{"id":178929,"date":"2022-06-01T15:00:32","date_gmt":"2022-06-01T08:00:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=178929"},"modified":"2022-06-01T09:43:40","modified_gmt":"2022-06-01T02:43:40","slug":"10-rekomendasi-drama-korea-dengan-sinematografi-terbaik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-rekomendasi-drama-korea-dengan-sinematografi-terbaik\/","title":{"rendered":"10 Rekomendasi Drama Korea dengan Sinematografi Terbaik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Drama Korea adalah serial televisi yang artinya hanya tampil di layar kaca, bahkan di layar smartphone. Akan tetapi, bukan berarti drama Korea tidak dieksekusi sebaik film layar lebar. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu elemen yang sering diremehkan dari drama Korea adalah sinematografi. Banyak orang berpikir visual drama Korea tidak mungkin menyamai visual layar lebar karena keterbatasan anggaran dan waktu. Namun, ada lho beberapa judul drama yang membantah anggapan tersebut. Berikut ini 10 rekomendasi drama Korea dengan sinematografi terbaik yang bisa kalian tonton.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#1 Our Blues<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Drama karya Noh Hee Kyung yang masih tayang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">on going <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di tvN dan Netflix ini merupakan salah satu drama Korea dengan sinematografi paling kece yang pernah saya lihat. Ketika menonton <em>Our Blues<\/em>, saya selalu membayangkan diri saya sedang duduk di kursi empuk bioskop dan menonton layar lebar. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Our Blues<\/em> dibuat dengan sangat baik. Tim produksi tidak menyia-nyiakan latar Pulau Jeju yang permai dan menyegarkan mata. Setiap <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">shot <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang diambil, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">footage<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">color grading<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di drama ini benar-benar memanjakan mata.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#2 Mr. Sunshine<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari saya membaca sebuah artikel di South China Morning Post bertajuk <em>&#8216;<\/em><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hollywood Cinematography&#8217; on Netflix&#8217;s &#8216;Mr. Sunshine&#8217; makes South Korean TV Drama a Hit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Artikel itu menjelaskan seindah dan semahal apa <em>Mr. Sunshine<\/em> ini. Sinematografi menjadi salah satu elemen yang membuat drama ini menjadi hits dalam semalam. Bahkan, <em>Mr. Sunshine<\/em> juga berani menambah jumlah episode karena popularitasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua episode pertama dari drama akhir pekan yang terdiri dari 24 episode itu mengesankan penonton dengan skala dan sinematografi yang memukau, yang memberi kesan kepada penonton bahwa mereka sedang berada di dalam drama. Drama yang dibintangi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Lee_Byung-hun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lee Byung Hun<\/a> ini adalah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">period drama<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang membutuhkan banyak properti dan set untuk bisa terlihat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">believable<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan bantuan efek visual mahal, <em>Mr. Sunshine<\/em> mampu menyajikan pengalaman sinematik yang luar biasa meski hanya ditonton di layar kaca atau bahkan smartphone. Dengan bujet sebesar 40 miliar won, tidak ada yang tidak mungkin.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#3 Encounter<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekomendasi drama Korea dengan sinematografi terbaik lainnya adalah <em>Encounter<\/em>. Drama yang dibintangi Song Hye Kyo dan Park Bom Gum ini berlatar di Kuba. Para aktor dan staf <em>Encounter<\/em> memilih lokasi dengan sejarah yang dalam, seperti pantai Malecon Havana dan Hotel Nacional de Cuba, untuk lokasi syuting mereka. Selain pemilihan tempat yang tepat, drama ini memang memiliki tone dan camera work yang sangat bagus untuk ukuran romance.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 Our Beloved Summer<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-alasan-our-beloved-summer-wajib-kamu-tonton\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Our Beloved Summer<\/em><\/a> memiliki konsep yang solid. Sebuah paket lengkap yang menawarkan tur sinematik terbaik. Tone warna yang digunakan sangat estetik dan mewah. Terutama di episode 8, kamu akan disuguhi visual lanskap pedesaan yang memanjakan mata. Selain itu, <em>Our Beloved Summer<\/em> juga berani menggunakan warna monokrom (hitam putih) yang jarang digunakan oleh drama Korea pada umumnya. Treatment visual drama ini memang agak berbeda, tapi semuanya berhasil bikin mata adem.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu juga akan disuguhi gambar-gambar bangunan yang dibuat oleh Choi Ung (Choi Woo Shik), musik yang syahdu, dan akting memukau. Satu hal yang mengejutkan adalah drama ini diproduksi oleh rumah produksi yang baru berdiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#5 My Liberation Notes<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ending-my-liberation-notes-kebebasan-memang-layak-diperjuangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>My Liberation Notes<\/em><\/a> baru saja menayangkan episode pamungkasnya hari Minggu lalu. Drama yang ditulis Park Hae Young ini menyuguhkan visual indah Desa Sanpo dan hiruk pikuk Kota Seoul. Pilihan-pilihan shot yang diambil selalu berkesan dan mampu mentransfer emosi karakter kepada penonton. Bahkan ketika kamera bergerak menjauh untuk menyorot lanskap ladang keluarga Yeom pun tetap ada emosi yang bisa saya rasakan. Seolah kehangatan bisa dilihat. