{"id":177978,"date":"2022-05-22T09:00:26","date_gmt":"2022-05-22T02:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=177978"},"modified":"2022-05-22T01:04:56","modified_gmt":"2022-05-21T18:04:56","slug":"kamagasaki-kota-yang-dihapus-dari-peta-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kamagasaki-kota-yang-dihapus-dari-peta-jepang\/","title":{"rendered":"Kamagasaki, Kota yang &#8216;Dihapus&#8217; dari Peta Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gara-gara menulis tentang sisi gelap Jepang kemarin, saya jadi tertarik mencari tahu lagi tentang kota Kamagasaki. Benarkah kota tersebut dihapus dari peta Jepang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mencoba mencari kota Kamagasaki (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u91dc\u30f6\u5d0e<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) di Google Maps, ternyata masih ada, kok. Letaknya ada di dekat Stasiun Shin-imamiya dan Kebun Binatang Osaka. Meskipun saya belum pernah ke sana, sewaktu di Jepang saya juga pernah mendengarnya, kok. Sebenarnya jaraknya pun hanya 45 menit dari tempat tinggal saya dulu, tetapi kalaupun ke sana tanpa tujuan dan hanya untuk \u201clihat-lihat\u201d atau sekadar \u201cnge-vlog\u201d juga nggak etis, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimanapun juga, Kamagasaki memang pernah menjadi \u201ccerita kelam\u201d bagi Jepang. Bagaimana sejarahnya dulu? Lantas, bagaimana keadaannya sekarang?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177991\" aria-describedby=\"caption-attachment-177991\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177991\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Tunawisma-di-Shinjuku-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Tunawisma-di-Shinjuku-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Tunawisma-di-Shinjuku-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Tunawisma-di-Shinjuku-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Tunawisma-di-Shinjuku-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177991\" class=\"wp-caption-text\">Tunawisma di Shinjuku (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>Sejarah Kamagasaki<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama kota Kamagasaki dan Nishinari merupakan nama yang tak asing bagi para pekerja buruh lepas harian Jepang pada awal 1960-an. Saat itu Jepang mengalami kejayaan ekonomi pasca-kekalahannya pada Perang Dunia II. Meski mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, ada sekitar 1,7 juta warga Jepang yang masuk kategori miskin. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat itulah, kota Kamagasaki menjadi tujuan warga Jepang yang ingin bekerja dan mendapat uang dengan cepat demi bisa bertahan hidup. Meski datang dari seluruh negara Jepang, mereka nantinya akan bekerja di wilayah Osaka, Kyoto, dan Kobe yang menjadi kota maju di Jepang Barat. Mereka dimanfaatkan sebagai tenaga kasar dalam pembangunan infrastruktur di kota-kota itu. Setidaknya ada sekitar 5.000 pekerja harian yang setiap pagi mengantri agar mendapat pekerjaan pada hari itu juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta yang paling menyedihkan dari fenomena pekerja lepas harian ini adalah upah mereka sangat kecil (450-509 yen per hari) sehingga tidak cukup untuk mencari tempat tinggal yang layak. Padahal mereka datang ke Kamagasaki hanya untuk mencari uang, lalu bagaimana mereka tidur?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memenuhi kebutuhan penginapan inilah, muncul fenomena rumah gubuk semi permanen di Kamagasaki yang disebut doya. Biaya menginap per malamnya hanya sekitar 30 yen saja, lho. Fasilitas tentu saja seadanya, bahkan tidurnya empet-empetan dengan yang lain. Harganya berbeda tergantung jenis tempat tidurnya. Paling mahal 200 yen semalam dengan fasilitas tidur sendiri dalam satu kamar dan mendapat kasur yang layak. Bayangkan kalau upah 450 yen, dipakai menginap 200 yen, sementara makan dan transportasinya belum, bagaimana harus mengirim uang ke keluarganya? Menyedihkan ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran jumlah pekerja harian ini ribuan dan mereka datang pergi sampai tak terdaftar secara administrasi kependudukan. Angka kemiskinan di Kamagasaki pun menjadi tinggi dan akhirnya terkenal sebagai tempat yang kumuh dan semrawut dengan doya-doya yang berjejer.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177992\" aria-describedby=\"caption-attachment-177992\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177992\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Potret-kehidupan-tunawisma-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Potret-kehidupan-tunawisma-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Potret-kehidupan-tunawisma-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Potret-kehidupan-tunawisma-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Potret-kehidupan-tunawisma-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177992\" class=\"wp-caption-text\">Potret kehidupan tunawisma (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada gap antara yang pekerja harian dan gelandangan yang tinggal di