{"id":1806,"date":"2019-05-21T12:00:42","date_gmt":"2019-05-21T05:00:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1806"},"modified":"2021-08-29T22:04:21","modified_gmt":"2021-08-29T15:04:21","slug":"mengenang-kebun-binatang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenang-kebun-binatang\/","title":{"rendered":"Mengenang Kebun Binatang"},"content":{"rendered":"<p>Saya sedang ingin mengenang kebun binatang. Kalau kamu mau ikut, yuk kita lanjutkan. Meluncurlah di atas kenangan dan menceburlah ke kolam ingatan. Biarkan tubuh kita basah dengan cerita yang sudah-sudah.<br \/>\nKebun binatang itu tempat wisata yang menjanjikan waktu liburan. Sebuah dunia lain bagi masa kecil saya yang rumahan. Palingan ya main ke kali atau kebun tetangga. Kalau lagi untung, bisa sampai ladang. Itupun karena mengejar layang-layang.<br \/>\nKetika ibu menjanjikan liburan ke kebun binatang, saya rela puasa jajan. Uangnya ditabung biar bisa beli pakan. <em>Ndulang<\/em> binatang di kandang kan bisa jadi satu kesenangan. Nggak lengkap rasanya kalau belum terlaksana.<br \/>\nDulu, ibu selalu bilang, besok kalau ke kebun binatang, kita bakal ketemu saudaramu. Saya tidak menyangka jika yang dimaksud adalah kera. Pas sudah dewasa, saya membayangkan ibu mempunyai anak seekor kera. Ya nggak mungkin dong yhaaa~<br \/>\nTapi kalau dipikir, logikanya kan seperti ini. Premis pertama, saya adalah anak ibu. Premis kedua, kera adalah saudara saya. Premis ketiga, semua saudara saya adalah anak ibu. Jadi, konklusinya, kera adalah anak ibu juga. Masak iya sih bapak saya seekor kera? Ah, enggak ah.<br \/>\nTernyata maksud ibu itu mengejek saya. Menyamakan saya dengan kera. Kalau dalam bahasa nenek disebut <em>ngilo ning kaca benggala, madakno rupo.<\/em> Duh&#8230; Ibu kok bisa-bisanya selucu itu?<br \/>\nApa ibu nggak geli ya\u2014membayangkan menggendong anak yang ternyata seekor kera? Kalau dalam film-film sih, biasanya langsung kaget\u2014menjerit ketakutan. Melihat kenyataan yang lebih buruk dari angan-angan kan memang menyakitkan. Bisa jadi kalau beneran terjadi, saya ditinggal pergi.<br \/>\nUntung hal-hal menyedihkan di atas hanya imajinasi saya. Meskipun ibu mengejek, toh saya tetap bahagia diajak melihat kera. Saya jadi tahu kalau kera itu banyak macamnya\u2014persis seperti manusia. Ada aja yang mati-matian mempertahankan kedudukan ataupun bucin-bucinan dengan pasangan.<br \/>\nSelain melihat kera, ibu mengajak saya naik unta. Binatang berpunuk dari tanah Arab dan Afrika. Pada waktu itu, unta menjadi binatang tunggangan yang kenamaan. Anak-anak sering antre demi merasakan sensasi digendong binatang.<br \/>\nDulu saya penasaran, kenapa punggung unta tidak rata seperti binatang lainnya? Untuk apa seekor unta memelihara punuk yang terkadang ada dua? Di kebun binatang ini saya mendapat jawabannya.<br \/>\nTernyata unta itu hobinya menyimpan cadangan <del datetime=\"2019-05-20T13:52:46+00:00\">perasaan<\/del> makanan. Tempatnya, ya, di punuknya itu. Kalau cadangan makanannya habis, bisa kempis nggak ya? Apaan sih? Yang kembang-kempis kan cuma cintamu.<br \/>\nDi samping itu, cara unta bertahan dari lapar, haus, dan panasnya gurun pasir, tidak kalah dengan caramu menutupi rasa sakit dan kemudian menyingkir. Kalian berdua memang sangat mahir. Upss~<br \/>\nTapi ketika yang lain berfoto ria nunggang unta, saya tidak ikut serta. Ibu bilang, ingatan kita yang akan merekam. Kertas bergambar itu bisa luntur, tapi ingatan akan tetap subur kalau rutin disiram.