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat karakter menghadapi masalah, kamera akan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">close up<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ke wajah karakter, dan itu cukup berhasil menggerakkan hati saya juga. Itu gunanya sinematografi, bukan cuma soal menampilkan pemandangan, melainkan juga menampilkan emosi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#6 D.P.<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netflix tidak pernah membiarkan drama Korea yang mereka produksi gagal. Bagaimanapun, drama Korea menyumbang banyak pelanggan untuk Netflix. Salah satu drama terbaik dari produksi Netflix adalah <em>Deserter Pursuit (D.P.)<\/em>. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping naskah yang kaya, akting yang solid, dan musik yang kece, terdapat sinematografi yang indah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat Yoo Ji Sun sebagai sinematografer, kita bisa merasakan apa yang karakter rasakan lewat pilihan shot dan color grading yang menegaskan kesan suram drama ini. Kalau sinematografinya biasa-biasa saja, tidak mungkin saya ikut nyesek saat nonton <em>D.P<\/em>.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#7 Sweet Home<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studio Dragon dan Studio N bekerja sama dengan Netflix untuk membuat drama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">horror-apocalyptic<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Bagaimana jadinya? Ya, <em>Sweet Home<\/em>. Drama beranggaran 27 juta dolar AS ini memang terlihat sangat mahal. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabarnya drama ini juga menggaet beberapa kru yang berpengalaman dari Hollywood. Monster-monster di dalam drama ini terlihat nyata berkat efek visual yang luar biasa. Namun, di samping itu, drama yang berlatar di sebuah apartemen ini memiliki <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">blocking<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bagus dan pilihan shot dan transisi yang dinamis dan komunikatif. Ketika sedang dalam suasana genting, kita bisa ikut merasakannya, dibantu oleh performa para aktornya yang keren-keren.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#8 Kingdom<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain terkenal karena zombi-zombinya, <em>Kingdom<\/em> juga akan dikenal dengan serial dengan tata produksi dan visual terbaik. AStory dan Netflix jor-joran untuk membuat drama ini terlihat seperti beneran disyuting di zaman Joseon. Beri tepuk tangan juga kepada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berprofesi-menjadi-makeup-artist-nggak-semudah-itu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">makeup artist<\/a> yang membuat mayat-mayat berjalan seperti nyata dan terlihat mengerikan saat disorot kamera. <em>Kingdom<\/em> kabarnya akan punya spin-off lain selain <em>Ashin of The North<\/em> dan saya sangat berharap musim ketiga segera dibuat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#9 Squid Game<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau yang satu ini, kamu tidak mungkin tidak tahu. Serial yang paling banyak ditonton dalam sejarah Netflix ini memang memiliki konsep yang unik dan solid. Tentu saja salah satu bagian terbaik dari <em>Squid Game<\/em> selain permainan-permainan di dalamnya, adalah sinematografi yang memanjakan. Tata produksi yang megah mampu disajikan lewat visual dengan sangat baik. Terutama shot-shot yang diambil di tangga yang melingkar dan berdinding warna-warni. Itu keren banget, sih. Asli.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#10 Snowdrop<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekomendasi drama Korea dengan sinematografi terakhir adalah <em>Snowdrop. Snowdrop<\/em> merupakan drama bikinan JTBC yang paling kelihatan mahal. Mengusung tema 80-an, <em>Snowdrop<\/em> menyuguhkan sinematografi yang bikin orang Korea nostalgia sekaligus menolak lupa apa yang terjadi di tahun-tahun tersebut. Di luar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-drama-korea-yang-problematik-di-paruh-pertama-2022\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kontroversinya<\/a>, <em>Snowdrop<\/em> bukan drama yang murah. Keindahan dan kenahasan drama ini juga dibantu oleh musik yang pas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 10 rekomendasi drama Korea dengan sinematografi terbaik. Dari kesepuluh judul di atas, mana favoritmu? Atau kamu punya judul drama lain yang layak disebut memiliki sinematografi terbaik? Mari berbagi~\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizal Nurhadiansyah<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/haenyeo-para-penyelam-wanita-tangguh-dari-pulau-jeju-yang-muncul-dalam-drakor-our-blues\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Haenyeo, para Penyelam Wanita Tangguh dari Pulau Jeju yang Muncul dalam Drakor Our Blues<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukan berarti drama Korea tidak dieksekusi sebaik film layar lebar.<\/p>\n","protected":false},"author":1693,"featured_media":178931,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[1293,6165,15795],"class_list":["post-178929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-drama-korea","tag-rekomendasi","tag-sinematografi"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1693"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=178929"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178929\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178931"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=178929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=178929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=178929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}