{"id":180963,"date":"2022-06-19T07:56:56","date_gmt":"2022-06-19T00:56:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=180963"},"modified":"2022-06-19T07:56:56","modified_gmt":"2022-06-19T00:56:56","slug":"beberapa-warmindo-di-pekalongan-bukan-tempat-yang-menyenangkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beberapa-warmindo-di-pekalongan-bukan-tempat-yang-menyenangkan\/","title":{"rendered":"Beberapa Warmindo di Pekalongan Bukan Tempat yang Menyenangkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika masih zamannya aktif di sebuah organisasi mahasiswa, saya sering melawat ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-toko-baju-andalan-para-mahasiswi-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Entah karena pas ada acara, atau ya iseng saja saya ke Jogja. Lantaran saya berstatus sebagai pendatang, untuk urusan makan, saya mencari yang sederhana saja. Yah, pokoknya pas di dompet mahasiswa yang sedang melawat. Oleh sebab itu, warmindo jadi tempat favorit saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yes, kalau lagi di Jogja, saya selalu mencari warmindo. Alasan saya sederhana. Cuma di warmindo yang menurut saya, harganya jelas dan ramah di dompet. Bukan maksud menyebut warung lain nggak enak, tapi jujur begitulah adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, karena uang juga tak seberapa dan di bayangan saya cuma warmindo tempat makan yang harganya jelas tapi nggak terlalu mahal. Singkat kata, saya mendapatkan kesan positif ketika makan di warmindo di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, pulanglah saya ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-sulitnya-meromantisasi-kota-pekalongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pekalongan<\/a>. Di Pekalongan, ya sama seperti di Jogja, tak lepas dari ekspansi warmindo. Sama seperti masifnya warung padang, di sini, ekspansi warung orang-orang dari Kuningan, Jawa Barat itu tak terbendung. Namun, setelah menyambangi beberapa warmindo di Pekalongan, saya menemukan perbedaan yang cukup nyata dibandingkan Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, kehadiran warmindo di Pekalongan membuat saya semringah. Ya, jarang-jarang ada tempat makan murah dan harganya sudah terpampang. Jadi, buat mahasiswa, kamu bisa memperkirakan habis berapa kalau makan di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang saya sebut di atas, perkembangan warmindo di Pekalongan terbilang cepat. Di beberapa sudut keramaian sudah muncul. Ada yang cukup besar di pinggir jalan, ada yang nyempil. Roda ekonomi bergerak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya malah sedih setelah berkunjung dan membandingkan beberapa warmindo di Pekalongan dengan yang di Jogja. Malah, menurut saya, \u201cwarung burjo\u201d di sini hanya brand semata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, beberapa di antaranya justru modelnya seperti kafe. Ini serius. Bukan cuma tampak luarnya saja, dari segi detailnya pun sangat mirip <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-pekalongan-punya-banyak-tempat-nongkrong-seperti-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kafe-kafe modern<\/a>. Ya piringnya, ya gelasnya, sampai bentuk mesin kasirnya. Semuanya mirip. Dan yang parah, harganya pun mirip-mirip kafe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang bikin saya sama sekali nggak akan merekomendasikan warmindo sebagai tempat makan kalau kamu lagi di Pekalongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, karena harganya yang kelewat tidak wajar untuk ukuran \u201cwarung burjo sederhana\u201d. Ini sangat nggak rekomen buat anak muda urban kelas menengah ke bawah. Karena itu pula, warmindo yang identik dengan anak-anak sekolah sirna sudah. Ya, kecuali yang duitnya banyak, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan saja, gaji di Pekalongan yang rata-rata tak sampai Rp90 ribu per hari, harus makan di warung yang harga nasi telurnya tembus Rp15 ribu belum pakai minum. Di Jogja, saya makan nasi telur plus es teh cuma habis Rp12 ribu. Soal rasa, malah lebih enak yang lebih murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, berisik. Kalau berisik orang bercakap-cakap, sih, nggak ada masalah. Tapi suara musiknya itu lho, kencang banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu yang diputar memang lagu-lagu khas kafe. Model top40. Namun, tidak dengan volume musiknya yang, lebih mirip sound system kondangan. Terlalu kencang. Suasana syahdu sederhana jadi hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat yang bilang warmindo di Pekalongan cocok buat nongkrong itu keliru, sih. Nggak semuanya bisa buat nongkrong. Mau ngobrol jadi nggak enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mengira cuma saya saja yang merasa begitu. Tapi, teman-teman saya yang tahu dunia nongkrong Pekalongan juga merasakan hal yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mereka, warmindo di Pekalongan itu tidak sesuai namanya. Namanya saja \u201cwarung\u201d, tapi suasananya nggak ada nuansa warung-warungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, warmindo di Pekalongan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-parkir-di-mal-biar-nggak-gampang-nyasar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">parkirnya bayar<\/a>. Gimana, ya. Soal parkir ini masuk masalah-gampang-gampang-susah. Ya cuma seribu atau dua ribu, tapi kalau muncul tukang parkir di tempat yang tidak semestinya itu agak mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, buat mahasiswa menengah ke bawah, mau makan di luar itu pasti sudah mempertimbangkan add-ons di luar biaya makan. Misalnya, konsumsi bensin sampai uang parkir. Sebisa mungkin, dua hal ini ditekan serendah mungkin. Jangan salah, dua ribu perak bisa buat nambah dua potong tempe dingin yang sudah nggak nikmat tapi bisa membantu mengenyangkan perut, lho. Ini soal survival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mohon maaf sebelumnya, keberadaan tukang parkir di warmindo itu, kalau menurut saya, agak janggal. Terlepas dari mereka juga sedang berusaha mengais rezeki, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat dan ini yang paling penting, banyak orang pacaran di warmindo di Pekalongan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja ini bukan masalah bagi kamu yang sudah mengantongi ayang. Tapi jujur, bagi orang yang menjalani masa jomblonya lebih dari <a href=\"https:\/\/www.rumah.com\/panduan-properti\/pengertian-tenor-adalah-42166\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tenor<\/a> bayar cicilan motor seperti saya, suasana tempat makan seperti itu adalah suasana yang layak dihindari. Itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Arsyad<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-sulitnya-meromantisasi-kota-pekalongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukan tempat yang sama.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":181035,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,4576,2945],"class_list":["post-180963","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-pekalongan","tag-warmindo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180963"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180963\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}