Kamagasaki sehingga menyebabkan benturan kepentingan dan kerusuhan. Kerusuhan pekerja harian lepas Kamagasaki pertama kali terjadi pada tanggal 1 Agustus 1960. Mereka tidak terima temannya mati akibat kecelakaan lalu lintas tetapi polisi tidak segera menolongnya. Akhirnya, ribuan polisi didatangkan ke Kamagasaki untuk mengamankan kerusuhan ini. Sejumlah 771 orang mengalami luka-luka dan akhirnya ratusan orang diamankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, setidaknya ada 24 kerusuhan besar yang terjadi di Kamagasaki. Berita tentang banyaknya kerusuhan, tingginya tingkat kriminalitas dan kemiskinan di Kamagasaki terdengar juga sampai ke pemerintah pusat. Akhirnya pada 1966, pemerintah Jepang mengganti nama Kamagasaki ini menjadi Airin-chiku (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u3042\u3044\u308a\u3093\u5730\u533a<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<h4><b>Airin-chiku, nama baru untuk Kamagasaki<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengubah nama kota menjadi Airin-chiku tak serta merta mengubah keadaan di wilayah tersebut. Image kumuh dan miskin masih ada sampai beberapa tahun setelahnya, bahkan sampai sekarang. Padahal nama Airin berasal dari huruf <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u611b\u96a3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang artinya \u201cdicintai\u201d, sehingga Airin-chiku bisa diartikan \u201cdistrik yang dicintai\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai hari ini pun, kalau dilihat dari google map yang terbaru, gedung Airin Labor and Welfare Center masih terasa \u201ckelam\u201d. Meski bersih karena tak ada satu pun sampah, masih banyak ojiisan (kakek) yang duduk atau tiduran di lantai. Pemandangan seperti ini hampir tak ada di gedung Jepang pada umumnya. Pekerja kerja harian lepas memang bebas beraktivitas di gedung ini selama jam kerja. Ada kamar mandi dan toilet umum yang bisa dipakai. Namun, katanya jumlah pekerja harian ini semakin berkurang, lho. Hal ini disebabkan oleh pekerja yang mulai menua dan anak muda sekarang pun hampir tidak ada lagi yang mau seperti mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi yang khas dengan gedung atau kawasan Kamagasaki (Airin-chiku) yang masih terlihat sampai sekarang adalah banyaknya tunawisma yang &#8220;tinggal&#8221; atau tidur di wilayah itu. Mereka biasanya bersepeda dengan banyak kresek dan kadang tercium aroma tidak enak karena mungkin jarang mandi atau tidur di tempat yang tidak bersih. Kalau hampir semua tunawisma parkir sepedanya di gedung Airin Labor tersebut, pemandangannya akan menjadi tidak asyik, kan?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177989\" aria-describedby=\"caption-attachment-177989\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177989\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Realitas-tunawisma-Jepang-Milkovasa-via-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Realitas-tunawisma-Jepang-Milkovasa-via-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Realitas-tunawisma-Jepang-Milkovasa-via-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Realitas-tunawisma-Jepang-Milkovasa-via-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Realitas-tunawisma-Jepang-Milkovasa-via-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177989\" class=\"wp-caption-text\">Realitas tunawisma Jepang (Milkovasa via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Jepang tentunya sudah berusaha untuk membantu para tunawisma ini. Di dalam gedung Airin Labor juga banyak tulisan imbauan agar para pekerja lepas mau mendaftarkan diri secara administratif kependudukan dan mendaftar asuransi kesehatan maupun pensiun. Ada juga lembaga swadaya masyarakat yang ikut menjadi sukarelawan menolong mereka agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, sekali lagi, kalau kakek sendirian sebatang kara pasti menyedihkan sekali, ya. Ingin bekerja sekalipun, bisa jadi tenaganya sudah tidak laku lagi. Banyak akhirnya yang hanya menghabiskan harinya tanpa melakukan apa pun di gedung tersebut. Sedih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti itulah kira-kira gambaran tentang kota Kamagasaki. Bukan dihapus, kok, hanya diganti namanya agar citra kelamnya tergantikan. Namun, tetap saja menyisakan kekelaman yang masih terasa sampai sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Primasari N Dewi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-starbucks-di-jepang-dan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perbedaan Starbucks di Jepang dan Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benarkah kota ini dihapus dari peta Jepang?<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":177990,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[1213,15721,790,15722],"class_list":["post-177978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-jepang","tag-kamagasaki","tag-kemiskinan","tag-tunawisma"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177978"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177978\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/177990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}