{"id":181188,"date":"2022-06-21T08:00:08","date_gmt":"2022-06-21T01:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=181188"},"modified":"2022-06-20T23:18:16","modified_gmt":"2022-06-20T16:18:16","slug":"bandung-memang-indah-syarat-dan-ketentuan-berlaku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandung-memang-indah-syarat-dan-ketentuan-berlaku\/","title":{"rendered":"Bandung Memang Indah (Syarat dan Ketentuan Berlaku)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang, Bandung, sama halnya seperti Yogyakarta sering diromantisisasi oleh banyak orang. Mulai dari orang asing yang menjajah Indonesia, hingga rakyat jelata seperti kita. Sampai-sampai ada ungkapan legendaris, \u201cBumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ungkapan tersebut saat ini dipampang secara jelas di kawasan ikonik Kota Bandung, yakni kawasan Asia Afrika. Buat yang belum tahu, ungkapan tersebut diungkapkan pertama kali oleh Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau akrab dipanggil M.A.W. Brouwer, seorang akademisi asal Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ungkapan serupa kembali diungkap oleh salah satu seniman asal Bandung, Pidi Baiq lewat salah satu lagunya. \u201cDan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi\u201d, yang dipampang berseberangan dengan kalimat M.A.W. Brouwer di kawasan Asia Afrika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggalan kalimat tersebut pun dinyanyikan ulang oleh Danilla Riyadi sebagai soundtrack film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dilan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang semakin mengukuhkan romantisisasi Bandung yang sudah dikenal dunia selama berabad-abad.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era sosial media seperti saat ini, beredar banyak video singkat yang memperlihatkan betapa estetiknya Bandung, terutama sehabis hujan. Banyak orang luar berkomentar, \u201c<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/txtdaribandung\/status\/1475044511315218432\"><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, Bandung estetik ya kalau lagi hujan! Jadi pengin tinggal di Bandung!<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Bandung dari lahir, saya hanya bisa berucap, \u201cBandung memang estetik, MyLov. Tapi, syarat dan ketentuan berlaku!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandung estetik kalau lagi hujan itu hanya berlaku di daerah seperti Braga, Dago, Asia Afrika dan Jalan Riau saja. Pasalnya, daerah tersebut memang rindang dan banyak pepohonan. Banyak sekolah, restoran, hingga kantor pemerintahan maupun kantor swasta yang sudah berdiri di sana sejak masa Kolonial Belanda. Banyak juga rumah peninggalan orang Belanda maupun orang kaya Indonesia yang berdiri di sana. Infrastrukturnya juga mendukung banget. Makanya bisa dibilang estetik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kalau kalian main di daerah seperti Kopo, Mohamad Toha, Cibaduyut, Pasar Kordon, saya jamin lidah kalian tidak akan berujar seperti itu. Malah, kalian akan misuh-misuh mengeluarkan 100 makian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Daerah tersebut sangatlah jauh dari kesan estetik sehabis hujan karena kemacetannya. Bukan hanya macet, daerah tersebut kerap kali diterjang banjir cileuncang, yakni sebuah istilah dalam bahasa Sunda untuk menggambarkan terjadinya genangan air di suatu tempat akibat terhambatnya pembuangan atau aliran air tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau lagi nggak hujan, gimana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat tidak hujan, daerah tersebut memang tidak semacet saat hujan turun. Tapi, bukan berarti estetik karena daerah itu jumlah pepohonan rindangnya tidak sebanyak daerah estetik yang saya sebutkan di atas, jadinya gersang banget. Udah gitu infrastrukturnya dari dulu sampai sekarang nggak ada perubahan sama sekali. Entah apa masalahnya, itu urusan pemerintah, bukan urusan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerarti Bandung semrawut ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, seperti itu, MyLov. Sejak zaman Kolonial Belanda, hanya \u201ckawasan estetik\u201d yang saya sebutkan di atas saja yang enak untuk ditempati. Kurang lebih, \u201ckawasan estetik\u201d memang hanya memiliki berjarak sejauh 5-6 kilometer dari pusat kotanya saja. Sangat mudah dijangkau oleh warga Bandung dengan menggunakan sepeda. Sebagian besar kota di Indonesia saat masa Kolonial Belanda memang seperti ini desainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman saya yang kuliah arsitektur atau planologi pun pernah bilang ke saya, Bandung itu dari awal memang didesain untuk destinasi wisata doang. Nggak cocok jadi kota metropolitan kayak Jakarta. Kalau mau kayak gitu, harus dihancurkan dan dibangun dari nol, tapi kan mustahil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya saat masih maba, tema-teman saya yang dari Jakarta misuh-misuh, \u201cDi Bandung mah pusing naik mobil teh. Dikit-dikit lampu merah! Nggak kayak di Jakarta!\u201d dan saat saya bekerja di Jakarta, saya jadi paham apa yang dimaksud teman-teman saya tersebut. Jalanan Bandung itu kecil-kecil, makanya dikit-dikit ketemu lampu merah. Udah gitu kendaraan bermotornya makin hari makin banyak, makanya macet banget. Sedari awal memang didesain untuk kota wisata doang, makanya jalanannya kecil-kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kolonial Belanda sempat berencana memindahkan ibu kota Hindia Belanda ke Bandung, makanya sempat dibangun kantor pusat kereta api, kantor pusat pemerintahan, hingga kantor pusat Angkatan Darat di Cimahi. Sayangnya, rencana tersebut gagal karena Hindia Belanda keburu berpindah ke tangan Jepang, makanya jadi semrawut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ungkapan \u201cBandung estetik ya kalau lagi hujan!\u201d memang kurang tepat untuk diucapkan. Yang tepat, indah, tapi syarat dan ketentuan berlaku. Hanya \u201ckawasan estetik\u201d yang saya sebutkan di atas saja yang rindang dan sejuk. Yang lainnya mah, nggak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raden Muhammad Wisnu<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-kota-indah-yang-sialnya-terjepit-jogja-dan-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indah, tapi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":168390,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,13986,15970],"class_list":["post-181188","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-braga","tag-keindahan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181188","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181188"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181188\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/168390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}