{"id":179718,"date":"2022-06-10T11:00:30","date_gmt":"2022-06-10T04:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=179718"},"modified":"2022-06-10T02:08:52","modified_gmt":"2022-06-09T19:08:52","slug":"4-cara-pengurus-mengatasi-santri-yang-diganggu-makhluk-astral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-cara-pengurus-mengatasi-santri-yang-diganggu-makhluk-astral\/","title":{"rendered":"4 Cara Pengurus Mengatasi Santri yang Diganggu Makhluk Astral"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada, 2015 saya dan istri saya diberi amanah untuk membersamai santri di asrama. Kebetulan, asrama putri sudah lama tidak mempunyai induk semang, begitu kata Pak Direktur menjelaskan kepada kami. Saya mengira membersamai istri yang menjadi kepala asrama putri menjadi pengalaman yang lancar dan menyenangkan. Dugaan saya agak meleset sedikit dengan berbagai peristiwa santriwati yang kerasukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendadak, saya pun menjadi \u201ckiai\u201d yang salehnya nggak ketulungan. Kadang pula saya menjadi dukun dengan seember garam di baskom, menyebarkannya ke sekeliling asrama berharap akan muncul pagar besi yang tak kasat mata. Hmmm. Apakah peristiwa gangguan makhluk astral berhenti? Tentu tidak, lawong saya bukan deep people bagi demit, setan, genderuwo, dsb kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tenang, setelah saya mengobservasi teman-teman yang berada di pesantren lainnya. Saya tidak sendiri mengalaminya. Ada berbagai pengalaman serupa yang dialami juga oleh teman-teman saya di pesantren lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada empat cara pengurus melawan hegemoni makhluk yang licik karena nggak kelihatan ini. Dan entah mengapa kebanyakan peristiwa ini terjadi kepada santri putri.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Mendadak kiai<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam benak para santri, sudah ada SOP tersendiri perkara kesurupan atau berurusan dengan makhluk astral. Ini terlihat dari bagaimana mereka mengatasi fenomena tersebut. Pertolongan pertama pada kerasukan ini biasanya berasal dari apa yang pernah mereka pelajari dari para kiai saat mengaji, atau hasil observasi saat melihat senior mereka mengalami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penanganan standar yang biasa ini mulai dari memencet jempol kaki kiri, membaca azan dan iqamat di kuping mereka, membacakan ayat kursi,dan ayat-ayat ma\u2019tsurat yang lainnya. Tentu, yang terjadi kepada \u201cpasien\u201d mereka ialah meronta-ronta kepanasan atau ada yang tersenyum mengoreksi bacaan mereka, sambil sombong mengatakan, \u201cSaya jin yang sudah hafal Al-Qur\u2019an.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah begini, kita pindah ke langkah selanjutnya.\u00a0 <\/span><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<h4><b>#2 Memanggil para ahli<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada santri yang terkena masalah demikian, yang terjadi adalah kepanikan. Saya melihat asrama menjelma menjadi masjid seketika itu juga. Suasana penuh dengan bacaan istighfar, takbir, tahmid, adzan, hingga bacaan Alquran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ilmu kiai dan dukun saya sudah mentok, yang bisa saya lakukan adalah memanggil orang yang lebih ahli. Sering kali di tangan beliau-beliau ini masalah selesai. Kalau masalah kecil datang sesekali, saya masih sanggup melarikan diri. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi pernah, ding, senior saya ini nggak sanggup mengatasinya, dan saya hanya tersenyum kecut dalam hati. Ternyata, santri tersebut\\hanya pura-pura kesurupan. Aslinya, dia ingin pulang ke rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hash, angel.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Menelpon wali<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tenang, yang saya maksud di atas bukan waliyullah, melainkan wali santri. Bukan kenapa-napa, banyak santri yang pura-pura kesurupan demi banyak tujuan. Bisa istirahat dari kegiatan harian hingga diperbolehkan pulang. Pengurus yang mengetahui gelagat yang tidak baik ini, biasanya langsung memberikan gertakan kepada mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya telpon ayahmu yang untuk menjemput, sekalian kemasi barang-barangmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika, santri yang lagi akting ini langsung berhenti meronta dan mengatakan, \u201cTidaaakkk.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hmmmm \u2026 mendengar kisah ini pun, saya langsung gedek-gedek. Baiklah, ini melampaui ekspektasi saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><b>#4 Mengadakan \u201ccivil war\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jelasin dulu. Ini khusus terjadi gejala kerasukan di kalangan santri putra dan ini sangat jarang terjadi. Sering kali, para santri akan menyembunyikan keadaan ini dari telinga para pengurus. Yang terjadi selanjutnya adalah perkara ini selesai di tangan teman-teman satu kamarnya. Entah bagaimana caranya, yang jelas mirip perang sipil. Pengurus tidak tahu kalau ada perang itu. Tiba-tiba aman, damai, seperti tidak terjadi apa-apa, tapi mukanya pada memar. Nggak, bercanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah empat cara santri mengatasi temannya yang diganggu makhluk astral atau kesurupan. Mungkin unik dan kayak ngibul, tapi inilah yang terjadi apa adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bila ada yang bertanya, mengapa tidak dilakukan bimbingan konseling atau psikolog, saya tanya balik: kalau gejala kerasukan selesai di tangan para psikolog, terus, kami-kami ini ngapain? Hehehe.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Natsir<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-yang-bakal-dihadapi-santri-saat-jadi-alumni\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Culture Shock yang Bakal Dihadapi Santri Saat Jadi Alumni<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baca nih.<\/p>\n","protected":false},"author":1049,"featured_media":178434,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[1327,14044,3301],"class_list":["post-179718","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kesurupan","tag-makhluk-astral","tag-santri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179718","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1049"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=179718"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179718\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=179718"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=179718"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=179718"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}