{"id":181424,"date":"2022-07-03T15:00:36","date_gmt":"2022-07-03T08:00:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=181424"},"modified":"2022-07-03T14:03:58","modified_gmt":"2022-07-03T07:03:58","slug":"melawan-nafsu-merusak-bumi-menggali-makna-ekologis-dari-ayat-al-quran-dan-hadis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melawan-nafsu-merusak-bumi-menggali-makna-ekologis-dari-ayat-al-quran-dan-hadis\/","title":{"rendered":"Melawan Nafsu Merusak Bumi: Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur&#8217;an dan Hadis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membicarakan isu lingkungan, kita kerap menemui istilah rumit dan topik-topik yang amat jauh dari manusia. Kerusakan alam, hal yang harusnya jadi pembicaraan penting tiap manusia, malah jadi dihindari karena isunya dibikin jauh dengan kehidupan manusia. Buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Melawan Nafsu Merusak Bumi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, adalah antitesis hal tersebut. kita akan diajak bicara isu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kita-yang-sedang-menghadapi-krisis-lingkungan-dan-air-bersih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerusakan lingkungan<\/a> lewat sudut pandang agama, yang amat dekat dengan kehidupan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">AS Rosyid membuka buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Melawan Nafsu Merusak Bumi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini dengan pernyataan yang menarik. Ia mengajak kita untuk membuka pikiran dengan mempertanyakan kehalalan daging hewan. Selama ini, dalam Islam kita mengenal bahwa daging hewan yang halal adalah yang disembelih dan dibacakan asma Allah. Namun, benarkah kehalalan daging hewan hanya sebatas syariat pada saat penyembelihannya? Bagaimana jika dalam proses peternakannya hewan tersebut mengalami manipulasi dan eksploitasi? Masihkah hukum halal menyertainya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai pada bagian ini saya mengingat kisah tentang peternakan ayam petelur yang dibesarkan dalam kandang baterei. Seumur hidupnya, ayam hanya berada dalam kandang, tidak bisa menginjak tanah dan hidup bebas. Kita juga diajak mengingat eksploitasi sapi perah. Demi terus memproduksi susu buat manusia, bayi-bayi sapi perah segera dipisah dari induknya sesaat setelah dilahirkan. Mereka nyaris tidak pernah merasakan susu induknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana mungkin kita tega menyakiti spesies lain hanya demi memenuhi keserakahan\u2014bukan lagi kebutuhan\u2014manusia? Akar dari masalah ini tak lain adalah pandangan antroposentrisme. Yaitu memandang manusia sebagai pusat kehidupan. Sementara makhluk lain hanyalah sebagai pelayan dan pemuas buat manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu kegelisahan bagi AS Rosyid manakala ada salah satu kawannya yang muslim menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar. Kawannya tak menganggap bahwa eksploitasi hewan bakal menyakiti hewan. Bahkan kawannya berpendapat memang seperti itulah kodrat hewan, memenuhi kebutuhan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh disayangkan, mengingat sebenarnya Islam adalah agama yang ramah terhadap alam dan hewan. Hal ini dapat kita ketahui dari berbagai peristiwa di zaman Rasulullah saw. Saat berperang, Nabi saw selalu mengimbau kepada para sahabat agar tidak mengorbankan pohon dalam strategi perang. Dari peristiwa ini saja, kita bisa melihat bagaimana cara Nabi saw menghormati pohon sebagai makhluk hidup yang mampu berfotosintesis dan menghasilkan oksigen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam memelihara hewan, Nabi saw juga mencontohkan etika yang baik. Misalnya saja memberi nama untanya dengan Qoshwa. Pemberian nama ini menunjukkan betapa sayangnya Nabi saw kepada untanya. Nabi saw juga menegur sahabat yang mengasah pisau di depan kambing yang akan disembelih. Dari sini tampak sekali bahwa Nabi saw mengajarkan kita untuk turut memperhatikan mental hewan yang akan kita sembelih. Jangan sampai membuat mereka stres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">AS Rosyid mengajak kita untuk berpikir bagaimana pengetahuan dan istilah dalam Islam memiliki makna secara ekologis. Selama ini kita memandang segala istilah yang dikenal Islam adalah semata istilah agama dan pertanggungjawabannya pun hanya sebatas aspek religi. Namun, melalui buku ini, kita diajak mengurai benang kusut di kepala kita. Menyadari pesan ekologi di balik istilah-istilah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saja dari istilah \u201cBumi adalah Masjid\u201d. Lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana dan berbagai peristiwa yang ia sajikan, kita akan memahami bahwa \u201cBumi adalah Masjid\u201d mengandung makna ekologi yang amat dalam. Selama ini saya hanya memahami bahwa artinya sekadar bisa salat di mana saja, Bisa di ruang salat, di kamar, di teras, atau bahkan di tepi trotoar