikal pun kau menghemat, sampai nasi dan kopi kau mengemis pada kawan, variabel keberuntungan tetap jadi satu faktor paling dominan dalam meraih kekayaan. Maka, lewat tulisan ini saya deklarasikan, bahwa hemat itu bukan pangkal kaya, teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi peribahasa familiar yang berbunyi \u201crajin pangkal pandai\u201d. Sebetulnya, kadar penolakan saya terhadap peribahasa yang satu ini lebih rendah daripada \u201chemat pangkal kaya\u201d, karena faktor keberuntungan tak berperan begitu signifikan. Meskipun demikian, tak berarti faktor itu tak berperan sama sekali. Keberuntungan tetap ada walaupun jadi faktor yang paling terakhir disebut, karena orang-orang ingin terlihat dominan sendiri. You know lah, macam orang-orang yang suka pamer kerja keras dan kekayaan tanpa menyebut peran dan relasi orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya masih percaya, dengan rajin dan disiplin latihan seseorang bisa mahir dalam suatu keterampilan, walaupun kadang masih kalah saing sama orang yang berbakat. Orang yang buta nada, dengan latihan yang intens, bisa saja jadi mahir menyanyi, meski kalau daftar Indonesian Idol akan kalah oleh mereka yang punya orang dalam. Ups, maksudnya mereka yang berbakat bernyanyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang dari lahir nggak punya bakat dalam bidang tertentu, mau latihan sekeras apa pun, tetap sulit menyaingi mereka yang punya bakat. Simpelnya, mungkin karena bidang tertentu yang kita tak punya bakat di dalamnya adalah bidang yang tak kita minati, sehingga mau didalami pun udah nggak ada semangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, saya cukup setuju dengan peribahasa \u201crajin pangkal pandai\u201d, asal tetap fokus pada bidang yang kita nikmati. Takutnya, nanti nyesel di akhir, macam kakak-kakak tingkatmu yang udah semester tua tapi bilang salah jurusan, hehehe.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ilham Taufiq<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-kota-indah-yang-sialnya-terjepit-jogja-dan-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Emang bener?<\/p>\n","protected":false},"author":1866,"featured_media":181731,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[210,543,16025,8691],"class_list":["post-181473","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-hemat","tag-kaya","tag-pandai","tag-rajin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1866"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181473"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181473\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}