{"id":181137,"date":"2022-06-20T14:00:26","date_gmt":"2022-06-20T07:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=181137"},"modified":"2022-06-20T13:30:22","modified_gmt":"2022-06-20T06:30:22","slug":"memahami-boikotindosiar-dari-sisi-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-boikotindosiar-dari-sisi-lain\/","title":{"rendered":"Memahami #BoikotIndosiar dari Sisi Lain"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Twitter selalu menjadi tempat yang bagus untuk mencari tema tulisan. Segala gonjang-ganjing di dunia percuitan selalu menggelembung lalu meledak dan membuat semua orang kaget. Setelah gonjang-ganjing PSSI dan Iwan Bule (yang selalu bikin sensasi) beberapa waktu lalu, sejenak tragedi yang menimpa suporter Persib ketika berlaga menghadapi Persebaya membuat semua suporter bersatu, berduka bersama, lalu melupakan rivalitas untuk sekedar saling mengirim ucapan bela sungkawa. Dan sekarang, tagar #BoikotIndosiar mencuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita pahami dulu isunya. <a href=\"https:\/\/twitter.com\/search?q=%23BoikotIndosiar&amp;src=typeahead_click\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tagar<\/a> #BoikotIndosiar adalah buntut dari bututnya tayangan sepak bola oleh kanal Indosiar. Selain itu, penggemar menyayangkan jam tayang Piala Presiden yang dimulai di prime time Pulau Jawa tanpa memperhatikan waktu lain di luar Pulau Jawa. Tidak berhenti di situ saja. Dampak \u201cmain malam\u201d ini tentu saja mempengaruhi jam biologis para pemain dan suporter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para pemain misalnya, sampai di rumah atau tempat menginap menjelang dini hari. Dan ini salah banget. Bayangkan, sepak bola yang awalnya sekedar olahraga dan kesehatan, malah menjadi beban untuk kesehatan itu sendiri. Untuk suporter, pulang malam menjadi hal yang cukup umum sebenarnya, tapi kalo sampe larut juga tetap saja rawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tagar #BoikotIndosiar ini juga akhirnya merembet pada apa yang dilakukan Indosiar dengan hasil tayangannya. Tayangan sepak bola (Piala Presiden) ini sungguh butut sekali. Beberapa kali saya ikut nonton di layar kaca, rasanya kayak menonton televisi yang dipenuhi semut. Ya, ini adalah tayangan sepak bola, bukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Bubur Naik Haji<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, atau film kolosal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Karmapala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan itu ada di Indosiat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, beberapa penggemar membanding-bandingkan tayangan sepak bola Indosiar dengan yang berhasil dilakukan Net TV dan Kompas tujuh tahun silam. TUJUH TAHUN!! Sungguh sebuah degradasi tayangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebenarnya kalo dipikir-pikir, tidak sepenuhnya apa yang terjadi dengan tagar #BoikotIndosiar harus dianggap buruk. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil oleh suporter dan para penonton layar kaca sebelum melayangkan kritik kepada salah satu kanal televisi swasta nasional itu.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">memangnya sejak kapan tayangan televisi (tidak hanya Indosiar) memperhatikan jam tayang untuk daerah lain selain Pulau Jawa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prime time tayangan Indonesia itu sebetulnya adalah prime time Pulau Jawa. Tidak pernah ada kanal televisi nasional yang merasa bahwa orang-orang di Papua misalnya, membutuhkan jam tayang sesuai dengan waktu bangun dan tidur mereka. Itu sudah berlaku sejak berpuluh-puluh tahun lalu sejak jaman Orde Baru. Baru melek sekarang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sekaligus jadi bukti bahwa memang susah untuk membuat hal yang adil untuk semua kalangan dan untuk seluruh kawasan Indonesia. So, memboikot Indosiar saja rasanya tidak cukup.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, memberi beban berat kepada Indosiar. Membuat kualitas gambar mereka jadi bagus itu adalah hal yang cukup berat. Bayangkan, berapa banyak alat (mulai dari kamera sampai dengan peralatan streaming) yang perlu di-upgrade untuk mendapatkan kualitas setara dengan kanal televisi lain, terlebih liga lain di dunia. Itu saja sudah bukan perkara sepele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya bener sih, harusnya mereka peduli dengan kualitas tayangan. Tapi, itu bukan persoalan sepele. Setuju dulu sama saya, pokoknya nggak sepele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saja ekspektasi kita yang kelewat tinggi untuk sekadar mendapat tayangan bagus, tapi murah. Mungkin saja lho ya. Meski kualitas tayangan itu harusnya jadi perhatian utama, sih.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kebiasaan orang Indonesia yang sukanya grudukan. Begini, bukan maksud membela Indosiar ya, tapi tagar boikot ini bisa jadi pisau bermata dua. Iya kalo misal Indosiar mau introspeksi diri lalu memperbaiki (minimal) kualitas tayangan. Kalo nggak? Kan ya suporter dan penonton layar kaca juga yang repot pada akhirnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbok kalo protes itu yang elegan, layangkan surat protes ke Indosiar atau ke lembaga penyiaran atau ke siapa pun yang punya kapasitas atas itu. Kalo ke PSSI sih mending jangan, malah buang-buang tenaga aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, emang kalau pake surat protes itu bakal ngefek? Ya nggak tau juga sih. Elegan dulu yang penting. Apa-apa harus elegan, kritik harus sama solusi, gitu katanya. Kata Orde Baru maksudnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga hal di atas tentu saja bisa jadi pengingat kepada suporter layar kaca sepak bola Indonesia bahwa tidak semua yang jadi bahan sambatan kita itu harus dipenuhi. Kadang kita perlu untuk melihat sisi baik dari gonjang-ganjing tersebut. Terlebih jika itu terjadi di Twitter. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Taufik<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kualitas-tayangan-indosiar-dulu-dan-sekarang-bagai-langit-dan-bumi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kualitas Tayangan Indosiar Dulu dan Sekarang bagai Langit dan Bumi<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak kapan kalian peduli sama luar Jawa?<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":181181,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[9370,2794,15969,6328],"class_list":["post-181137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-boikot","tag-indosiar","tag-kualitas","tag-televisi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181137"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181137\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181181"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}