<br \/>\nSejak saat itu, saya jadi suka mengunjungi kebun binatang. Biasanya pas lagi sumpek-sumpeknya. Pas malas mikir tugas atau was-was mikir tresno sing ra digagas. Mau cerita ke teman malu, tapi kalau gak cerita jadinya <em>ngelu<\/em>.<br \/>\nKemudian, biasanya saya memutuskan untuk naik Trans Jogja keliling kota dan berhenti di Gembira Loka. Mencari saudara tua yang diceritakan ibu dalam dongengan purba\u2014siapa lagi kalau bukan kera.<br \/>\nSaya bercerita padanya panjang lebar. Dia adalah pendengar yang baik. Tidak pernah memotong cerita saya. Tidak juga mengejek kebucinan saya. Tapi, ternyata cerita saya hanya seperti bunga baginya. Tidak berarti apa-apa.<br \/>\nSaya cukup lega. Setidaknya saya sudah mengatakan semuanya. Setelah itu, tugas saya tinggal menunggu dan menerima, kan? Apa pun respon yang diberikan, saya kira, harus diikhlaskan.<br \/>\nToh tujuan utama saya mengunjungi kebun binatang ini untuk menyiram ingatan tentang ibu. Perempuan yang menanam benih ingatan ini dalam kepalaku. Lebih baik memang saya lanjutkan perjalanan mencari unta dan mengatakan kalau saya rindu padanya.<br \/>\nBukannya sampai di kandang unta, saya malah tiba di ingatan lain. Di tempat yang sama, tapi waktu yang lain. Saya sekarang berada di Gembira Loka bulan Desember yang gerimis.<br \/>\nWaktu itu hampir magrib dan kebun binatang begitu sepi. Beberapa binatang telah menepi. Saya ditemani perempuan dengan kenangan yang sama: kebun binatang adalah tempat wisata keluarga yang menjanjikan di waktu liburan.<br \/>\nBerbeda dengan ibu, bersamanya saya tidak melihat kera dan naik unta. Mata kami memotret kancil-kancil kecil, gajah-gajah besar, sepasang burung pelikan, dan ikan purba yang menyeramkan.<br \/>\nKaki kecil kami mencatat jalan yang terburu dan lari yang tergesa. Kami dirundung kecemasan. Takut terkunci di kebun binatang. Saya membayangkan, seandainya benar-benar bermalam di kebun binatang, apa yang akan kami lakukan? Apa akan seperti kisah Night at The Museum?<br \/>\nSebelum pertanyaan itu terjawab, kami telah sampai di parkiran motor. Seorang tukang parkir gagu sendiri. Ia menunggui motor yang tinggal sebiji.<a href=\"https:\/\/mojok.co\/rus\/ulasan\/otomojok\/modifikasi-motor-honda-astrea-prima-untuk-difabel\/\"> Itulah motor kami<\/a>.<br \/>\nSetelah kami membayar, ia pergi begitu saja. Tanpa berbicara barang sepatah kata. Lalu seolah tak berdosa, kami tertawa sekenanya. Betapa bodoh dan jahatnya~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya sedang ingin mengenang kebun binatang. Kalau kamu mau ikut, yuk kita lanjutkan. Meluncurlah di atas kenangan dan menceburlah ke kolam ingatan. <\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":1838,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13079],"tags":[497,494,495,496],"class_list":["post-1806","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hewani","tag-bucin","tag-kebun-binatang","tag-kenangan","tag-masa-kecil"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1806","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1806"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1806\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1838"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1806"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}