{"id":180656,"date":"2022-06-15T01:00:38","date_gmt":"2022-06-14T18:00:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=180656"},"modified":"2022-06-14T22:30:23","modified_gmt":"2022-06-14T15:30:23","slug":"si-paling-istilah-paling-menyebalkan-abad-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/si-paling-istilah-paling-menyebalkan-abad-ini\/","title":{"rendered":"Si Paling, Istilah Paling Menyebalkan Abad Ini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, lo udah nonton <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Doctor_Strange_in_the_Multiverse_of_Madness\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Doctor Strange<\/em><\/a> sejak hari pertama tayang? Emang dasar Si Paling Marvel.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDia belakangan ini main futsal mulu. Emang beda kalau udah jadi Si Paling Atlet.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebulan ini gue liat-liat lo belajar mulu, deh. Gitu banget ya kalau mau jadi Si Paling Ambis?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan-pernyataan seperti di atas sering sekali kita temukan di kehidupan zaman sekarang, entah dalam lingkup dunia nyata maupun virtual. Istilah \u201csi paling\u201d biasanya digunakan sebagai sebutan untuk seseorang yang tampak sangat menekuni sesuatu dan dilakukan secara konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu sering membuat Instastory tatkala tengah menonton film Marvel sejak hari pertama penayangan, mungkin ada saja followers kamu yang menyebutmu sebagai \u201cSi Paling Marvel\u201d. Lalu jika kamu sedang gemar-gemarnya bermain futsal agar bisa menjadi atlet panutan seperti Harry Maguire, mungkin ada saja orang-orang di pergaulanmu yang menganggapmu sebagai \u201cSi Paling Atlet\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang menurut saya paling aneh tetapi sebetulnya memang pasti terjadi secara nyata adalah ketika ada orang yang menyebut orang lain sebagai \u201cSi Paling Ambis\u201d ketika orang tersebut sedang fokus belajar demi bisa siap menyambut ujian atau hanya sekadar agar dapat menyerap ilmu sebanyak mungkin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya, mengapa, sih, harus segitunya mengurusi kehidupan orang lain dengan memberi label-label semacam itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, jika orang tersebut menonton film Marvel, bermain futsal, ataupun belajar dengan uang mereka sendiri, itu kan mereka lakukan untuk kepentingan pribadi pula. Mengapa kita harus repot dan merasa terganggu dengan aktivitas mereka? Kecuali jika mereka ternyata meminjam uang kita untuk melakukan hal-hal tersebut, barulah kita diizinkan untuk menyebut mereka \u201cSi Paling Ngutang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, ada beberapa hal yang membuat saya menganggap \u201csi paling\u201d sebagai sebuah istilah yang paling annoying. Pertama, hal tersebut dapat membuat seseorang jadi malas untuk menekuni sesuatu yang sesungguhnya sangat mereka sukai. Bisa saja orang tersebut jadi berujung menahan diri agar tidak terlalu tenggelam di dalam hobi hanya karena takut akan dilabeli dengan sebutan-sebutan brengsek semacam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, saya selalu percaya bahwa menekuni hobi dapat menjadi salah satu alasan yang membuat kita jadi lebih bersemangat untuk menjalani hidup. Mengapa? Karena pada dasarnya, hobi adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan secara bahagia meskipun sama sekali tanpa dibayar. Tak percaya? Coba saja tanya sama orang terdekatmu yang merupakan fans klub sepak bola Eropa. Apakah mereka selama ini dibayar jika mesti bangun dini hari hanya untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga? Apakah mereka selama ini dibayar untuk rutin mengikuti berita apa pun yang berkenaan dengan tim tersebut? Tidak, kan? Namun, mereka melakukannya secara ikhlas dan tentunya, bahagia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jika ada di antara kalian yang gemar bikin Instastory saat sedang asyik nonton bareng pertandingan MU, jangan takut untuk dihujat dan disebut \u201cSi Paling MU\u201d. Walaupun, saya juga tak dapat menampik bahwa MU memang merupakan sebuah topik yang menarik untuk dijadikan bahan bully-an. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan kedua mengapa saya bisa beropini seperti itu adalah karena sesungguhnya sebutan \u201csi paling\u201d dapat membuat seseorang jadi tak berani untuk menyampaikan pendapat atau pengetahuan mereka terhadap sesuatu. Sebagai contoh, bayangkan kalian sedang berada di tongkrongan bersama teman-teman. Saat itu, kebetulan suasana sedang senyap sejenak dan tidak ada topik menarik untuk dibahas. Alhasil, kalian jadi tergerak hatinya untuk membahas sesuatu yang kalian sukai, seperti, katakanlah, boyband BTS, sebagai bahan pemecah keheningan. Akan tetapi, begitu kalian mulai bercerita tentang lagu terbaru dari grup musik tersebut, ada seorang teman yang seketika berceletuk, \u201cAh, apa-apa BTS, lu. Dasar si paling BTS,\u201d, kalian pasti akan langsung mengurungkan niat untuk terus bercerita tentang BTS, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal menurut saya pribadi, sejatinya diskusi-diskusi dalam tongkrongan semacam inilah yang dapat menjadi jalan terbaik bagi kita untuk mengetahui apa yang selama ini tidak kita ketahui. Pengetahuan juga tidak harus selalu berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya akademis, tetapi tentang ilmu apa pun yang siapa tahu akan berguna suatu hari nanti. Jika kalian merupakan seorang fans berat Avenged Sevenfold dan band-band Heavy Metal lainnya, maka mungkin kalian merasa wajar jika tidak memerlukan ilmu apa pun tentang K-pop atau BTS. Namun, siapa tahu di masa depan kalian akan memiliki gebetan yang merupakan seorang ARMY, maka hal tersebut bisa menjadi topik pembicaraan dan bahan fafifu wasweswos bersama doi, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, biarkanlah temanmu bercerita tentang hal kesukaan mereka dan jangan melabelinya dengan \u201csi paling blablabla\u201d. Jangan. Hal tersebut tak ada gunanya. Jika mau dianggap sebagai bahan bercanda pun, entah mengapa saya tidak mengerti di mana letak kelucuannya. Sudah garing, annoying pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah tulisan singkat saya mengenai istilah \u201csi paling\u201d yang saat ini sedang ramai digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Saya sangat berharap agar sebutan tersebut dikurangi penggunaannya, karena toh jika mau dianggap sebagai jokes, kok saya nggak ketawa, ya? Akhir kata, izinkan saya untuk mengakhiri artikel ini sampai di sini saja. Maklum, saya takut nanti bakal dibilang \u201cSi Paling Penulis\u201d.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wahai-orangtua-pendidikan-seksual-bukan-tutorial-senggama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wahai Orangtua, Pendidikan Seksual Bukan Tutorial Senggama<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Si paling, si paling pala kau!<\/p>\n","protected":false},"author":1696,"featured_media":180662,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[15923,13142,3170,15922],"class_list":["post-180656","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-annoying","tag-istilah","tag-menyebalkan","tag-si-paling"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180656","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1696"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180656"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180656\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/180662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180656"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180656"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180656"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}