{"id":178883,"date":"2022-06-02T13:58:16","date_gmt":"2022-06-02T06:58:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=178883"},"modified":"2022-06-02T10:12:16","modified_gmt":"2022-06-02T03:12:16","slug":"kenapa-orang-indonesia-suka-tanya-kapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-orang-indonesia-suka-tanya-kapan\/","title":{"rendered":"Kenapa Orang Indonesia Suka Tanya Kapan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah ditanya &#8220;kapan&#8221; dengan nada yang menyebalkan sama orang Indonesia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapan nikah? Kapan lulus? Kapan punya anak? Kapan kerja? Kapan punya mobil dan rumah? Kapan meninggoy? Kemudian yang ditanya akan merasa privasinya diubek-ubek, dikepoin, dipojokkan, disindir, dan lain-lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau punya rencana nikah, punya pasangan, nggak baru <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perselingkuhan-karyawan-di-kantor-itu-terlalu-nekat-dan-bikin-repot-hrd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">diselingkuhin<\/a> atau ditinggalin sama pasangan, pertanyaan kapan nikah bukan masalah yang besar. Kalau lulus tepat waktu dan nggak ada masalah sama dosen dan administrasi, atau yang lain sebagainya, pertanyaan kapan lulus bisa dijawab dengan mudah. Orang Indonesia ini suka ribet, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau punya skill, network, dana dan kesempatan, nggak akan kikuk kok kalau ditanya kapan kerja. Nah, kelihatan kan masalahnya di mana. Masalahnya akan selesai kalau ikut aturan komunitas, yakni aturan masyarakat orang-orang terbijak dari Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aturannya mudah, yakni harus memiliki kesamaan dengan kebanyakan orang Indonesia. Kalau orang nikah umur 20 tahun, maka untuk menghindar dari pertanyaan kapan nikah, menikahlah di usia 19 tahun ke bawah. Makin muda makin seru. Apalagi dinikahkan sama duda buyut. Kan di Indonesia ini, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alternatif-kegiatan-buat-syekh-puji-ketimbang-menikahi-anak-di-bawah-umur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nikah di bawah umur<\/a> masih marak terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghindari pertanyaan kapan punya anak, lihatlah sekeliling. Orang-orang yang nggak ditanyain kapan punya anak adalah mereka yang hamil setelah sebulan menikah atau maksimal tiga bulan. Nah, masalahnya banyak yang nggak mau mengikuti aturan yang sudah ditetapkan masyarakat Indonesia. Padahal ini namanya investasi. Istilahnya \u201cnabung\u201d dulu. Kan pangkal kaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, kenapa masyarakat Indonesia suka banget nanya &#8220;kapan?\u201d Karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makna-padi-dan-kapas-di-setiap-logo-institusi-pemerintah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">padi<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Masyarakat Indonesia memegang erat budaya padi, sedangkan masyarakat Eropa memegang budaya gandum.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apaan maksudnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bertani padi, sawah masyarakat satu sama lain itu berdekatan. Sehingga, masyarakat akan cenderung melakukan gotong-royong dan tingkat solidaritasnya tinggi. Jadi, intinya, di dalam komunitas padi, kepentingan kelompok lebih berarti daripada kepentingan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, komunitas gandum sebaliknya. Lahan gandum di Eropa sangat luas dan bisa dikendalikan oleh satu orang saja. Oleh sebab itu, rumah penduduk saling berjauhan. Mau tidak mau, masyarakat menjadi lebih mandiri, tidak saling sapa, dan saling tegur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, tercipta masyarakat yang mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan kelompok. Teori yang luar biasa\u2026 aneh. Siapa yang bikin teori di atas? Ya siapa lagi kalau bukan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, hubungannya apa sama pertanyaan kapan nikah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya karena masyarakat Indonesia memiliki solidaritas yang kuat. Urusan pribadi itu bisa dianggap urusan bersama. Makanya, sebagai satu kesatuan yang utuh, dianggap aneh kalau ada salah satu bagian yang tidak diketahui bagian lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu sebabnya masyarakat kecewa ketika tiba-tiba <a href=\"https:\/\/www.kapanlagi.com\/foto\/berita-foto\/indonesia\/masih-bikin-penasaran-netizen-11-momen-resepsi-maudy-ayunda-dan-jesse-choi-yang-baru-terungkap-keluarkan-semua-kak.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Maudy Ayunda<\/a> mengumumkan pernikahannya tanpa mengabari kapan dia\u00a0 berpacaran, dilamar, dengan siapa, bagaimana persiapannya, wetonnya apa, komentar Lesti Kejora kayak apa, dan lain sebagainya. Kita haus privasi orang!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan basa-basi yang sangat Indonesia jadi satu pertimbangan masyarakat untuk memperkuat kekerabatannya. Ya, kali udah lama nggak ketemu, masak nggak ngobrol? Nggak Indonesia banget. Di kendaraan umum, baru ketemu saja sudah saling sapa &#8220;Mau ke mana, Dek?&#8221; Apalagi sama keponakan dan tetangga sendiri. Masa nggak nanya nanya sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus kenapa pertanyaannya harus kapan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena pertanyaan lain seperti di mana? Siapa? Apa? Itu sudah sering diperbincangkan saat bergosip, terutama ketika seseorang yang ditanya itu tidak bersama rombongan. Makanya, habiskan waktumu dengan bergunjing. Jadi orang itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mbok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ada partisipasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, pertanyaan mengapa dan bagaimana itu akan memerlukan waktu panjang untuk mendapatkan jawaban. Padahal, orang Indonesia menyukai basa-basi, yang mana basa-basi itu bukan suatu penjabaran. Lebih kepada, daripada nggak mengeluarkan suara dari mulut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, alternatif terbaiknya adalah pertanyaan \u201ckapan\u201d tetap akrab dan tidak ribet karena panjang lebarnya. Karena mereka nggak tahu betul sebenarnya apa yang dirasakan dan inginkan. Memang benar, solidaritas itu penting, tapi kekurangan dari kepentingan bersama ini menjadi bumerang bagi kepentingan pribadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Indonesia jadi acuh terhadap urusan pribadi. Makanya, lahir statement &#8220;gitu aja baper&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, perlu disadari bahwa setiap budaya yang dipegang akan selalu menyelip kelebihan dan kekurangan. Dan semua itu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Hore.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurlaeli Rohmah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/2-kelemahan-daihatsu-sigra-yang-harus-diketahui-sebelum-membelinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">2 Kelemahan Daihatsu Sigra yang Harus Diketahui Sebelum Membelinya<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapan meninggoy?<\/p>\n","protected":false},"author":1844,"featured_media":179034,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[31,567,15799,1236],"class_list":["post-178883","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia","tag-kapan-nikah","tag-kapan-punya-anak","tag-orang-indonesia"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178883","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1844"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=178883"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178883\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/179034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=178883"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=178883"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=178883"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}