ketika tak menemukan masjid. Tapi, ternyata di balik istilah tersebut terkandung makna yang luar biasa dari istilah \u201cBumi adalah Masjid\u201d. Makna yang tak pernah kita kira sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya lagi tentang makna Khalifah. Allah menciptakan manusia di bumi sebagai khalifah. Makna tersebut rupanya sering sekali diartikan oleh golongan tertentu untuk mewujudkan cita-citanya: membentuk negara dengan sistem kekhalifahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat apa yang diungkapkan oleh Bu Nyai Nur Rofiah. Bahwa Al-Qur&#8217;an itu selalu adil dan benar. Tetapi, Al-Qur&#8217;an akan selalu ditafsirkan oleh manusia untuk mendukung keperluannya masing-masing. Seperti halnya ayat poligami, yang sebenarnya merujuk pada cita-cita Islam yang mewujudkan pernikahan monogami. Bagi orang-orang yang memilih poligami akan menggunakan ayat tersebut untuk mendukung keinginannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makna khalifah menjadi menyempit sekadar sistem kekhilafahan dalam suatu negara. Seperti impian golongan tadi. Akan tetapi sebenarnya istilah ini membawa makna luas. Mengingatkan kita sebagai manusia yang punya tanggung jawab besar terhadap semesta raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">AS Rosyid juga menjabarkan keterlibatan negara dalam hal perusakan lingkungan. Jika negara mendukung korporasi dan sistem kapitalisme, dapat dipastikan akan ada kelestarian lingkungan yang dikorbankan. Apalagi jika dilakukan kriminalisasi terhadap suara perlawanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bagian ketiga dari buku ini, penulis mengajak kita berpikir lebih luas. Penulis mengajak kita berdiskusi tentang beberapa tema menurut sudut pandang Islam yang jarang sekali dibahas oleh para ulama. Namun, AS Rosyid sangat berhati-hati membahas hal ini. Dengan berpatokan kepada fiqih dan syariat yang tak perlu diubah, kita akan diajak menggali makna dari setiap tema yang disajikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu dari tema yang disajikan adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beberapa-hal-yang-tak-perlu-dibicarakan-saat-bicara-soal-childfree\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">childfree.<\/a> Sebuah pilihan hidup yang banyak sekali menerima hujatan dan kontra dari berbagai kalangan. Melalui tulisan inilah, kita akan belajar memahami bahwa hidup tak hanya persoalan benar dan salah. Namun, juga penggalian makna dan niat awal dari pilihan hidup yang kita ambil. Childfree, dikupas tuntas dari sudut pandang agama dan ekologi. Begitu pula tema-tema yang lain yang tak kalah menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca buku ini rasanya seperti diajak berlibur ke suatu pulau yang perairannya jernih dan banyak terumbu karangnya. Kita sudah terpesona sejak perahu berangkat berlayar. Pikiran kita yang suntuk dan ruwet akan tersibak saat melihat birunya air laut. Lalu saat kita bersnorkeling di permukaan lautnya, kita akan semakin terpesona dengan pemandangan terumbu karangnya. Lalu, perlahan kita akan menyelam dan semakin terpesona dengan harta karun yang ada di bawah laut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis mampu menarik tafsir berupa pesan ekologi dari ayat Al Quran maupun Hadist. Suatu kelebihan yang membuat buku ini istimewa. Sekaligus membuat kita ingin segera menuntaskan buku ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti judulnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Melawan Nafsu Merusak Bumi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penulis rasanya berhasil mengajak pembacanya untuk menjinakkan kehendaknya atau nafsu konsumerisme. Setelah membaca buku inipun, pikiran saya jadi lebih terbuka. Setidaknya di level saat ini, saya ingin ikut serta dalam usaha pelestarian bumi. Salah satunya dengan mengurangi gaya hidup konsumerisme, cikal bakal terciptanya jejak limbah yang panjang.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/bukumojok.com\/product\/melawan-nafsu-merusak-bumi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Situs Buku Mojok<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Rezha Rizqy Novitasary<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buku-mereka-sibuk-menghitung-langkah-ayam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Menjelajahi Reportase Beragam Kisah Bersama Cak Rusdi<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukunya bagus banget.<\/p>\n","protected":false},"author":1243,"featured_media":182775,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[16139,13327,16138,10060],"class_list":["post-181424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-as-rosyid","tag-buku-mojok","tag-melawan-nafsu-merusak-bumi","tag-review-buku"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1243"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181424\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/182775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}